
Waktu telah menunjukkan nyaris tengah malam. Juna dengan hati yang tak menentu, menuju lantai atas, ke kamarnya, dengan membawa nampan berisi makanan dan juga air putih.
Sudah malam, dan Ira belum makan. Rasa khawatir tiba-tiba muncul di hati Juna untuk istri kecilnya itu. Kini Juna sadar, bahwa sebenarnya hatinya telah terpaut pada istrinya yang masih gadis itu.
"Ra, makan dulu." Ungkap Juna yang menatap Ira yang duduk di lantai beralaskan karpet bulu yang halus. Juna tahu betul, kesalahannya tak bisa di maafkan. Hanya saja, Juna ingin memperbaiki diri.
"Ira nggak lapar, Ira mau pulang." Jawab Ira. Matanya tampak sembab dengan Tampang lusuh menyedihkan, meski air mata sudah berhenti mengalir. Tak menangis, bukan berati tak ada luka lagi di hati Ira.
"Kamu harus makan meski dikit. Terakhir kamu makan tadi, saat makan siang. Kamu boleh marah sama aku, aku siap menerima hukuman dari kamu. Hanya saja, tolong jangan menyiksa tubuh kamu." Ucap Juna sambil terus menyodorkan makanan pada Ira. Kini, Ira dan Juna sama-sama duduk diatas karpet halus.
"Apa peduli mas Juna? Ira nggak akan makan sampai kapan pun, kalau mas Juna masih menahan Ira disini." Ucap Ira. Dengan berani, gadis itu lantas menatap Juna dengan berani.
"Ra, aku peduli. Kamu dengar dulu penjelasan aku." Ungkap Juna.
"Aku utdh mutusin Keysha. Tapi dia minta waktuku satu hari satu malam untuk kenangan perpisahan kami. Bukankah sudah dari awal aku bilang, kalau aku dan dia berpacaran cukup lama. Jadi, aku terpaksa membohongi kamu untuk memenuhi syarat Keysha biar kami bisa benar-benar saling melepas satu sama lain." Imbuh Juna lagi.
"Aku benci dengan semua ini, mas Juna. apa mas Juna nggak mikir, kalau syarat itu benar-benar konyol? Kamu suami aku, mas. Bahkan kamu nggak pernah menginginkan aku sedikit pun. Alih-alih menginginkan Ira, mas Juna justru lebih menginginkan Wanita lain yang bukan istri mas Juna. Mas Juna juga lebih mementingkan perasaan Keysha daripada Ira. Sejauh ini Ira paham, apa arti Ira untuk mas Juna. Mas Juna cuman memperalat Ira, agar mas Juna terbebas dari tekanan mama dan papa."
Ira kembali menangis. Gadis itu masih melihat adegan senja tadi, kembali muncul dalam bayangannya.
"Ra. Sungguh, aku pun tadi nggak sempat menyentuhnya. Kami hanya bercumbu sebentar, nggak sampai sejauh yang kamu bayangkan. Kamu harus percaya sama aku." Ungkap Juna lagi. Lelaki itu nyaris menyerah, karena merasa tak mampu meyakinkan istrinya.
"Tapi andai aku nggak datang, kamu bakalan tetap melakukannya, kan, mas? Ya ampun, mas. Kamu beneran udah berhasil menghancurkan hati dan harapan aku." Ira menangis dengan memukul dada Juna beberapa kali.
__ADS_1
Terpaksa saja, Juna kembali meletakkan piring yang ia berikan pada Ira tadi.
"Iya, aku ngaku kalau aku salah. Gimana caranya biar aku bisa mendapatkan maaf kamu, mendapatkan kesempatan dari kamu? Hukum aku, tapi tolong jangan pergi dari sini. Aku udah terbiasa ada kamu. Jadi tolong, jangan berpikiran untuk pergi, meski hanya sebentar." pinta Juna dengan mengiba.
"Ira nggak tahan, mas. Ira nggak tahan. Mas Juna terlalu mencintai Keysha, dan Ira nggak mungkin menang bersaing dengan wanita cantik kayak dia. Ira mundur aja, Ira mau pulang. Kembaliin Ira ke ibu." Pinta Ira kemudian.
