Cinta si Anak Pembantu

Cinta si Anak Pembantu
Penderitaan mengintai


__ADS_3

"Mari kita berpisah, Keysha. Aku nggak bisa kayak gini terus, menunggu kamu, tapi kamu masih sibuk membangun mimpi dan karier kamu." Ucap Juna tiba-tiba, ketika mereka tengah makan siang bersama.


Pagi tadi, setelah drama kemarahan dan kekecewaan mama dan papa, dan juga drama permintaan Ira yang cukup logis, kini Juna sudah memutuskan untuk menyudahi Hubungan kasihnya bersama Keysha. Ada banyak hal yang membuat Juna lebih memilih keluarga dan juga istrinya, meski ia telah mencintai Ira.


"Apa-apaan kamu ini, mas? Kamu kenapa tiba-tiba minta pisah, sementara aku udah fine-fine aja kamu duakan? Ada apa sama kamu?" Keysha menyudahi makannya. Beruntung, makan siangnya sudah tandas karena Keysha sudah menghabiskannya.


"Aku nggak bisa menunggu kamu lebih lama lagi, sha. Kamu tau sendiri usiaku bahkan sudah beranjak nyaris setengah baya karena nunggu kamu, tapi kamu nggak juga mau menikah dengan aku." Juna menjawab dengan nada tenang.


"Kamu kenapa sih, mas? Ya ampun, jangan ngomong gitu, deh. Bercanda kamu nggak lucu." Tukas Keysha kemudian. Wanita itu meminum kembali minumannya, demi membasahi kerongkongannya yang nyaris terbakar karena Juna.


"Aku serius, Sha. Aku nggak lagi bercanda. Kamu tahu sendiri kalau aku nggak mungkin bercanda untuk hubungan kita." Jawab Juna tegas.


"Nggak. Aku nggak akan mau kalau harus pisah sama kamu." Tegas Keysha.


"Kalau kamu nggak mau pisah sama aku, aku akan melawan orang tuaku, dan akan lebih milih kamu. Sayangnya kamu nggak mau menikah sama aku Aku udah nggak mungkin nunggu lebih lama lagi, Sha. Aku juga udah nggak menyentuh istriku selama kami menikah, semua itu hanya demi kamu. Lama-lama, aku juga kasihan sama dia yang udah setia nunggu, sabar menghadapi aku. Aku juga lelah berada di titik melelahkan ini, Sha. Tolong, tolong kamu mengerti aku." Nada bicara Juna mulai di tekan.


"Terus, kamu mau kisah kita benar-benar, berakhir begitu, mas? Mas, apa kamu tega?" Keysha mulai mengeluarkan jurus air mata andalannya.


Arjuna di tempatnya hanya duduk, tak bergeming sama sekali pada Keysha yang telah menangis di depannya. Juna bertekad, ia harus kuat dan tak mau Pendiriannya goyah.


"Mas, Aku mohon, tolong kamu jangan begini. Beri aku kesempatan satu tahun lagi." Keysha tak berhenti berusaha untuk tetap membuat Juna bertahan di sisinya.


"Nggak, Sha. Maaf, kali ini aku udah mengambil keputusan yang menentukan bagaimana masa depanku." Ucap Juna, sembari terus menatap ke arah Keysha.


Keheningan seketika menyelimuti keduanya. Juna tetap bertahan pada keputusan finalnya, juga Keysha yang terus mengalirkan air matanya. Wanita itu, takut kehilangan Arjuna.


"Aku harus segera pulang, Sha. Maaf." Juna bangkit dan hendak berlalu pergi, ketika tangannya, Keysha mencekal lengannya.

__ADS_1


"Apa nggak bisa dipikir lagi, mas?" Tanya Keysha.


"Nggak bisa, Sha. Maaf." Tukas Juna kemudian.


"Oke, aku akan melepaskan kamu. Asalkan kamu beri aku satu kesempatan untuk membersamai kamu, satu hari satu malam aja. Aku mau ada sesuatu yang berkesan sebelum kita benar-benar berpisah, mas." Pinta Keysha.


Inilah akhirnya, Juna paham, akan selalu ada permintaan dari Keysha dalam setiap momen. Sejak dulu Keysha memang selalu begitu.


Arjuna tampak berpikir sejenak. Mungkin baginya, tak ada salahnya bila seandainya ia memberikan sesuatu pada keysha, sebagai kenangan terakhirnya.


