
"Yang dicinta akan selalu kalah dengan yang selalu ada. Setidaknya aku istri sahnya yang tercatat di lembaga hukum. Mbak Keysha bisa apa?"
Ira terlalu berani, untuk sekelas karakter santun menurut Juna. Juna merasakan syok karena baru melihat keberanian Ira.
"Ira?" Juna menekan suaranya. Nada bicaranya dingin dan mampu menusuk hati Ira. Entah mengapa, Ira merasa Juna justru lebih membela wanita lain dari pada istrinya sendiri. Padahal sebelumnya, Juna sudah mewanti-wanti Ira agar Ira menjaga perasaan Keysha.
"Hei! Kamu pikir kamu siapa? Cuman wanita belia yang hanya beruntung dijodohkan dengan Juna. Kamu boleh berbangga diri karena hal itu. Hanya saja ingat satu hal, aku nggak akan tinggal diam. Juna milikku dari awal." Sahut Keysha sambil menatap tajam Juna dan Ira bergantian.
"Bahkan perbandingan kamu dan aku, luar biasa jauhnya."
Ira bungkam. Dilihat dari sisi manapun, Ira sudah tentu kalah dengan Keysha dalam segi penampilan. Maklum, Keysha adalah model yang selalu menjaga dan merawat tubuhnya. Apalah daya, Ira hanya putri pembantu yang harus tahu diri.
"Kita memang memiliki perbandingan yang jauh, mbak Keysha. Apalagi dalam hal attitude. Aku meski jauh dibawah mbak Keysha, tapi jelas etika mbak Keysha sangatlah jauh berada di bawah aku. Buktinya, bahkan cara bicara mbak Keysha nggak mencerminkan seperti wanita berpendidikan."
"Kamu kurang aj....."
"Mas Juna, Ira pamit ke mobil saja. Nikmati waktunya, mumpung diberi kesempatan waktu." Ucap Ira sambil berlalu begitu saja dari sana layaknya wanita berkelas, meninggalkan Juna tanpa menunggu jawaban lelaki itu.
Sumpah demi tuhan, Ira membenci situasi seperti ini. Ia memiliki suami, tapi tak sedikitpun membelanya. Ira tetap tak akan menyerah. Akan ia buat Juna jatuh hati sejatuh-jatuhnya pada dirinya.
Di tempatnya, Juna menahan marahnya pada Ira. Namun ia tak ingin menuruti ego, karena menurutnya yang terpenting saat ini adalah, Keysha bisa lebih tenang.
"Ayo duduk disana, sha." Ajak Juna.
"Ya, kita memang harus duduk. Kamu hutang penjelasan ke aku." Keysha sudah emosi kali ini. Bisa-bisanya ia tak mendengar kabar pernikahan Juna dan juga Ira.
Juna memilih bungkam dan tak menjawab sama sekali. Lelaki itu lantas mengandeng tangan Keysha dan melangkah ke arah salah satu kursi taman yang tak jauh dari tempat mereka berada.
__ADS_1
Tentu saja, interaksi Juna dan Keysha yang cukup intim itu, tak lepas dari pandangan Ira. Hati dan mata Ira memanas. Lihat, Ira sudah menangis tanpa sadar.
Tak lama, Ira sadar, gadis itu lantas mengusap kasar air matanya dengan tissue yang ada di dalam mobil Juna. Ira pun merutuk dirinya sendiri yang menangis tanpa sadar. Entah mengapa, hatinya sakit melihat Juna demikian mesra dengan Keysha.
Apakah Ira mulai suka dengan Juna?
"Apa yang mau kamu jelasin ke aku, Juna?" Tanya Keysha sambil melipat kedua tangannya di dada. Tas tangan yang tadi di genggamnya, ia letakkan diatas meja. Dress panjang yang ia kenakan, tampak berkibar sesekali karena sapuan angin.
"Mama dan papa yang menjodohkan aku dengan Ira, sha. Kamu tau sendiri, usiaku ini udah tiga puluh tahun, dan mereka ingin aku menikah dan punya anak." Terang Juna.
"Jangan bilang kamu dan dia akan memiliki anak!" Hardik Keysha dengan tatapan matanya yang tajam.
"Itulah. Kamu sih, salah kamu sendiri, aku ajak menikah tapi kamu nggak mau." Ungkap Juna dengan nada kecewa.
