Cinta si Anak Pembantu

Cinta si Anak Pembantu
Terhanyut


__ADS_3

"APA??!!"


Aryo dan Rehan sama-sama terpekik mendengar cerita Arjuna. Keduanya sama-sama syok.


"Wah, kamu gila, Juna. Benar-benar gila." Ungkap Rehan kemudian. "Harusnya kamu jangan egois. Astaga, nyerah deh aku. Bingung mau bilang apa."


"Aku juga sebenarnya ingin perlahan aja untuk mengambil hatinya. Tapi mau gimana lagi, udah kebawa emosi juga." Ungkap Juna dengan tidak tahu malunya.


"Terus, sebelum kamu berangkat ke kantor tadi, gimana reaksinya?" Tanya Rehan penasaran. Lelaki itu sampai mendekat ke arah Juna.


"Udah mulai mendingan daripada kemarin-kemarin." Jawab Juna kemudian.


"Nih ya, kalau menurutku, mending kamu ajak Ira untuk tinggal berdua aja, alias rumah sendiri dan pisah dari orang tua kamu. Tinggal sendiri itu lebih enak dan bebas mau ngapa-ngapain, nggak selalu dalam kontrol orang tua. Ya sekarang, kamu lagi ada masalah sama Ira, om Iskan nggak tahu kalau kalian bertengkar. Tapi kalau pas mereka ada di rumah, wah, bisa berabe, kan?" Kata Aryo.


Sebagai sahabat Juna, dan mereka menjalani persahabatan yang cukup lama, baik Aryo mau pun Rehan, sama-sama tahu bagaimana sifat orang tua Juna.


"Iya juga, ya? Kenapa aku nggak kepikiran kesana?" Tanya Juna.


"Karena otak kamu udah kegeser sama Keysha. Mendadak gila dan nggak waras." Kali ini Rehan yang menjawab. Ketiganya lantas tertawa dan saling ejek satu sama lain.


**


Di setiap kesempatan, seseorang pasti akan selalu memanfaatkan apa yang ada saat ini, termasuk sebuah kesempatan kedua dan seterusnya. Sebuah kesalahan, acap kali menjadi sebuah pembelajaran untuk seseorang yang ingin maju lebih baik lagi.


Seperti Arjuna sore ini. Lelaki itu berjalan tegap menuju halaman belakang untuk mencari keberadaan istrinya. Setelah menjelajahi kamar dan seluruh isi rumah ia tak menemukan Ira, Juna lantas bergegas menuju ke halaman belakang.


"Ra, kamu ngapain?" Tanya Juna yang mendekat ke arah Ira yang sedang duduk sendiri, sembari memberi makan ikan-ikan Iskan di kolam.


Refleks Ira menoleh, dan mendapati suaminya di sana. "Kasih makan ikan." Jawab Ira kemudian. Gadis itu kemudian meletakkan pakan ikan, dan bangkit berdiri, melangkah meninggalkan Juna tanpa kata.

__ADS_1


Arjuna tercengang di tempatnya. Lelaki itu bingung, apa yang harus ia lakukan pasca pertengkaran mereka sejak waktu itu. Bahkan setelah Juna pulang bekerja, Ira tak menyambutnya dengan ramah, justru terkesan dingin dan tak peduli.


Tak ingin hanyut dalam lamunan, Juna lantas berbalik pergi menyusul Ira. Harusnya Ira mengambilkannya minum, atau bersikap lebih hangat padanya. Sepertinya, ia harus berusaha lebih keras lagi untuk meraih hati Ira.


"Ra, kita makan malam di luar, ya? Nanti sekalian kita lihat-lihat rumah yang cocok untuk kita berdua tempati." Ucap Juna tiba-tiba, ketika mereka telah berada di dalam kamar. Ia sengaja, menekankan kata kita berdua, agar perhatian Ira beralih.


"Rumah?" Tanya ira. Benar saja, perhatian wanita itu teralih. "Ngapain? Bukannya disini juga rumah?"


"Iya, tapi aku mau kita tinggal berdua aja. Ya, itung-itung biar lebih mandiri dan lebih leluasa kalau mau ngapa-ngapain." Ungkap Juna sambil meletakkan jasnya ke tempatnya.


"Leluasa untuk selingkuh, misalnya." Ucap Ira dengan ketus. Tentu saja Arjuna kembali dibuat tercengang. "Kalau niatnya cuman mau membodohi Ira, lebih baik Ira tinggal sama ibu." Imbuhnya lagi.


