
Suara benda berbahan beling berjatuhan ke lantai, hingga berubah menjadi kepingan berbahaya bila terkena kulit. berkali-kali Keysha mengamuk dan membanting banyak perabotan yang ada di dalam apartemennya.
Suara amukan dan jeritan Keysha, mendominasi seluruh ruangan apartemennya. Wanita itu menatap nanar ponsel yang hancur dan berserakan di lantai. Pesan penolakan dari Juna, berhasil membuat Keysha murka. Ia merasa bukan lagi bagian paling penting dalam hidup lelaki itu.
Selain penolakan, Keysha juga masih tak terima karena Juna belum juga memenuhi syarat darinya, yakni menghabiskan waktu sehari semalam berduaan. Inilah puncak kemarahan wanita itu. Ia tak bisa menunggu hal ini terlalu lama.
Bel apartemen berbunyi, Keysha bisa memastikan bahwa Rena telah berdiri di depan pintu. Dengan langkah gontai, wanita itu berjalan menuju pintu dan membukanya.
"Astaga, apa yang tejadi, Sha? Lo hancurin apartemen Lo sendiri? Kenapa berantakan banget?" Tanya Rena dengan mata mengedar ke seluruh ruangan, tanpa berkedip. Wanita yang diminta datang oleh Keysha tadi, padahal malam telah larut, dan Rena baru pulang kerja dari bar. Rena bekerja sebagai kaki tangan mami Cherry, pemilik bar tempatnya bekerja.
"Rencana gue gagal lagi. Juna nggak datang dan dia justru menolak gue mentah-mentah." Ungkap Keysha dengan sebal. Ia tak menyangka, Juna bisa mengabaikan dirinya, sementara dulu Juna adalah budak cinta Keysha.
"Ya ampun, cuman perkara Juna nggak datang, Lo sampai se-ngamuk ini." Rena masuk, menuju ke kamar Keysha dan menariknya agar ikut masuk, usai pintu tertutup.
"Apa-apaan sih, Lo? Bisa-bisanya Lo bertindak kayak orang bodoh. Tanpa kedatangan Juna pun, Lo nggak bakalan jadi abu. Masih ada banyak cara lain yang bisa Lo pakai untuk menaklukkan Juna. Kalau Juna nggak bisa ditaklukkan, Lo tekan dia. Cerdas dikit lah jadi orang." Rena meletakkan tasnya di atas meja. Sofa minimalis di sudut kamar Keysha, adalah pilihannya.
"Gue udah sulit berpikir. Mengajukan syarat dengan meminta waktunya sehari semalam, gagal karena kedatangan istrinya. Ini juga pura-pura sakit, dia tetap nggak mau datang. Heran gue, apa sih, lebihnya anak pembantu itu. Gue nggak bisa kalau harus nunggu terlalu lama. Harus pakai cara apa lagi, biar Juna bisa datang nyamperin gue?" Keysha mendesah putus asa.
Bisa Rena lihat dengan jelas, sudut mata Keysha yang berair. Selama ini, Keysha bahkan tak pernah menangis dan selalu kuat menghadapi badai kehidupan.
"Dia, menaklukkan dia udah kayak nggak mungkin lagi, jadi, Lo harus menekannya." Ucap Rena.
"Dengan cara apa?"
Rena berbisik di telinga Keysha. Entah apa yang Rena bisikkan. Yang jelas usai mendengar bisikan dari Rena, senyum kembali terbit di bibir Keysha.
__ADS_1
**
Pagi datang tanpa terasa. Di dalam kamar Arjuna dan Ira, keduanya masih tampak nyaman berguling di dalam selimut.
Ira tampak mengerjapkan matanya beberapa kali, merasa berat untuk bangun, namun pagi sudah menyuruhnya untuk segera bangun.
Wanita itu menatap ke samping, dimana suaminya juga masih terlelap dengan nafas teratur. Sejenak, senyum Ira terbit. Bayangan semalam Juna mencumbunya dengan gerakan yang luar biasa membuat Ira malu, terngiang dalam kepalanya.
"Mas, bangun. Udah siang." Ucap Ira untuk membangunkan suaminya. Naasnya, bukannya bangun, Juna justru memiringkan tubuhnya dan justru memeluk perut Ira layaknya guling.
