Cinta si Anak Pembantu

Cinta si Anak Pembantu
Di rumah sakit


__ADS_3

Malam hampir larut, ketika Arjuna dan kedua temannya berada di kantin rumah sakit. Tiga bersahabat itu menatap sekitaran kantin yang sangat sepi. Pegawai kantin pun sudah mulai beberes untuk menutup kantin.


"Jadi, siapa yang sudah berani melakukan hal ini ke istriku?" Tanya Juna pada Rehan dan Aryo. Mata tajam Juna, menatap bergantian pada kedua sahabatnya itu.


"Anak jalanan yang cuman sekedar suruhan, namanya Omin. Belum tahu pasti siapa uang nyuruh dia. Tapi yang jelas, dia terakhir kali ketemu seseorang yang benar-benar benci sama istri kamu." Jawab Aryo.


"Siapa? Jangan bertele-tele. Bilang aja siapa yang udah nyuruh laki-laki itu." Ujar Arjuna tak sabaran.


Rehan dan Aryo saling tatap. Mereka sama-sama tersenyum tipis, memiliki kesimpulan bahwa Arjuna memang mulai mencintai Ira.


"Keysha. Mantan kekasih kamu sendiri." Jawab Rehan kemudian. Lelaki itu lantas menatap dalam Arjuna.


"Gimana tanggapan kamu? Kira-kira, apa yang bakalan kamu lakukan setelah tahu semuanya, setelah tahu kalau Keysha dalang dibalik celakanya istri kamu?"


Arjuna tercenung di tempatnya. Ada banyak hal yang tak pernah Arjuna sangka, termasuk kenekatan Keysha.


"Aku akan kasih dia pelajaran. Meski sulit dipercaya, tapi memang itu adanya, kan?" Tanya Arjuna. "Aku beneran nggak nyangka, Keysha bisa sepicik itu. Dia tega sama Ira yang sesama perempuan seperti dirinya." Tambah Arjuna kemudian.


"Apa selama ini, kamu benar-benar mengenal karakter Keysha yang kayak gitu." Tanya Aryo lagi. "Ini sih sekedar saran, kayaknya kamu harus ekstra menjaga istri kamu, menyewa body guard misalnya. Aku sih ada keyakinan, ke depannya, Keysha nggak akan pernah berhenti mengganggu istri kamu itu."


"Aku setuju sama Aryo." Timpal Rehan.


"Siapa yang bisa menebak, Keysha nggak akan gelap mata dan kembali menyakiti Ira? Sebelum terlambat, mending kamu temui dia, deh. Tanya baik-baik, apa mau dia. Jangan lupa juga, kamu perlu menyadarkan dan kasih dia pengertian, kalau kalian nggak mungkin bisa bersatu lagi." Tambah Rehan lagi.


"Sebelumnya, aku nggak pernah menemui Kesha yang bisa sejauh ini. Biasanya dia penuh perhitungan, dan aku nggak nyangka banget, dia bisa senekat ini." Ungkap Arjuna kemudian. Laki-laki itu menatap kedua temannya bergantian.


"Jangan buang waktu lagi, segera temui Keysha dan tanya apa maunya. Ingat, Juna. Jangan hubungi dia. Cari dia dan temui tanpa adakan janji. Kalau dihubungi duluan, dia bakalan besar kepala." Aryo menasihati.


"Aku paham apa yang harus aku lakukan." Arjuna menatap kedua temannya bergantian. Pria itu sudah tahu, mana wanita yang benar-benar baik dan pantas untuk dirinya. Arjuna mulai sadar.

__ADS_1


**


"Engghh .... " Ira melenguh saat kesadaran wanita itu kembali. Kepala wanita itu terasa berat dan juga entah mengapa, rasanya sangat tak nyaman.


Bau yang pertama kali Ira tangkap adalah, aroma obat-obatan beserta desinfektan yang cukup mengganggu indera penciumannya. Aroma uang selalu Ira benci sejak kecil.


"Ra, kamu bangun?" Arjuna bergumam lirih, saat tengah malam Ira terbangun dari kritisnya. Hati Juna terasa berdegup kencang, saat jemarinya menggenggam tangan istrinya.


"Mas? Aku dimana?" tanya Ira lirih.


"Kamu di rumah sakit. Jangan banyak bicara dulu, aku akan panggilkan perawat dan dokter yang berjaga." Ujar Juna sambil melepas genggaman tangannya dan berlalu keluar dari kamar.