"Jangan melimpahkan kesalahan, Juna. Karier aku lagi bagus-bagusnya. Kamu tahu sendiri kalau ini impian aku. Harusnya kamu ngertiin aku dong."
Enak saja Juna disalahkan. Juna merasa, toh awal dari semua ini karena Keysha tidak bersedia dinikahi Juna. Keluarga Juna juga bukan tipe keluarga yang akan memilih-milih calon besan dan menantu.
"Ini bukan perkara uang, Juna. Ini tuh mimpi dan harapan aku dari dulu. Harusnya kamu paham dan mengerti, kalau aku siap menikah, jika aku benar-benar puas dalam dunia permodelan."
"Sifat manusia kebanyakan memang selalu ingin tinggi dan nggak akan pernah puas. Kalau kamu berpikir begitu, maaf, kita berada di jalur yang berseberangan." Juna mulai marah, namun nada bicaranya masih tenang. Lihat saja, bahkan kedua tangannya ia lipat di dada, menandingi kemarahan Keysha.
"Kamu benar-benar keterlaluan, Juna. Kamu yang berkhianat, kamu yang salah, tapi kamu seolah ingin memojokkan aku terus menerus. Apa sih sebenarnya yang kamu inginkan?"
Keysha mulai mengeluarkan jurus andalannya. Wanita itu menangis dan memasang tampak tak tahu diri. Hanya dengan menangis, ia bisa meluluhkan hati Juna. Sejak dulu, Juna sendiri memang tak pernah tega bila melihat wanita menangis.
"Berhenti menangis Keysha. Aku ingin kamu berhenti dari dunia model, dan mari kita tata hidup dari Nol. Aku punya segalanya, kamu nggak akan kekurangan sesuatu apapun kalau jadi istri aku." Ungkap Juna. Nada bicaranya melembut dan mulai terkontrol kembali.
__ADS_1
"Aku nggak bisa. Tolong, aku akan mengerti posisi kamu, asal kamu juga mengerti dengan impian aku. It's okay kalau kamu dijodohkan sama dia, tapi aku mohon kamu jangan ninggalin aku." Ungkap Keysha kemudian.
Perlahan tangan Juna meraih telapak tangan Keysha, memberi ketenangan dengan mengusapnya pelan.
"Aku sayang sama kamu, sha. Sangat sayang. Cuman ya, memang aku dalam situasi nggak bisa melawan orang tuaku. Aku anak satu-satunya mama dan papa, aku nggak bisa gitu aja berontak atas kehendak mereka."
"Terus kita harus bagaimana?"
"Kita akan tetap begini, nggak ada yang bisa memisahkan kita, aku sayang sama kamu."
"Termasuk istrimu itu?" Juna bungkam. Lelaki itu merasa seolah tak bisa menjawab. Ia gamang, bagaimana mungkin ia bisa meninggalkan Ira? Meski tak ada rasa dihatinya untuk Ira, tapi Juna juga tak mungkin untuk menyingkirkan Ira begitu saja dari hidupnya.
"Dia gadis pilihan mama, Keysha. Kalau kamu ingin aku meninggalkan dia, maaf aku nggak bisa." Ungkap Juna dengan tegas.
Keysha membuang muka, membiarkan Juna kalut dengan pikirannya.
Sementara di dalam mobil, Ira masih merutuk air matanya sendiri yang terus mengalir tak tahu malu. Ingin rasanya Ira menjahit matanya saja agar tak mengeluarkan air mata, sayangnya itu tak mungkin Ira lakukan.
"Hei, air mata sialan. Kenapa kamu keluar sih? Udah dong, jangan cengeng." Ucapnya bermonolog, sambil sesekali menengok Juna yang masih berbincang dengan Keysha.
"Udah cukup, kamu nggak boleh lihat ke arah mereka lagi, Ira, biar kamu nggak sakit hati lagi." Tambahnya sambil menyemangati diri sendiri. Sayangnya, sedetik kemudian, Ira kembali menengok mereka tanpa sadar, membuat hati Ira kembali memanas.
"Aaaaaaa, mas Juna jahat. Kenapa aku jadi cemburu si?" Teriaknya dari dalam mobil Juna yang kedap suara.
Ira kembali menangis lagi.
"Oke, ini terakhir aku nangis deh." Imbuhnya lagi.
__ADS_1
**