Cinta si Anak Pembantu

Cinta si Anak Pembantu
Kepergok


__ADS_3

Dan jantung Ira, serasa diremas dan ditarik paksa dari rongga dadanya, ketika mobil Juna memasuki sebuah penginapan yang sangat mewah. Ira dan pak Yono segera memarkirkan sepeda yang mereka kendarai. Berbagai pikiran buruk sudah melukisi otak Ira saat ini.


"Mas Juna membohongi aku lagi. Jadi, ini adalah kebohongan suamiku yang ke berapa, oh tuhan?" Gumam Ira.


"Tunggu dulu, non. Jangan menghampiri mereka." Pinta pak Yono, saat dilihatnya Ira nyaris menghampiri Juna.


"Bukti belum kuat. Biarkan mereka masuk, dan kita akan pergoki langsung, biar mas Juna nggak bisa berkelit lagi." Imbuhnya lagi.


"Terus, kita harus bagaimana, pak?" tanya Ira masih tak mengerti. Otaknya terlanjur ruwet dan sulit mencerna apa yang sopirnya katakan.


"Tunggu sampai ada bukti di depan mata, dan nanti beri mereka pelajaran. Jangan mau disakiti terus, non. Non Ira harus tetap tahan emosi, demi tetap bertahan di jalur yang benar."


Ira mengerjapkan matanya beberapa kali, mencerna apa yang baru saja pak Yono katakan. Memang benar kata pak Yono, Ira hanya terbawa emosi dan tak tahan melihat kemesraan mereka berdua. Kecemburuan rupanya telah membakar hatinya.


Ira hanya diam tak menjawab. Gadis itu menunggu hingga Juna masuk, menemui receptionist dan menuju ke kamar yang mereka pesan.


Dari arah pintu, Ira masih setia memakai kacamata putih dan masker hitamnya. Begitu juga dengan pak Yono yang makin panik.


Sebenarnya, pak Yono enggan terlibat karena masih butuh pekerjaan. Tapi bila dipikir lagi, ini tentang hati nurani. Ira sudah seperti anaknya sendiri sejak dulu. Masalah pekerjaan, pak Yono pasrah andai nanti ia mendapatkan kemarahan Juna dan dipecat secara tidak hormat. Yang penting, Ira mendapat keadilan.


Bagi pak Yono, kasihan Ira yang sudah dibohongi tak hanya sekali, melainkan berkali-kali.


"Gimana ini, pak Yono?" Tanya Ira. Mata Ira sudah memerah, tak bisa menahan tangis, ketika melihat Keysha menyeret masuk kopernya, dan Juna yang berjalan di depan dengan gagahnya. Keduanya benar-benar terlihat sangat serasi.


"Kita bicara dengan pihak hotel saja, non. Kita minta izin untuk memergoki skandal mereka." Ucap pak Yono berbisik lirih di telinga Ira.


"Baik, pak. Tapi, apa pak Yono nggak takut dipecat?" Tanya Ira kemudian.

__ADS_1


"Masalah kerjaan, kalau nanti saya dipecat, saya akan nyari kerja diluar saja, non. Yang penting, utamakan dulu keadilan untuk Non Ira." Jawab pak Yono secara masuk akal.


"Terima kasih banyak, pak." Ira sudah berjanji dalam hati, ia akan benar-benar menganggap pak Yono seperti ayahnya sendiri.


"Sama-sama, non."


Keduanya lantas menemui receptionist untuk meminta izin menemui Juna tanpa konfirmasi. Tak lupa, Ira juga menunjukkan beberapa foto pernikahannya bersama Juna, yang ia abadikan dalam memori ponselnya.


**


Dalam sebuah kamar yang cukup luas bernuansakan klasik, Arjuna tengah mendudukkan tubuhnya sendiri dengan kasar. Lelaki itu menghembuskan nafasnya lelah, lelah akibat dari permintaan Keysha yang dinilainya sangat menekannya.


Juna harus berbohong, Juna harus berdosa pada kedua orang tua, dirinya sendiri, dan juga Ira. Terbersit dalam benak lelaki itu, apa jadinya andai nanti Ira mengetahui bagaimana kelakuannya di belakang Ira.


