Cinta si Anak Pembantu

Cinta si Anak Pembantu
Kebohongan mulai terungkap


__ADS_3

Hari berganti. Minggu berlalu, tahun nyaris saja terlewati dan melakukan pergantian. Aira Marlina dan Arjuna Sastra Suseno, masih berada dalam situasi yang sama. Kebodohan Juna dalam menyembunyikan kebohongan, serta kebodohan Ira yang masih saja mengharapkan Juna berubah untuk lebih menerimanya.


Sudah sepuluh bulan berlalu. Mereka tetap hidup berdampingan satu sama lain tanpa berniat untuk merubah ketetapan rumah tangga mereka. Jangan tanya bagaimana perasaan Ira saat ini. Hidup bersama Juna selama sepuluh bulan ini, nyatanya telah membuatnya jatuh hati sangat dalam.


Seperti pagi ini, Ira masih tetap melayani Juna dengan baik. Pakaian kerja yang telah disiapkan, sarapan yang dimasak oleh tangan terampil Ira sendiri, serta semua kebutuhan nutrisi Juna, Ira persiapan dengan tulus.


Harapan Ira satu-satunya adalah, Juna bisa lebih memberi kepastian Ira. Ira mulai menghitung mundur, setahun sejak mereka menikah. Jika dalam dua bulan Ira masih tak mendapat kepastian suaminya, maka ia akan ikhlas untuk mundur saja.


"Ra, setelah makan nanti, kita ngobrol-ngobrol, ya? Mumpung akhir pekan, mama ingin menghabiskan waktu sama kamu dan suamimu." Ningsih tiba-tiba muncul di taman belakang, saat Ira tengah menyirami tanaman bunga yang baru kemarin ia tanam.


"Iya, ma. Mas Juna masih olah raga, mungkin setelah ini selesai " Jawab Ira sesopan mungkin.


Hingga kemudian Juna datang, dan Ira memanggilnya agar segera naik ke lantai atas di ruang keluarga, kini mereka telah berkumpul di sana tanpa menunggu sarapan usai.


Iskan, Ningsih, Juna dan juga Ira tengah menikmati suasana pagi akhir pekan, dengan ditemani dua toples kue coklat kacang almond.


"Juna, mama mau tanya sesuatu ke kamu." Ucap Ningsih tiba-tiba. Juna sendiri bingung, apa yang mau ibunya itu katakan.


"Apa sih, ma? Bukannya biasanya mama ngomong nggak pakai izin sama Juna?" Juna balik bertanya.


"Sudah berapa lama kamu menikah?" tanya Ningsih, langsung ke pokok permasalahannya.


Baik Ira, maupun Juna saling tatap. Mereka masih belum nyambung, belum mengerti kemana arah pembicaraan kali ini.


"Sepuluh bulan." Jawab Juna yakin.


"Terus, kenapa sampai sekarang, Ira belum menunjukkan tanda-tanda kehamilan?" Tanya Ningsih kemudian.


Ira hanya bisa menunduk seketika. Ia bingung, bila Ningsih menuntut jawaban darinya. Selama pernikahannya dengan Arjuna, Ira tak pernah Juna sentuh sama sekali.

__ADS_1


"Santai lah, ma. Baru juga sepuluh bulan."


"Baru sepuluh bulan, tapi usia kamu bahkan sudah menginjak angka tiga puluh satu tahun. Katakan sama mama, kamu mau menguji kesabaran mama dan papa lagi?" Tanya Ningsih sembari mengangkat sebelah alisnya.


"Ma, tolong jangan terburu-buru." Juna memelas. Sejujurnya, ia bukan hanya merasa bersalah pada kedua orang tuanya, melainkan juga pada Ira, istri yang selalu sabar menghadapinya.


"Sekarang kamu diam dulu. Mama mau tanya Ira." Pandangan mata Ningsih beralih pada Ira. "Ra, apa benar, selama kamu dinikahi Juna, kamu belum disentuh Juna sama sekali?"


Wajah Ira memucat seketika. Ia bingung, antara harus jujur, atau harus berbohong saja demi melindungi suaminya. Tapi jelas Ira tak akan memiliki keberanian, mengingat ia tak pernah melakukan kebohongan apapun selama ini.


"Ira, eee . . . Ira, Ira . . . ." Ira bingung. Hal ini memperkuat dugaan Iskan dan juga Ningsih yang sangat jeli dalam melihat gelagat mereka berdua.