"Nanti aku kabari lagi, waktunya." Sahut Juna sambil melepas paksa tangan Keysha yang memegang lengannya. Sayangnya, Juna tidak tahu jika ia telah meninggalkan Keysha yang tersenyum licik padanya. Keysha, wanita itu tengah merencanakan sesuatu padanya.


**


Di sudut lain, Ira tengah mengamati sepasang kekasih yang tengah terlihat seperti bersitegang itu. Mereka adalah Keysha dan juga Juna yang tengah bersitegang yang entah apa mereka bicarakan.


Sebenarnya, Ira tak tega bila ia harus melihat Keysha menangis tadi. Hanya saja, Ira tak mungkin harus mengalah terus-menerus dan memberikan celah untuk Arjuna berselingkuh.


"Pak Yono, kayaknya mas Juna udah pulang. Ayo kita pulang aja. Nanti kalau mas Juna tanya, bilang aja nganter Ira belanja, ya. Jangan sampai bilang kalau Ira menguntit mas Juna dan pacarnya." Pinta Ira.


Tentu saja sang sopir yang dipanggil pak Yono itu, mengiyakan sembari mengangguk paham. Pak Yono juga tidak hanya sekali ini mendapati majikan mudanya itu melakukan pertemuan dengan sang kekasih. Sebelum-sebelumnya, ia dan Ira sudah tahu bahwa Juna kerap kali bermain di belakang Ira.


"Iya, non."


Keduanyapun pulang dengan perasaan lega.


"Kayaknya, mas Juna udah mutusin pacarnya deh, pak. Itu kelihatan tuh, ceweknya sampe nangis-nangis." Ira tersenyum lebar. Matanya menampakkan binar kebahagian yang luar biasa.

__ADS_1


"Semoga ke depannya, rumah tangga kalian jadi lebih harmonis ya, non. Saya juga berharap den Juna mau berubah. Selama ini, non hebat karena bisa mengimbangi mas Juna, bertahan di sisi mas Juna."


"Amin, terima kasih ya, pak, atas doanya. Oh ya, ngomong-ngomong, jangan panggil non deh, panggil mbak Ira aja kayak biasanya. Ira risih loh, pak. Tiap hari, kalau dulu kan pak Yono panggil Ira dengan panggilan mbak?" Tukas Ira.


"Nggak apa-apa, non. Nanti saya di marahin ibu." Jawab pak Yono.


"Iya juga sih, ya." Ira tertawa kemudian, disusul pak Yono yang ikutan tertawa.


Sebagai sama-sama berasal dari kaum menengah kebawah, Ira dan pak Yono sebenarnya sudah akrab sejak dulu. Namun semenjak Ira dipersunting oleh Juna, pelan-pelan semua pembantu, sopir, dan tukang kebun keluarga Juna, mendadak seperti menjaga jarak dari Ira.


"Oh ya, kalau boleh tahu, apa non Ira pernah ketemu bertatap muka secara langsung dengan pacarnya mas Juna?" Tanya pak Yono tiba-tiba.


"Pernah, waktu itu sebelum berangkat ke Bali untuk bulan madu, itu paginya mas Juna bawa Ira jalan-jalan, dan mas Juna ketemuan sama pacarnya. Ira nunggu di mobil." Ucap Ira.


"Hah? Serius, non?"


"Iya, kenapa pak Yono tanya gitu? Nggak percaya? Malahan, Ira sempat melempar kalimat tajam ke pacarnya mas Juna."


"Wah, non Ira hebat mah. Coba kalau cewek lain, mungkin udah nangis."


"Jangan salah, pak. Ira bahkan saat itu menangis terus. Padahal kalau dipikir-pikir, Ira nggak sebegitu punya perasaan sama mas Juna. Tapi sekarang, Ira mulai menyayangi mas Juna, pak. Rasanya tuh kalau mas Juna lagi tugas di luar kota, Ira kangen banget." Tukas Ira.


"Pak Yono doakan semoga rumah tangga kalian langgeng dan segera membaik, non."


"Terima kasih banyak, pak Yono. Pak Yono sudah seperti ayah Ira sendiri."


Keduanya kini dalam perjalanan pulang. Ada banyak hal yang membuat Ira semakin bahagia. Sayangnya, Ira hanya tidak menyadari bahwa saat ini, penderitaan yang sesungguhnya tengah mengintainya di masa depan.

__ADS_1


**


__ADS_2