
Arjuna berjalan tergesa di sepanjang koridor rumah sakit. Satu setengah jam yang lalu, Arjuna tak tahu jika pak Yono meneleponnya berkali-kali untuk menyampaikan kabar bahwa istrinya mengalami kecelakaan.
Lelaki itu baru sadar dan menghidupkan ponselnya, saat rapat telah usai. Khawatir tentu saja, Dan ia segera menghubungi balik nomor pak Yono untuk menyusul Ira ke rumah sakit.
"Bagaimana kondisi Ira, pak? Apa yang terjadi sebenarnya?" Tanya Juna saat mendapati bik Narsih dan pak Yono berada di depan ruang IGD.
"Non Ira baru akan dipindahkan ke ruang rawat, den. Ada motor yang nyerempet non Ira, den. Saya nggak tahu pasti, tapi motor itu kayaknya memang sengaja mau menyakiti non Ira, karena saat itu non Ira udah jalan, di tempat yang seharusnya nggak dilalui kendaraan bermotor." Ungkap pak Yono kemudian.
"Astaga, apa Ira punya musuh?" tanya Juna lagi dengan wajah panik.
"Seingat saya, non Ira nggak pernah keluar rumah dan jarang bergaul sama teman-temannya sejak menikah, den. Kayaknya memang nggak ada musuh. Tapi saya nggak tahu pasti. Yang jelas, non Ira sejak dulu nggak pernah memancing masalah sama siapapun." Ungkap pak Yono. Ada bercak darah di kemeja pak Yono yang berwarna biru muda, di bagian perut.
Tentu saja pemandangan ini tidak luput dari tatapan tajam Juna. Ada desiran aneh dan khawatir yang berlebih yang saat ini membuat dada Juna sedikit sesak.
Juna tak mengerti, mungkinkah ia sudah bisa menerima Ira sebagai istrinya?
"Apa lukanya banyak, pak Yono? Kenapa ini ada darahnya?" Tanya Juna kemudian. Tangannya menunjuk kemeja pak Yono di bagian perut. Melihat darah, siapa yang tidak khawatir?
Bik Narsih hanya diam di tempatnya, dengan wajah pucat sambil merapalkan doa-doa untuk Ira. Mata wanita itu sembab, dan juga rambutnya yang di sanggul ke belakang, sedikit berantakan.
"Ada luka di bagian pelipis sama tangan sedikit, den. Doakan saja non Ira baik-baik saja. Saya nggak sempat mengejar pelakunya, karena saya lebih milih nolong non Ira lebih dulu. Tadi juga saya sudah sempat hubungi polisi untuk melaporkan kejadian ini."" Jawab pak Yono.
"Ibu apa udah dihubungi? Ya Tuhan, ibu pasti syok." Ungkap Juna sambil sesekali melihat ke arah pintu IGD. Dan denyutan di dada Juna, kian terasa menyakitkan secara pelan-pelan.
"Saya nggak berani hubungi mbok Asih. den. Saya takut beliau syok." Jawab pak Yono masuk akal. Ia tahu betul, Asih adalah orang yang mudah panik ketika ada masalah.
"Tolong jemput ibu, pak Yono. Sekalian nanti ceritakan kronologinya. Saya mau menunggui Ira dulu." Perintah Arjuna kemudian.
"Baik, den." Pak Yono berlalu, meninggalkan istrinya yang masih merapal doa, dan juga Arjuna yang dilanda khawatir.
**
Malam telah tiba. Waktu menunjukkan pukul delapan malam, ketika Arjuna baru selesai mandi, dan mendapati ibu mertuanya tengah duduk di samping brankar Ira, dan menatap Ira tanpa henti.
__ADS_1
"Nak, kamu belum makan?" Tanya Asih kemudian.
"Nanti, Bu. Kalau Ira sudah sadar, Juna akan makan." Jawab Juna.
"Kata pak Yono bahkan kamu melewatkan makan siang. Jangan begitu, nanti kamu sakit. Ira pasti sedih nanti, kalau dia sudah bangun." Ucap Asih. "Ayo dimakan dulu. Ibu udah bawakan kamu makanan kesukaan kamu." Imbuhnya lagi.
