
Jantung Ira serasa bertalu tak karuan, ketika ia menjabat dan mencium telapak tangan Juna, serta mendapat ciuman pelan di keningnya dari Juna. Gadis itu benar-benar tidak bisa mengendalikan hatinya yang tiba-tiba berbunga-bunga tak karuan.
Ijab kabul baru saja dilaksanakan. Pernikahan telah di nyatakan sah dan juga mereka telah resmi menjadi sepasang suami istri. Sebuah kesepakatan sudah tercapai, resepsi besar-besaran akan diadakan tiga hingga empat bulan dari sekarang.
Di tempatnya, Juna juga sedang merasakan perasaan jengkel dan juga gugup secara bersamaan. Ia merasa seperti tengah bermimpi saat ini. Mimpi menikahi putri pembantunya, dan mimpi orang tuanya telah menjadi kenyataan.
"Selamat ya, sayang. Kamu sekarang sudah resmi menjadi sepasang suami istri." Ucap Ningsih sambil mengusap air matanya penuh haru. "Mama harap, kalian segera bisa memberikan mama cucu."
Ira mengangguk, namun tidak dengan Arjuna. Lelaki itu tak menebar senyum sama sekali. Hati Juna terasa tak nyaman. Kini, Juna tak lagi sendiri. Ada Aira yang hidupnya harus ia tanggung, juga penuhi haknya sebagai seorang istri.
Hingga acara selesai, suasana rumah sudah tampak sepi. Juna segera pergi ke lantai atas dan masuk kamar, membiarkan Ira yang tercenung sendirian dan bingung, antara harus menyusul, atau diam saja sebelum dipanggil suaminya.
Suami? Diam-diam Ira tersenyum saat kata suami terbersit dalam kepalanya. Ia tak sendiri lagi sekarang.
"Ira, kenapa masih disini? Apa Juna nggak ngajak kamu untuk ikut ke kamar? Ini sudah malam." Iskan tiba-tiba muncul di belakang Ira sambil mengejutkan gadis itu. Ada Ningsih juga yang mengangkat sebelah alisnya penuh tanya.
"Juna nggak ngajak kamu?" sambung Iskan lagi.
"Enggak, pak. Mungkin. . . ." Ira tak melanjutkan kalimatnya karena Ningsih sudah menyela lebih dulu.
"Anak itu memang benar-benar keterlaluan. Oh ya, Ira. Jangan panggil bapak atau ibu lagi. Mulai sekarang, kamu panggil aku mama, dan panggil papa ke papanya Juna. Kamu mengerti?" Tanya Ningsih.
"Iya, Bu. Eh, maksudnya, iya, ma." Jawab Ira dengan canggung. Maklum, panggilan itu untuk Ningsih dan Iskan, masih terasa asing baginya.
"Ayo." Ajak Ningsih menggandeng tangan menantunya, dan meninggalkan Iskan yang tengah memainkan gawai ponselnya.
__ADS_1
Setibanya di depan kamar Juna, Ningsih mengetuk pintu, menunggu Juna membuka pintu dengan sabarnya.Hingga Juna kemudian membuka pintu, dengan balutan handuk yang melingkar pada pinggangnya, menampakkan jejak-jejak air masih melekat pada dada, perut, rambut serta wajahnya. Membuat kesan maskulin pada diri Juna.
Di tempatnya, Ira meneguk salivanya yang terasa pahit. Ada apa dengan Ira? Ira merutuk dirinya dalam hati.
"Kamu ini kenapa, Juna? Istri kok ditinggal sendiri di ruang tengah. Ayo, ajak istrimu masuk dan jangan membuatnya kecewa. Ingat, kamu harus menghormati istrimu, selayaknya kamu menghormati mama." Ujar Ningsih yang membuat Juna mau tak mau mengangguk. Sayangnya, ekspresi wajah Juna terlihat sangat datar sekali.
"Masuk, Ra. Mulai sekarang kita satu kamar dan ini kamar kamu juga. Mama juga udah belikan kamu baju-baju baru. letak bajunya di lemari ujung sana." Juna menginterupsi Ira, pada lemari yang berada di pojok ruangan. Ira juga baru tahu jika ada lemari baru di sana. Seingat Ira, kemarin-kemarin lemari itu belum ada disana.
"Iya, den. Terima kasih banyak." Ucap Ira sopan.
"Jangan panggil den lagi. Panggil aku Mas saja." pinta Juna yang diangguki Ira dengan gerakan canggung.
