
Makam malam kali inj terasa nikmat, dengan diiringi sebuah alunan musik yang tersedia di dalam kafe yang menjadi pilihan Juna. Meski perasaan Ira terasa sebal bukan main, namun mau tak mau, ira hanyut juga dalam suasana.
Bukan karena tempatnya yang membuat Ira tak suka, melainkan menu makanan yang tidak cocok di lidahnya. Alhasil, Ira hanya memakan setengah porsi dari menu yang Juna pesankan untuknya.
"Kenapa nggak dihabiskan?" tanya Juna kemudian.
"Ira, udah kenyang." jawab Ira untuk mencegah agar Arjuna tak tersinggung.
"Mau berangkat sekarang?" tanya Juna lagi, yang makanannya sudah tandas.
"Boleh." jawab Ira.
Keduanya lantas keluar, menaiki mobil dan segera pergi menuju tempat tujuan. Tak lama, mereka sampai, melihat Aryo dan Rehan sudah menunggu disana. Ini adalah pertemuan pertama Ira dengan dua sahabat suaminya, selama pernikahannya dengan Arjuna. Bahkan saat resepsi beberapa bulan lalu, Ira seperti tak melihat keduanya karena terlalu ramainya tamu. Ira hanya tidak sadar waktu itu.
Ira merasa kikuk dan canggung. Wanita itu hanya bisa menunduk, dan tak berani menatap dua lelaki di depannya secara langsung.
"Hai, Ira. Apa kabar?" Tanya Rehan dengan ramah. Begitu juga dengan Aryo yang ikut tersenyum.
Dulu Aryo pikir, Ira bukanlah gadis yang pantas untuk Juna. Namun setelah melihat sendiri bagaimana liciknya Keysha, Aryo jadi sadar, bahwa kelas Ira jauh lebih tinggi dibandingkan Keysha yang Juna banggakan.
"Baik, kak." Jawab Ira.
"Jadi, ini rumahnya?" Tanya Juna. Matanya memutar mengitari halaman depan yang tampak asri.
Rumah bercat putih dipadu dengan cat coklat tua pada setiap kusen jendela, membuat Ira berdecak kagum. Meski tampak sederhana, namun nyatanya rumah ini cukup membuat Ira takjub.
"Kita lihat-lihat ke dalam?" tanya Juna yang diangguki oleh Ira.
"Boleh." Jawab Ira sambil mengekor di belakang Juna. Hingga lumayan lama Ira melihat-lihat desain interiornya, Juna lantas mengajak Ira untuk pulang.
Sepanjang perjalanan, Ira hanya diam, memikirkan banyak kemungkinan yang bisa saja terjadi bila ia telah tinggal hanya berdua dengan suaminya. Tanpa ningsih, juga tanpa Iskandar.
"Kamu mikirin apa, Ra?" Tanya Juna kemudian. Lelaki itu merasa aneh pada dirinya sendiri, yang tak nyaman melihat diamnya Ira sejak tadi.
"Nggak ada. Cuman pengen diem aja, mas." Jawab Ira.
__ADS_1
"Jangan bohong, aku tau kalau kamu lagi mikirin sesuatu. Apa kamu mau beli sesuatu? Atau gimana?" Tanya Juna kemudian.
"Ira nggak pengen sesuatu, maunya langsung pulang."
"Kenapa langsung pulang? Nggak pengen jalan-jalan dulu?"
"Ira capek, kangen bantal langsung tidur."
"Kangen bantal tidur, atau kangen teman tidurnya?" Tanya Juna, membuat pipi Ira bersemu merah. Lelaki itu benar-benar bisa melihat dengan jelas, Ira yang sedang malu-malu.
"Ogah!" Ungkap Ira. Dua kali menjalankan ritual suami istri diatas ranjang, membuat Ira masih malu-malu.
"Ya udah, kita pulang." Timpal Juna kemudian. Senyum simpul tersungging di bibirnya yang menawan. Sungguh luar biasa, ia baru menyadari bahwa Ira sangat manis saat tersenyum malu-malu begini.
Setibanya di rumah, Ira segera berganti piyama tidur, mencuci wajahnya dan merebahkan tubuhnya di ranjang. Melihat Juna, membuat Ira salah tingkah sendiri. Tentunya Juna merasa gemas sendiri.
"Ra, jangan tidur dulu. Ayo kita ngobrol sebentar." Pinta Juna yang sejak tadi hanya diam memperhatikan Ira.