"Jangan harap. Aku akan menjadikan kamu istri aku, selamanya, Ra. Aku akan membuktikan janji, kalau aku nggak akan mempermainkan pernikahan kita. Maafkan salahku, maafkan khilafku. Aku akan memperbaiki semuanya, aku janji." Pinta Juna.
"Ira nggak tertarik lagi." Ira berusaha bangkit, meski kakinya terasa kebas dan sulit digerakkan. Entah mengapa, disaat-saat seperti ini, Ira justru merasa tak kuat meski hanya untuk berjalan.
Gadis itu berusaha untuk keluar dan pergi ke rumah ibunya, tanpa membawa barang-barang yang cukup merepotkan Ira. Yang Ira inginkan hanyalah, ia bisa bertemu dengan ibunya dan mencurahkan segala masalahnya.
"Ira, tunggu." Arjuna merasa, ia nyaris kecolongan karena Ira mau keluar tanpa ia duga.
Tanpa Ira duga, Juna menggendongnya dan membawanya ke dalam kamar lagi, sebelum mengunci pintu.
Hati Ira menciut. Bahkan gadis itu tidak tahu pasti kapan Iskan dan Ningsih keluar kota. Pada siapa Ira harus meminta pertolongan agar Juna tidak semena-mena padanya?
Inilah akhirnya, penderitaan Ira yang sesungguhnya, telah dimulai.
**
Di sebuah kamar dalam apartemen, Keysha berada di balkon dengan gaun tidur yang pas di tubuhnya. Gaun tidur berwarna merah, sangat kontrash dengan kulitnya yang putih bersih tanpa noda. Rambutnya yang diikat asal, membuat Keysha bahkan bisa mendapatkan lelaki mana pun, siapa pun selain Juna.
__ADS_1
Sayangnya, Juna lebih memilih istrinya itu yang lumayan licik juga. Ira tak bisa diremehkan begitu saja. Bahkan wanita itu sempat memiliki kartu as sebagai senjata untuk membuat Keysha kena mental.
Dalam suasana hitam dalam pekatnya malam, Keysha membayangkan saat ini Ira dan Arjuna bertengkar hebat karena dirinya. Benar-benar keterlaluan.
Perasaan wanita itu campur aduk, antara takut, sedih, khawatir, namun juga riang bahagia, menyelimuti hatinya.
Keysha khawatir jika nanti Ira benar-benar akan membuktikan ucapannya. Jika sampai video jelas skandalnya terang-terangan tersebar ke ranah publik, maka semua karier Keysha bisa hancur dalam sekejap.
'Gimana kalau ucapan gadis itu jadi kenyataan? Aku nggak mau karier aku hancur, karier yang aku bangun sejak lama dan susah payah.'
Bisik hati Keysha bermonolog.
Katakanlah, Keysha egois. Wanita itu menginginkan cinta dan kariernya tetap ia miliki tanpa mengorbankan salah satu.
'Aku nggak mau kehilangan mas Juna. Apa pun caranya nanti, aku akan tetap membuat mas Juna kembali bertekuk lutut sama aku. Ira, Gadis putri pembantu itu, aku nggak boleh kalah saing dari dia.'
Keysha merogoh kantong piyamanya, sebuah botol mini yang selalu ia bawa belakangan ini, membuat Keysha kembali percaya diri dan menebar senyum.
'Meski rencanaku hari ini untuk membuat mas Juna ketagihan sama aku itu gagal, tapi setidaknya ia sudah bertengkar hebat sama istrinya. Hahahaha, rasakan kamu Ira. Kamu pikir kamu siapa, mau bersaing sama aku?'
Sisi jahat diri Keysha telah muncul. Wanita itu menyimpan banyak rencana jahat dalam otaknya.
'Baiklah, nggak apa-apa. Setidaknya aku bisa menjebak mas Juna lain waktu. Waktu masih panjang. Aku akan benar-benar menyingkirkan istrinya itu dari hidup mas Juna.'
__ADS_1
Keysha tertawa dalam hati, sembari menikmati angin malam yang membuatnya suka karena kesejukannya.
**