"Mas? Ih, kok makin nyaman sih tidurnya?" Tukas Ira sambil berusaha untuk menyingkirkan kaki dan tangan suaminya. Cukup berat memang, namun Ira merasa tak nyaman. "Mas? Bangun dong!" Seru Ira lagi.
"Enggh.... nanti. Lima menit lagi." Gumam Juna kemudian. lelaki itu benar-benar ngantuk berat akibat kelelahan. Bahkan saat Ira sudah terlelap, nyatanya Juna masih membuka mata karena kepikiran tentang Keysha. Beruntung, Juna sudah meneguhkan hatinya untuk tak dekat dengan Keysha lagi. Juna memang harus tegas menolak kehadiran Keysha.
Di tempatnya, Juna tersenyum penuh makna. Pagi ini adalah pagi terindah baginya. Niat hati yang ingin tidur lagi lima menit, ia urungkan karena Ira berlalu. Rasa nyaman menelusup ke dalam hatinya.
"Mas, aku mau ikut bik Narsih ke pasar. Nanti sarapan biar disiapin bik Ani, ya?" Ucap Ira, sambil keluar dari kamar mandi, dengan hanya menggunakan handuk.
"Kamu jangan iming-iming lagi, nanti kuterkam lagi, baru tau rasa." Ucap Juna sambil bangkit dan menyandarkan bahunya pada bahu ranjang.
"Makanya cepat mandi. Apa aku masakin dulu, ya? Nanti baru ke pasar." Ungkap Ira yang tengah bimbang.
"Baiklah, biarin aku aja yang antar ke pasar. Kamu siap-siap aja. Kita sarapan nanti sepulang dari pasar. Aku berangkat agak siangan ke kantor." Jawab Juna yang bangkit, dan berlalu ke kamar mandi tanpa sehelai benang pun.
Ira mendadak tak nyaman. Rasa malu bercampur dengan gelenyar aneh pada tubuhnya, membuat Ira memalingkan wajahnya.
__ADS_1
Usai Juna mandi, ia tak mendapati istrinya di dalam kamar. Yang ada hanyalah setelan baju kasual yang pasti Ira lah yang menyiapkan. Senyum simpul terbit di bibir Arjuna.
Setelah selesai berganti baju, Juna lantas meraih dompet, ponsel dan kunci mobilnya. Sepertinya istrinya itu sudah berada di bawah, jika tak di dapur.
"Ra, ayo berangkat sekarang." Ajak Juna dengan suara lantang, saat ia melihat Ira berada di halaman belakang, dan tengah berbincang dengan bik Narsih. Tentu saja Ira menoleh, mendapati Juna melambaikan tangan ke arahnya.
"Iya, mas." Ira pamit pada bik narsih.
Perjalanan menuju pasar kali ini, Arjuna merasa paranoid. Pasalnya, Juna selama ini tak pernah pergi ke pasar jika mama ningsih meminta ia mengantar untuk belanja, melainkan pergi ke supermarket terdekat. Perasaan Juna seolah mengatakan, ia harus menghentikan perjalanan kali ini.
"Ra, kita pergi ke supermarket aja, ya?" tanya Juna untuk merayu istrinya itu.
"Di pasar itu nanti pasti becek, banyak orang, dan ya, bau." Ungkap Juna.
"Lebih enak di pasar lah, mas. Selain harganya lebih terjangkau, di sana bisa nawar harga. Yang jual juga banyak, mereka bersaing harga. Kan lumayan tuh bisa berhemat." Ungkap Ira.
Arjuna hanya memijit pelipisnya yang tak gatal. Selama ini, sebanyak apa pun belanjaan dirinya dan mama, ia tak pernah mempermasalahkan harga. Ira memang berbeda dengan dirinya.
"Berapa sih selisihnya sama di supermarket? Lagian lebih nyaman di supermarket daripada di pasar. Paling juga selisihnya dikit. Gimana?" Tanya Juna yang tak menyerah untuk mempengaruhi istrinya.
"Tapi aku udah lama nggak ke pasar, mas. Aku udah kangen suasana pasar."
Akhirnya, Juna menyerah. Setelah tiba di pasar, Juna dan Ira segera turun. Tak ayal, Juna segera menahan nafas untuk menghalau bau khas pasar. Mendadak, perut Juna mual karenanya.
**
__ADS_1