Ira yang baru saja merebahkan tubuhnya, segera bangkit dan duduk. Wanita itu terpaksa harus turun dari ranjang, dan menghampiri suaminya yang duduk di sofa. Sebenarnya, Ira mengantuk, tapi ia cukup penasaran dengan apa yang akan suaminya katakan.
"Gimana sama rumah yang tadi? Kamu suka? Kalau sekiranya kurang suka, kamu bilang aja, nanti kita cari rumah lain yang lebih cocok dan bisa buat kita nyaman." Ucap Juna tiba-tiba. Lelaki itu masih mengenakan pakaian celana coklat tua pendek selutut, dengan kaos berwarna kuning kunyit.
"Bagus sih, mas. cuman mungkin nanti biar agak beda sama yang lama, cat di beberapa bagian, bisa ganti warna." Ungkap Ira.
"Ya udah kalau gitu. Asal kamu suka, nanti bisa transaksi segera. Sepulang mama dan papa dari luar kota, nanti kita bilang sama mereka." Ucap Juna kemudian.
"Nanti aku bisa minta tolong Aryo dan Rehan untuk transaksinya. Kalau aku sih, untuk desain dapurnya kurang cocok, paling aku rubah dikit."
"Senyaman mas Juna aja. Kalau Ira memang nggak sebegitu tinggi seleranya." Timpal Ira.
"Oh ya, akhir pekan depan, aku dapat undangan dari relasi bisnis papa. Nanti kamu ikut. Besok malam kita ke butik langganan mama dan papa, kamu pesan gaun yang cocok buat kamu." Ungkap Juna.
Entah mengapa, Ira mendadak merasa tersanjung saat Juna memperlakukannya seperti ratu. Untuk ukuran wanita yang selalu dididik mandiri oleh ibunya, perlakuan manja dari Juna yang seperti ini terasa begitu memanjakannya.
"Iya. Tapi masalahnya . . . ." Kalimat Ira terhenti, wanita Itu lebih merasa bahwa ia seperti belum pantas mendampingi suaminya untuk menghadiri acara formal dan berkaitan dengan teman kerja atau relasi bisnis.
__ADS_1
"Apa?"
"Ira takut malu-maluin mas Juna. Ira kan, kampungan."
Arjuna tertawa renyah, membiarkan istrinya melihat gigi-gigi putihnya yang rapi.
"Kamu harus percaya diri dulu, nanti aku ajari bersikap saat kita menghadiri pesta para pebisnis elite.
Juna bangkit, mendekat ke arah istrinya dan tiba-tiba memeluk Ira. Cukup lama, hingga kemudian keduanya hanyut dalam sebuah kehangatan.
Entah siapa yang lebih dulu memulai. Yang jelas, ritual malam menjelang tidur diatas ranjang, kembali mereka lakukan dengan suka sama suka.
**
'Mas, aku sakit dan nggak ada yang bisa aku mintai tolong.'
Sebuah pesan masuk, tertera nama Keysha dalam layar ponsel Juna. Lelaki itu terdiam, saat waktu memasuki tengah malam.
Usai menggempur istrinya dengan sekuat tenaga hingga Ira terkapar lemas dan terlelap, Juna berniat tidur setelahnya. Namun sebuah pesan dari Keysha, membuatnya sedikit berpikir.
Selama ini, Keysha memang tinggal sendiri dan jauh dari keluarga. Dalam apartemennya, Keysha hanya mempekerjakan seseorang dengan waktu dua hari sekali untuk bersih-bersih. Tentu hal ini membuat Juna sedikit khawatir.
'Haruskah aku menghampirinya dan membelikan obat? Tapi, gimana kalau nanti Ira tahu dan ia kecewa lagi? Oh, tidak, tidak. Aku nggak mau mengulangi kesalahan yang sama dengan Keysha. Aku ingin serius membahagiakan ira.'
Suara hati Juna berbisik.
'Aku minta tolong kali ini saja, mas. Tolong bantu aku untuk membeli makan dan belikan aku obat pusing kepala. Setelah itu, kamu bisa pulang.'
Satu pesan dari Keysha, membuat Juna sedikit bimbang. Keysha benar-benar tidak menyerah membujuk Juna, meski Juna bersikap mengabaikan pesan darinya.
Juna tak tahu, bagaimana ia harus menanggapi sebuah pesan dari Keysha.
**
Maafkan aku yang kemarin libur update. Sedikit tumbang karena cuaca, bikin kurang mood buat nulis. Semoga kita semua dalam kondisi sehat ya, man-teman.
__ADS_1
Salam santun dari Istia.♥️