Sebuah senyum manis Ira, tiba-tiba terpampang nyata di pelupuk matanya. Ada banyak hal dalam hati Juna yang membuat Juna harus menghentikan semua ini. Namun nyatanya, logikanya berkata bahwa jika ia menghentikan semua ini, Keysha tak akan bersedia melepasnya.


"Ya, Kamu udah selesai?" Tanya Juna balik.


"Udah. Buruan gih."


"Hmm." Arjuna bergumam malas. Lelaki itu lantas berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan diri. Meski pagi tadi Juna sudah mandi, namun ia selalu berkeringat dan mengharuskan mandi usai melakukan perjalanan jauh.


Sebuah daerah yang terletak di pinggiran ibukota, dengan pemandangan yang indah di belakang hotel, membuat Keysha betah. Wanita itu benar-benar ingin menghabiskan waktu terakhirnya bersama Juna, sebelum Juna benar-benar pergi dari hidupnya.


Mungkin menurut sebagian besar orang-orang, Keysha jahat. Hanya saja Keysha memiliki cinta yang besar terhadap Juna. Kebersamaan mereka selama ini, sangatlah berarti bagi Keysha.


"Kenapa melamun?" tanya Juna yang baru saja keluar dari kamar mandi. Balutan handuk sebatas pinggang dan lutut, juga tetes-tetes sisa air dari rambutnya yang basah, membuat Juna semakin tampan dan maskulin.

__ADS_1


"Nggak ada, lihatin pemandangan aja." Ucap Keysha. Wanita itu menutup tirai jendela, sebelum ia berbalik dan menghampiri Juna, menarik lelaki itu ke dalam pelukannya.


"Meski ini bukan yang pertama untuk kita melakukannya, tapi aku merasa berbeda kali ini, mas. Aku sangat sayang sama kamu. Tapi kalau mau kita udahan, ya aku bisa apa?" Ucap keysha lirih. Ada denyut menyakitkan dalam hatinya.


Meski begitu, apakah keysha bersedia mengalah? Oh tentu saja tidak. Wanita licik penuh tipu daya itu telah membuat rencana besar untuk menjebak Juna. Lihat saja, siapa yang akan menyakiti siapa setelah ini. Keysha tak ingin menjadi wanita bodoh dan kehilangan Juna tanpa usaha untuk mempertahankan Arjuna. Tidak akan.


"Udahlah, Sha. Jangan membahas itu lagi. Ini udah kesepakatan kita dari awal, kamu bersedia dengan syarat begini. Toh aku udah penuhi. Asal setelah ini, kamu juga harus menepati janji kamu untuk menjauhi aku." ucap Juna tegas.


Arjuna masih tak bereaksi, atau pun membalas pelukan Keysha, dengan pelukan serupa. Bila biasanya ia akan sangat agresif pada Keysha, namun kali ini berbeda. Juna seolah tak lagi menemukan detak cinta dan gelenyar rasa asing lagi terhadap Keysha.


"Aku ngerti apa yang harus aku lakukan." Tukas Keysha kemudian.


Keysha melepaskan diri, menatap Juna dengan tatapan sensual menggoda, mengisyaratkan bahwa ia ingin disentuh.


Tentu saja sebagai lelaki yang normal, Juna tak bisa menolak pesona kehalusan Keysha yang memancing naluri Juna untuk menyentuh.


Lama kelamaan, tentu saja bisa ditebak, bahwa keduanya telah hanyut dalam kenikmatan surgawi yang tiada Tara.


Sayup-sayup, Arjuna mendengar suara engsel pintu yang diputar, dan dibarengi dengan suara langkah. Refleks Arjuna bangkit, mendapati istrinya sudah berada di sana dengan kaku dan tercengang. Air mata istri Juna sudah berlinang menganak sungai membasahi sebagian besar wajahnya.


"Ira?" Gumam Juna sambil menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang yang sudah terbuka sempurna.


Satu keberuntungan Juna yang setidaknya masih membuatnya terselamatkan, Juna belum sempat menyentuh Keysha seutuhnya meski ia telah tak berbusana.


"Jadi, ini acara yang hanya melibatkan teman sekolah dulu, mas Juna?" Tanya Ira pelan. Langkah Ira terasa . . . .


**

__ADS_1


__ADS_2