Juna diam, merasa tak ada pilihan lain selain mengikuti perintah ibu mertuanya. Baru saja sekitar empat suap Juna menelan makanannya, Suara ketukan pintu terdengar di telinga asih dan Arjuna.
"Kalian?" tanya Juna pada Aryo dan Rehan.
Siang tadi, saat Juna menunggui Ira yang baru dipindahkan ke ruang rawat, Arjuna berpikir untuk menghubungi Aryo dan Rehan. Juna meminta tolong Rehan untuk membantunya mencari pelaku penabrakan istrinya itu.
Beruntung saat itu ada pihak kepolisian yang membantu.
"Ya, aku sama Aryo mau jenguk Ira. Gimana kondisinya?" Tanya Rehan kemudian. Lelaki itu lantas masuk ke dalam ruang rawat Ira, disusul oleh Aryo di belakang Rehan.
"Belum siuman. Kata dokter mungkin tengah malam nanti kalau nggak besok." Jawab Juna.
Mereka lantas menghampiri tempat dimana Ira terbaring.
"Sehat, den. Silahkan duduk." Bu Asih menunjuk sofa di sudut ruangan. "Maaf merepotkan." Ucap Bu Asih sambil menerima oleh-oleh yang dibawakan Rehan dan Aryo.
"Nggak apa-apa, bu. Ini juga cuman ala kadarnya." Jawab Rehan lirih.
"Oh ya, gimana sama luka Ira?" Tanya Rehan yang kini menatap Juna.
"Nggak ada luka berat. Ya cuman luka cidera dan memae di beberapa bagian tubuh aja." Jawab Juna.
"Polisi apa udah ngasih kabar?" tanya Rehan lagi. "Lihat, aku udah bawa rekaman CCTV lampu merah yang dekat dengan lokasi kejadian." Ungkap Rehan lagi.
Tentu saja berita itu menarik perhatian Arjuna. "Terus?"
"Polisi masih nyari si pelaku. Sulitnya, pelaku pakai helm yang membuat wajahnya sulit dikenali, juga plat nomor sepedanya yang nggak kelihatan." Jawab Aryo mewakili Rehan.
__ADS_1
"Siapa pelakunya, den?" Tanya Bu Asih yang mendengar percakapannya.
Juna tentu saja segera mengisyaratkan pada kedua temannya itu, agar diam dulu.
"Bu, ibu diam disini dulu, ya? Titip jagain Ira, Juna mau mencari tahu akar masalah ini. Nanti kalau udah ketemu pelakunya, Juna akan beri tahu ibu." Tukas Juna untuk menenangkan ibu mertuanya.
"Juna ke kantin dulu, sebentar." Imbuh Arjuna lagi.
"Tapi kamu belum makan, nak." Kata Asih.
"Nggak lama, setengah jam lagi Juna pasti balik kesini." Jawab Juna menenangkan. Juna sadar, Ira adalah anak satu-satunya asih. Tentu saja asih sangat khawatir.
"Ya udah, hati-hati ya, nak." Ungkap Asih kemudian.
Juna mengangguk dan segera berlalu pergi dari sana. Ia membawa kedua sahabatnya itu untuk membicarakan kasus yang mengorbankan istrinya itu.
Meski cinta di hati Juna tak sepenuhnya untuk Ira, tapi Juna sadar, Ira layak untuk mendapatkan fokus dan perhatiannya. Arjuna memang benar-benar sangat ingin berubah. Perlahan, lelaki itu ingin menerima Ira sepenuhnya, dan ia masih tengah belajar.
"Ayo ke kantin." Ajak Juna pada kedua kawan setianya, sambil berlalu menuju ke kantin. Firasat Juna sedang tak nyaman, itulah sebabnya Juna tak ingin ibu mertuanya tahu lebih dulu untuk hal ini.
Setibanya di kantin rumah sakit yang sudah agak sepi,, Juna segera duduk di sudut ruangan dengan Aryo dan Rehan.
Kini, Arjuna sudah bertekad untuk membalas siapa pun yang sudah tega melanggar istrinya itu.
**
Terima kasih untuk yang udah dukung cerita Ira dan Juna. Jangan lupa ikutin juga kisah ceritaku yang lainnya,
- Mawar Seruni.
- Unwanted Husband.
- Sekadar Cinta Figuran.
__ADS_1
Terima kasih buat semua.🤗