Cinta si Anak Pembantu

Cinta si Anak Pembantu
Kepasrahan Arjuna


__ADS_3

Dalam benak Ira, tak pernah sedikit pun terlintas dalam benaknya ia akan bisa membuat Juna berubah dan bersedia menerimanya, membuka pintu hatinya, dan memberikan hasil manis pada perjuangan Ira. Seperti hari kemarin, Juna bahkan lebih manis dan bersikap selalu lembut padanya.


Dan pagi ini, Ira begitu tercengang saat bangun tidur, Juna refleks mencium keningnya. Ciuman kening kedua, yang pernah Juna berikan selain saat pernikahan mereka dahulu. Kini, Ira benar-benar dibuat melayang tinggi, merasa seolah-olah Juna telah mengangkat posisinya di hati Juna. Hati istri mana yang tak suka?


"Ra, hari ini aku mau pamit sama kamu, mungkin sore nanti, sampai malam, aku harus keluar kota sama Aryo dan Rehan. Mungkin pulangnya besok sore atau siang. Maaf, ya, aku nggak bisa ajak kamu, karena ini acara Aryo yang khusus laki-laki." Ucap Juna lembut.


Sejujurnya, hatinya sedih manakala ia harus membohongi Ira. Tapi Juna harus melakukannya demi menyudahi kebohongannya. Bukankah ini jalan yang terbaik? Ya, terbaik bagi Arjuna. Tapi entah bagaimana untuk Ira.


"Memangnya meskipun istri sendiri, nggak boleh ikut? Tanya Ira yang terlihat seperti kecewa. Kan Ira ini istri mas Juna." Ungkap Ira kemudian.


"Maaf, Ra. Tapi ini acara laki-laki. Kalau kamu ikut, kamu bakal jadi perempuan satu-satunya yang terlibat dalam acara. Gimana dong? Aku takut kamu nanti kenapa-kenapa kalau kumpulnya sama teman-teman aku. Lagian ini juga acara teman-teman sekolahku, khusus laki-laki." Juna berusaha tetap tenang.


"Kenapa Ira harus kenapa-kenapa? Bukannya ada mas Juna yang akan melindungi Ira?" Ucap Ira kemudian.


"Nggak semudah itu. Oke gimana kalau gini aja, kamu nggak usah ikut, nanti lain waktu, aku akan ganti dengan jalan-jalan berdua? Ya, kita liburan, atau pergi ke mana pun yang kamu mau. Gimana?" ungkap Juna untuk memberi solusi.


"Ya udah deh, nggak apa-apa." Sahut Ira.


Refleks saja, Juna memeluk Ira dan membuat Ira bereaksi seperti biasanya, deg-degan tak karuan.


Meski ada rasa tak enak dan merasa berdosa sekali, namun Juna memang harus melakukannya. Ia hanya tidak mau, jika nanti terus menerus membohongi Ira dan berakhir ketahuan. Toh ini adalah kebohongan terakhir Juna pada Ira.


"Terima kasih, ya?" Juna mengusap punggung Ira. Pagi ini, Juna mendadak hatinya merasa sendu.


**


Di sebuah ruangan kerja yang cukup luas, Juna tengah duduk bersama dengan kedua sahabatnya, Aryo dan Rehan. Ini adalah momen langka yang belakangan bisa Juna lalui bersama sahabat-sahabatnya, mengingat Juna terlalu disibukkan oleh pekerjaan beberapa bulan terakhir.

__ADS_1


Hanya Aryo dan Rehan yang mengetahui tentang warna rumah tangga Juna yang terasa abu-abu, tak seperti rumah tangga pada umumnya.


"Aku salut sama kamu yang berani ambil keputusan besar untuk hidup kamu. Ini nih, yang namanya laki sejati." Ungkap Aryo. Meski ia adalah teman Juna yang paling lembut dan ramah, namun kadang Aryo juga sering membuat Juna terpojok jika Juna melakukan kesalahan.


Aryo adalah sahabat Juna yang dulunya pernah menikah, namun harus kandas rumah tangganya akibat sang istri yang pulang lebih dulu ke pangkuan sang Khaliq, saat melahirkan putri mereka, yang kini diasuh oleh ibu mertua Aryo. Sedang Rehan, adalah bujang lapuk sejati berusia tiga puluh tahun, nyaris sama dengan Juna.


Juna meneguk kopinya hingga tandas.


"Aku juga lelah menyembunyikan hubungan dengan keysha. Sejauh ini dia bisa lah diajak kompromi. Cuman merasa bersalah aja sama Ira." Ungkapnya.