"Ra, kenapa kamu selalu berpikiran buruk, sih? Apa aku salah kalau ajak kamu untuk tinggal berdua aja. Kita bisa program untuk punya anak, bisa jalan-jalan berdua, bisa ngapa-ngapain bebas tanpa sungkan sama siapa-siapa." Ucap Juna kemudian.


"Meskipun tinggal sama papa, mama, atau ibuku, apa kita nggak bisa program punya anak, jalan-jalan, dan nggak bebas ngapa-ngapain? Jangan jadikan program punya anak sebagai dalih untuk mas Juna lebih leluasa untuk selingkuh." Ketus Ira.


Wanita itu lantas duduk di bibir ranjang, sambil memainkan ujung bantal.


"Ra, dengerin aku dulu, bukan itu maksud dan tujuanku untuk mengajak kamu untuk tinggal berdua aja. Aku cuman ingin bisa lebih dekat sama kamu tanpa harus sungkan-sungkan sama mama dan papa. Kita juga bisa lebih . . . ."


"Udahlah, mas. Jangan ngomong apa-apa lagi, kalau memang mas Juna mau beli rumah, lakukan aja." Ucap Ira kemudian menyela kalimat Arjuna.


"Tapi kan nanti rumah itu akan jadi rumah kita berdua, makanya aku minta pendapat kamu. Nanti, kamu juga harus punya andil dalam menata interior rumah, oke? Biar kamu bisa lebih nyaman tinggal di rumah baru." Juna menjelaskan dengan sabar.


"Tapi, kalau nanti kita tinggal berdua, bagaimana?" Tanya Ira kemudian, dengan suara lirih. Gadis itu lantas menunduk, tak bisa menyembunyikan rona kesedihan. "Ira takut kalau nanti, mas Juna mengulangi, selingkuh lagi." Ungkapnya.


Perlahan, Juna meraih tangan kiri Ira, menggenggamnya dengan tangan kanannya.


"Maka, kamu harus bisa menjaga suami kamu biar nggak jelalatan di luar." Ucap Juna, dengan maksud agar Ira bisa memperlakukan Juna dengan baik.

__ADS_1


"Kayak kemarin itu, yang mas Juna jelalatan sama Keysha?" tanya Ira dengan polosnya.


Sontak saja Arjuna mengedipkan matanya beberapa kali, bingung harus menjawab apa dan bagaimana.


"Ya, bukan begitu juga maksudnya, Ra." Jawab Juna sambil menggaruk pelipisnya yang tak gatal.


"Maksudnya, kamu bisa melayani suami kamu dengan baik, memberikan kenyamanan dan membuat suami kamu betah di rumah. Aku janji, aku nggak bakalan mengkhianati kamu lagi, akan menjaga perasaan kamu, dan aku tulus dan serius mau berubah."


"Gimana kalau nanti mas Juna membohongi Ira?" Tanya Ira kemudian.


"Nggak akan, selama kamu nggak menuduh aku yang bermacam-macam."


"Apa jaminannya?" Tanya Ira kemudian, sambil menatap mata suaminya kejar-kejaran.


Arjuna hanya bisa mengelus dada bidangnya. Sudah dari tadi Juna berusaha untuk sabar, namun agaknya Ira selalu menguji kesabarannya. Andai usia Ira tak sebelia ini, mungkin Ira tak akan sepolos ini.


"Kamu mau jaminan apa?" Tanya Juna balik menantang Ira.


"Ira mau, mas Juna benar-benar berubah, dan buang semua kenangan atau segala hal yang berkaitan sama Keysha." Jawab Ira kemudian.


"Lah, kan aku udah berjanji sebelumya, Ra." Ungkap Juna kemudian.


"Tapi janji mas Juna nggak sungguh-sungguh." ucap Ira.


Arjuna yang merasa gemas sendiri pada Ira, sontak saja membungkam bibir kenyal wanita itu, dengan bibirnya. Harusnya Ira diam tak memancing Juna, tapi rupanya Ira telah berhasil membuat Juna hanyut.


Hingga kemudian Ira yang terkejut tiba-tiba berontak, Arjuna justru larut dalam sebuah rasa nikmat dan enggan untuk menyudahi. Alih-alih menyudahi, Arjuna justru semakin terbawa arus gairah.


Dan sore ini, Arjuna kembali melakukannya bersama Ira, sang istri. Tanpa paksaan, dan juga tanpa penolakan dari istrinya itu.

__ADS_1


**


__ADS_2