Asih sudah pulang selepas isya tadi, karena Juna memaksa agar mertuanya itu istirahat di rumah. Meski sempat berdebat sedikit, akhirnya asih menurut dan memilih pulang dengan diantar pak Yono. Kini, hanya Juna seorang diri yang menunggui Ira.


Setelah menjalani serangkaian pemerikasaan, dokter menyatakan bahwa kondisi Ira sudah mulai membaik. Hanya saja, Ira perlu istirahat lebih banyak lagi.


Sepeninggal dokter, Arjuna menutup pintu rapat-rapat. Lelaki itu menghampiri Ira yang wajahnya nampak pucat. Balutan perban di kepala Ira, membuat Arjuna merasa tak tega. Entah, baru kali ini Arjuna merasa seperti ini.


"Ibu baru pulang sekitar satu jam yang lalu. Syukurlah kamu sadar. Semua orang khawatir sama kamu." Ungkap Juna kemudian.


"Makasih banyak, mas, mas Juna udah menunggui Ira." Kata Ira, dengan suara pelan. "Maaf udah bikin semua orang pada ribut." Tambah Ira lagi.


"Jangan ngomong gitu. Udah jadi kewajiban suami, menunggui istrinya yang sakit. Kamu harus semangat untuk sembuh." Tegas Juna.


"Istirahatlah, Dokter bilang, kalau kamu harus banyak istirahat."


Jemari Juna berangsur meraih dan menggenggam jemari kanan istrinya, yang tak terpasang jarum infus.


"Mas, siapa, ya, yang sudah nabrak Ira?" Tanya Ira, ketika wanita itu mengingat, terakhir kali ia sadar. "Aku nggak begitu ingat kejadiannya. Tapi yang jelas, aku di serempet motor sampai terpental di jalanan beraspal."

__ADS_1


"Jangan pikirin itu. Semua itu udah jadi kerjaan petugas kepolisian." Ucap Juna. Genggaman tangan Juna pada Ira, semakin erat.


Hening. Keduanya terdiam dan sama-sama terjebak dalam kebisuan. Harusnya Ira istirahat dan lebih banyak menenangkan pikiran. Sayangnya, Ia tak bisa memejamkan mata, akibat gejolak rasa di dalam hatinya.


"Mas, apa mas Juna khawatir dengan keadaan Ira yang seperti ini?" tanya Ira tiba-tiba.


"Kamu ini tanya apa? Tentu saja aku khawatir sama kondisi kamu." Ungkap Juna kemudian.


"Apa itu artinya ... mas Juna udah benar-benar cinta sama Ira?" Tanya Ira lagi.


Arjuna mendongak, mendapati istrinya itu yang sedang menatapnya dalam. Lelaki itu diam dan mengerjapkan matanya beberapa kali. Jika boleh jujur, Arjuna sudah merasa nyaman dengan kebersamaan dirinya dan Ira. Lalu, apakah itu bisa disebut cinta?


Cinta . . . .


Arjuna dulu merasa ia sangat mencintai Keysha. Sayangnya, ia baru sadar bahwa apa yang ia rasakan pada Keysha, adalah nafsu, bukan cinta. Dan saat ini, Arjuna merasakan getaran yang dahsyat saat ia melihat dan menyentuh istrinya itu, sesuatu yang tak pernah ia rasakan saat menyentuh Keysha. Apakah itu yang disebut sebagai cinta yang sesungguhnya?


"Ya. Aku sayang dan cinta sama kamu." Jawab Juna, membuat Ira tersenyum lebar dan merasa lega. Sakit pada seluruh tubuhnya akibat kecelakaan, mendadak menguap entah kemana.


'Aku harap yang aku rasakan ini benar-benar cinta, Ra. Aku ingin rumah tangga ini berhasil suatu saat nanti.'


Batin Juna kemudian.


"Makasih ya, mas. Makasih karena kamu udah nepati janji kamu." Ungkap Ira dengan wajahnya yang semringah hebat.


"Tentu, Ra. Tapi, aku ingin kamu berjanji sama aku, kamu jangan pernah pergi kemanapun, kalau nggak sama aku." Ucap Juna.


"Iya, aku janji." Jawab Ira.


Kini, sepasang suami istri itu tengah merasakan euforia kebahagiaan. Keduanya hanya tak sadar, sesuatu tengah mengintai keselamatan rumah tangga mereka.

__ADS_1


**


__ADS_2