"Sudah mama duga." Ningsih menatap Arjuna. "Sampai kapan kamu akan membodohi orang tua kamu sendiri, Juna? Kurang apa mama selama ini, nak? Mama sudah mengupayakan yang terbaik untuk masa depan kamu, tapi kamu membalasnya dengan hal seperti ini. Mama kecewa sama kamu."


Ningsih mendadak menatap Juna, dengan tatapannya yang sendu.


"Ma, maafin Juna. Juna masih, Juna hanya masih belum siap." Jawab Juna pelan.


"Sebaiknya kamu diam dulu, Ira. Mama tahu apa yang terjadi sebenarnya." Ungkap Ningsih kemudian.


"Kali ini dengarkan mama, ini nasehat terakhir mama, Juna. Jika kamu masih mempermainkan perasaan gadis setulus Ira, sebaiknya kamu angkat kaki dari rumah ini. Jangan menjadi bagian dari keluarga Iskandar Suseno. Mama udah capek mendengar banyak hal kebodohan kamu. Mama bukan nggak sayang sama kamu, tapi sebaliknya, mama sangat sayang kamu yang akhirnya kamu balas dengan kecewa. Jadi, pikirkan ini baik-baik." Nada bicara Ningsih meninggi di akhir kalimat.


Ningsih lantas berlalu pergi, meninggalkan Arjuna yang terhenyak di tempatnya. Sejak dulu, Juna selalu disayang oleh ibunya. Mendapati ibunya yang demikian sangat murka padanya, membuat Juna merutuk dirinya sendiri.


"Kamu pikir, orang tua kamu ini bodoh, Juna? Ingatlah satu hal, Juna. Ada banyak tahun yang telah mama dan papa lalui selama pernikahan. Asam manis kehidupan, pahit getirnya kehidupan, kamu sudah kenyang. Jadi, jangan kau mencoba untuk membodohi kami selaku orang tuamu." Ungkap Iskan kemudian. Lelaki itu lantas berlalu pergi begitu saja dari sana, menyusul Ningsih dengan kekecewaan yang sama.


Tinggallah Ira dan Juna berdua. Keduanya sangat bingung, dengan apa yang terjadi ini.


"Apa yang dibilang mama dan papa itu ada benarnya, mas. Sangat benar malah. Hanya saja, Ira nggak memiliki wewenang untuk menekan mas Juna. Dari dulu mas Juna selalu ngomong begitu, kan? Jadi sekarang, Ira serahkan semuanya sama mas Juna."

__ADS_1


Ira menatap sendu Juna.


"Kamu ngomong apa, Ra?"


"Perlukah Ira perjelas lagi, mas?" Ira balik bertanya dengan senyum yang semakin manis di bibirnya.


Semakin hari, Ira semakin cantik dengan tatanan penampilan tubuh dan rambutnya. Entah bagaimana caranya, Ira melakukan serangkaian perawatan di sebuah salon kecantikan langganan Ningsih. Semua ini Ira lakukan hanya demi agar suaminya betah di rumah.


"Lah, terus mau kamu apa?" tanya Juna sambil menaikkan sebelah alisnya.


"Selama ini, apa mas Juna masih nggak juga mencintai Ira?" tanya Ira kemudian.


Juna bingung. Selama sepuluh bulan ini, lelaki itu tetap menyembunyikan hubungannya dengan keysha. Semakin ia berusaha melepas Keysha, Juna semakin sulit lepas dari bayangannya.


"Jawab dulu pertanyaan aku, Ra."


"Ira sejauh ini, Ira sangat menyayangi mas Juna. Semua kebutuhan mas Juna, Ira yang siapin setiap hari. Mana mungkin, Ira nggak mencintai mas Juna sementara kita setiap hari selalu berinteraksi? Dan Ira mau, mari kita menjalani rumah tangga seperti yang seharusnya."


Ira mengunci tatapan Juna dalam diam. Juna merasa seolah tenggorokannya terasa tercekik seketika.


"Aku belum siap." Juna membuang muka, demi menghindari kontak mata dengan Ira.


"Kenapa, mas? Kenapa mas Juna tega sama Ira? Mas Juna bilang sementara belum siap, tapi di belakang Ira, mas Juna masih mencintai Keysha. Bahkan, bahkan kalian masih berhubungan di belakang Ira diam-diam." Mata Ira terasa panas.


"Ap . . . apa?"


"Jangan berkelit lagi, mas. Ira udah tahu semuanya. Gadis bodoh yang menyandang gelar istri mas Juna ini, udah tahu bagaimana kejamnya kalian berdua. Sekarang, waktu mas Juna dan Keysha bermain-main di belakang Ira, udah habis."


Arjuna hanya bisa . . . .

__ADS_1


**


__ADS_2