Cinta si Anak Pembantu

Cinta si Anak Pembantu
Tertangkap


__ADS_3

Tak seperti pagi sebelumnya, Arjuna mendadak sedih pagi ini. wajahnya yang mendung, mengisyaratkan bahwa hatinya tengah terluka, karena sang istrinya kembali tak berdaya akibat ulah mantan kekasihnya.


Beruntung pagi tadi pak Yono bergerak cepat, meringkus Omin begitu Omin keluar dari area taman samping, dan berlari menuju gerbang. Wajah Omin, rupanya telah dikenali pak Yono dan Arjuna saat Ira kecelakaan. Hingga kemudian Omin sempat dihajar pak Yono dan dibawa ke rumah sakit, sementara Arjuna bergegas membawa Ira begitu kaki Ira dipatuk ular.


Dulu di mata Arjuna, Keysha adalah sosok sempurna dengan kebaikan yang melekat dalam dirinya. Namun siapa yang tahu, akhirnya Keysha berubah total semenjak dirinya kehilangan Arjuna.


Adakah maaf?


Tidak lagi. Beruntung pagi tadi pak Yono dengan sigap meringkus Omin yang kini tengah berada di kantor polisi. Bahkan lelaki itu mengatakan, jumlah nominal yang Keysha berikan padanya demi bisa mencelakai Ira.


Jangan tanya lagi bagaimana Ira sekarang. Istri Arjuna itu masih terbaring tak berdaya di rumah sakit. Wajahnya yang pucat pasi, akibat syok dan juga gigitan ular berbisa pada kakinya itu, kembali membuat Arjuna merasakan nyeri di dadanya. Sekali lagi, Arjuna merasa sakit di dadanya.


"Bagaimana, Jun? Kamu masih mau ngasih toleransi lagi ke Keysha, setelah semua yang terjadi ini?" Aryo menatap Arjuna yang kini tengah memejamkan mata, di sofa sudut ruang rawat Ira.


"Kali ini nggak lagi. Kamu tahu sendiri kalau si Omin sudah diringkus, diamankan di kantor polisi. Aku menunggu Keysha datang kesini sendiri, dan meminta maaf. Kalau dua kali dua puluh empat jam Keysha nggak datang, ya terpaksa aku hancurkan kariernya sekalian," jawab Arjuna yang masih memejamkan mata.


Lihat saja, bahkan Arjuna menjawab dengan santainya. Lelaki itu seolah malas membahas masalah ini. Kalimatnya terdengar santai, namun kedua sahabatnya yang tengah menjenguk Ira ini tahu, raut Arjuna mengandung kemarahan yang luar biasa menggelegak.


"Bagus. Kali ini jangan ada lagi toleransi, jangan ada lagi maaf dan lembek menghadapi wanita kayak Keysha. Kalau kamu kurang tegas, nyawa istri kamu bisa melayang kapan aja. Baru juga beberapa hari si Ira keluar dari rumah sakit, sekarang udah kembali menghuni rumah sakit. Siapa yang tahu, nyawa istrimu dengan mudah dalam genggaman Keysha," kali ini Rehan yang menimpali.


"Aku menyesal, dulu sangat mencintai Keysha, bersedia melawan Mama demi membela dia dan nungguin dia sampai dia siap menikah. Siapa yang menyangka, akhirnya Keysha bisa senekat ini?" Arjuna membuka mata, menegakkan duduknya dan menatap kedua sahabatnya bergantian.

__ADS_1


"Kalau misalnya Keysha nggak datang untuk meminta maaf, gimana?" Aryo kembali melontarkan tanya.


"Ya polisi yang akan menjemputnya. Rasa-rasanya, aku udah nggak butuh maaf dari dia lagi. Ini masalah nyawa, nyawa istriku yang nggak ada harganya di mata Keysha," jawab Arjuna kemudian.


Perjodohan dengan Ira, nyatanya telah membawa hal baik dalam hidup Arjuna. Ia banyak berubah, karena pengaruh positif dari wanita itu. Mulai dari kebiasaan buruk Juna dari bangun tidur hingga tidur lagi, sampai pada makanan dan kebutuhan Arjuna, semua sangat tertata.


"Bagus. Setidaknya kalau nanti kamu butuh bantuan, jangan pernah sungkan untuk meminta tolong. Aku sama Rehan pasti akan bantu kamu. Kasihan Ira, dia wanita polos, tapi menjadi korban dari ulah Keysha," Aryo kembali menimpali.