"Silahkan ke kamar mandi. sementara pakai sabun cair punyaku dulu. Nanti kalau kamu nggak cocok, besok kamu bisa beli apa yang kamu butuhkan."
Sekali lagi, Ira mengangguk dan berlalu dari sana, menuju kamar mandi karena jantungnya yang berdegup keras dan nakalnya, saat melihat Juna yang bertelanjang dada.
"Mas, maaf. Boleh Ira minta tolong?" Ira bertanya lirih.
"Apa?" Juna yang sudah memakai piyama tidur dan sedang memainkan gawai ponselnya, menatap Ira penuh tanya.
"Ira, maaf, Ira ceroboh. Ira lupa bawa handuk tadi." Ungkapnya, membuat Juna tak berkata, namun segera beranjak mengambil handuk dan memberikannya pada Ira.
"Lain kali jangan ceroboh." Ucap Juna sambil menatap kepala Ira di dekat pintu.
"Iya, mas. Maaf." Ira lantas menutup pintu, melindungi dirinya dan menekan dadanya yang bertalu tak karuan. Ini adalah malam pertamanya dengan Juna, bagaimana jika nanti Juna menuntun haknya sebagai suami pada Ira? Akan Ira pikirkan nanti."
__ADS_1
Usai berganti pakaian di ruang ganti, Ira melangkah pelan menuju ranjang. Juna juga masih santai di tempatnya sembari melirik ke arah Ira sekilas yang terlihat canggung.
"Duduk sini, Ra. Aku mau ngomong sama kamu." Ungkap Juna dengan perasaan tak menentu.
"Iya, mas." Ira duduk di tepi ranjang, tak berani naik karena takut jika nanti Juna mengatainya lancang. Sikap Ira yang takut dan malu-malu ini, tak ayal membuat Juna tertawa keras dalam hati. Biasanya, banyak gadis yang ingin tidur dengan Juna, tapi Ira, putri pembantunya ini justru malu-malu padanya.
"Mau ngomong apa, mas?"
"Aku minta maaf sebelumnya, Ra. Maaf jika mungkin aku akan ngomong sesuatu yang sedikit bikin kamu nggak enak nanti." Juna menjeda kalimatnya.
"Untuk sekarang ini, kita nggak saling mencintai. Kalaulah nanti ada jodoh, aku harap nanti kamu mau bersabar dulu. aku nggak bisa menjanjikan banyak hal ke kamu, tapi aku jamin, kamu nggak akan kekurangan apa pun dari aku, kecuali cinta yang belum aku punya sekarang buat kamu. Malam ini, maaf kalau . . . maaf kalau aku belum bisa memenuhi kewajiban aku sebagai suami. Kamu . . . mau bersabar, kan?" tambah Juna lagi.
Ira tersenyum manis. Tentulah Ira sedikit lega karena Juna tak akan menunaikan ritual malam pertama. Tapi entah mengapa, Ira merasa ada sudut hatinya yang kecewa. Ah, Ira merasa mungkin hanya perasaannya saja.
"Iya, mas. Ira nggak apa-apa, kok." Jawab Ira.
"Besok, aku akan kasih kamu jatah uang belanja bulanan. Gunakan sebaik-baiknya, untuk perawatan mungkin, atau beli baju baru, tas baru, sepatu baru, apa saja yang kamu ingin. Tapi jangan terlalu boros juga, kalau bisa, jatah bulanan dari aku, sedikitnya kamu harus punya simpanan. Kamu juga boleh minta apa aja sama aku. Dan satu lagi, aku masih punya pacar, namanya Keysha. Aku sayang banget sama dia, tolong beri aku waktu untuk menentukan, mau aku bawa kemana hubungan aku sama Keysha."
Mendengar permintaan suaminya, Ira mengangguk. Gadis itu benar-benar tersentak hatinya, mendengar pengakuan Juna yang rupanya telah memiliki kekasih dan Juna sangat menyayanginya.
"Lalu, gimana sama Ira, mas?" Ira bertanya pelan.
"Berusahalah, Aku percaya kamu bisa memperjuangkan hati aku biar jatuh cinta sama kamu." Pinta Juna, seolah sebagai titah untuk Ira.
Ira mengangguk dan tersenyum. Kalimat suaminya, seolah menjadi angin segar untuk Ira. Juna ingin Ira membuat Juna jatuh cinta padanya. Itu yang Ira ingat per hari ini.
__ADS_1
**