"Halah, lelah apanya? Kalau Ira nggak ngomong dia udah tahu hubungan gelap kamu dan Keysha, kamu juga nggak mungkin tuh bakalan mutusin Keysha. Semua kan awalnya karena mamamu mendesak kamu punya anak, dan Ira mengungkapkan fakta tentangmu dan keysha."


Kali ini Rehan yang ikut menimpali.


"Eh tapi ngomong-ngomong, masa sih, dalam sepuluh bulan terakhir, kamu hidup berdampingan dengan Ira, tapi masa nggak ada perasaan nyaman mungkin, ke Ira?" Rehan kembali melempar tanya.


"Biasa aja, sih. Nggak ada yang istimewa banget. Ya, kamu tahu sendiri lah, kalau Ira bukan seleraku." Ungkap Juna.


"Nggak. Apanya yang cantik?" Tanya Juna ketus.


"Ya wajahnya, lah. Masa di keteknya yang cantik?" Tanya Aryo lagi sambil mengernyitkan keningnya.


"Biasa aja. Nggak usah bahas Ira deh." Ungkap Juna sambil meminum kopinya dengan cepat hingga tandas. Aryo dan Rehan saling tatap, tak mengerti dengan tingkah Juna.


"Apa kamu nggak terima, kalau Aryo bilang bahwa Ira cantik?" Tanya Rehan kemudian.


"Ya jelas lah aku nggak suka. Dia istri aku." Ungkap Juna yang keceplosan. Lidahnya seolah terpeleset dan lupa, bahwa ia tak boleh mengatakan hal itu.

__ADS_1


"Itu artinya Ente cemburu." Ungkap Rehan kemudian.


Gelak tawa Rehan dan Aryo bersahutan kemudian. Keduanya benar-benar terpingkal karena memergoki, bagaimana perasaan Juna sekarang, pada istrinya.


"Nggak usah sok jaim, deh. Jatuhnya kamu itu munafik. Udah jelas-jelas cinta, ngakunya nggak cinta lagi." Ucap Aryo sambil terus tertawa, menertawakan Juna seketika.


Arjuna tersadar. Lelaki itu lantas mengerjapkan matanya beberapa kali, untuk mencerna apa yang baru saja dikatakan oleh Aryo.


"Hah? Aku? Jatuh cinta sama Ira?" Tanya Juna dengan tampang cengoh.


"Ya iyalah, BAMBANG!! Kalau nggak jatuh cinta, kamu nggak bakalan cemburu sama Aryo. Tuh bukti udah di depan mata. Udahlah, kamu teruskan aja berumah tangga sama Ira. Apa salahnya, sih? Lagian juga Ira masih mulus, perawan tingting. Harusnya malah kamu bersyukur karna udah dapat daun muda kayak dia." Ungkap Rehan kemudian.


Aryo tertawa makin keras. "Sumpah. Ini tuh hal yang paling lucu di sepanjang hidupku. Ya ampun, si cerdas Arjuna Sastra Suseno, kalau jatuh cinta mah, gobloknya nggak main-main." Ungkap Aryo kemudian tanpa menghentikan tawanya.


"Tapi ya itu, ini yang jadi beban aku. Keysha minta waktuku sehari semalam sebagai kenangan sebelum kami berpisah." Ungkap Juna, membuat Aryo dan Rehan sama-sama bungkam.


"Kamu mau?" tanya Aryo kemudian.


"Aku bilang, aku pikirin lagi. Kan kalian tahu sendiri, Keysha pasti minta yang enggak di saat-saat tertentu." Ungkap Juna.


"Ya udah, kasihlah waktunya. Toh cuman sebentar doang, kan? Lagian juga untuk yang terakhir kalinya juga." Rehan menepuk lengan Juna, sahabatnya.


"Iya deh, gampang sih kalau itu." Ungkap Juna.


"Tapi entah kenapa, ya, aku kok kayak ada yang mengganjal, berasa ada yang nggak beres sama keysha." Ungkap Aryo.


Ketiga lelaki dewasa itu saling tatap, melontar tanya dan bingung tak mendapat jawaban. Juna hanya berharap, hanya sekedar jalan dan tak ada hal buruk apa pun di masa depan pernikahannya dengan Ira.

__ADS_1


"Ya, mungkin cuman perasaan kamu aja. Semoga aja Ira memang disiapkan sebagai jodohku." Juna mendesah pasrah.


**


__ADS_2