"Pasti," Arjuna tersenyum, merasa tidak sendiri kali ini.


**


Ningsih dan Iskan segera berjalan menuju ke kantor polisi, data di rumah sakit tadi ia mendengar bahwa si pelaku pemberi ular di rumah Arjuna, telah diamankan polisi. Sebagai mertua yang sangat menyayangi Aira dengan sangat dalam layaknya putri sendiri, Ningsih maupun Iskan tidak terima bila Ira dicelakai.


Ningsih dan Iskan demikian syok, ketika ia mengangkat telepon dari Juna dan dikabari bahwa Ira masuk rumah sakit lagi. Kali ini Ningsih benar-benar merasa kalau dan tidak bis menjaga menantunya dengan baik, padahal dirinya sudah berjanji pada ibunya Ira untuk menjaga Ira.


"Ma, tenang dulu, Ma. Mama jangan gelisah gini. Pasti nanti ada jalan keluarnya dan kita tanya, apa motif pelaku. Kita memang nggak terima Ira dicelakai begini, tetapi ya kita harus tetap tenang dan jangan barbar," Iskan memberi nasihat.


Sudah berkali-kali Iskan memberitahu Ningsih, agar Ningsih bisa lebih tenang. Tetapi Ningsih sejak tadi selalu mendesak suaminya untuk mengemudikan mobilnya dengan cepat.


"Mama nggak bisa tenang, Pa. Papa tahu sendiri, kalau Ira itu udah kita ambil alih dari ibunya, agar anak itu bisa mendampingi Juna dan kita janji sama ibunya, Kuta akan menjaganya. Tapi lihat sekarang, Ira jutsru kembali masuk rumah sakit. Mama janji sama diri Mama sendiri, Mama nggak akan pernah memaafkan pelakunya, apapun motifnya," sahut Ningsih dengan suara gemetar dan menggebu-gebu. Ia marah sekali saat ini.

__ADS_1


"Iya, Papa ngerti. Tapi kita juga harus berpikir cerdas. Jangan sampai nanti kemarahan kita, memicu dendam pelaku dan kembali menyakiti Ira. Nyawa orang taruhannya. Cuman kan ya, kita nggak tahu, dalang utamanya siapa. Alangkah baiknya, kita tahu dulu otaknya. Setelahnya, biar papa yang memikirkan cara untuk memberi pelajaran itu orang," sahut Iskan lagi.


"Papa bener," jawab Ningsih kemudian, dengan suara pelan.


Disaat yang bersamaan, Ningsih tiba di kantor polisi, dimana tempat Omin mendekam. Wanita itu segera disambut oleh salah satu polisi yang menjadi sahabat Iskan juga. Ketiganya berbincang, sambil berjalan menuju sel tempat Omin ditahan.


"Jadi, gimana? Dia sudah ngaku tentang identitasnya, dan orang yang menjadi bosnya?" Ningsih bertanya pada seorang polisi yang bernama Reno, teman Iskan tersebut.


"Sudah. Tapi alangkah baiknya, mbak Ningsih tanya sendiri ke dia," Reni menjawab pelan.


"Aku nggak habis pikir, dia kok mau-maunya disuruh melakukan kejahatan. Harusnya dia menolak. Uang memang seringkali membuat seseorang rela melakukan apa saja," Iskan bergumam lirih. Hingga kemudian mereka menemukan sel, dimana Omin di tahan.


Baik Iskan maupun Ningsih menatap lelaki kurus itu, yang tubuhnya dipenuhi tato. Tampang Omin yang seperti preman, pantas saja melakukan kriminal.


"Siapa nama kamu?" tanya Iskan dengan nada suara yang begitu dingin. Pendar matanya menunjukkan, jika Iskan sangatlah marah.


"Omin," jawab laki-laki itu, menatap Iskan dengan tatapan terpana. Lelaki itu meneguk salivanya yang mendadak menggumpal dalam kerongkongan. Masalah besar untuknya, telah datang.


"Jadi, apa yang kamu inginkan sekarang? Saya akan bunuh kamu dengan uang yang saya punya, jika kamu berani membohongi saya. Siapa yang sudah menyuruh kamu mencelakai menantu saya?" Ningsih menatap tajam Omin yang berhasil diintimidasi.


"Namanya Keysha, Bu.

__ADS_1


**


__ADS_2