Cinta si Anak Pembantu

Cinta si Anak Pembantu
Apakah ini cinta?


__ADS_3

Malam telah larut, namun Juna masih tetap terjaga. Sebatang rokok yang menyalakan bara api, terselip diantara jari telunjuk dan jari tengah. Asap rokok mengepul di udara, menciptakan pola abstrak yang mudah ditelan angin dan menghilang begitu saja.


Arjuna Sastra Suseno.


Tunggal iskandar Suseno itu berada dalam masa bimbang. Entah mengapa, kalimat Ira saat makan malam nyaris berakhir tadi, cukup membuat egonya tergores.


"Apa yang harus aku lakukan?" Juna bergumam seorang diri.


"Apa aku menyembunyikan hubungan dengan Keysha, dari Ira saja, ya? Ya Tuhan, bagaimana mungkin ini semua akan terjadi? Aku tentu banyak dosa, aku tak ingin menyakiti Ira, tapi sangat mencintai Keysha. Aku harus bagaimana?"


Arjuna mendesah dalam hati. Malam ini ia benar-benar sulit terlelap, sekalipun ia berulang kali memejamkan mata. Ada banyak hal yang sulit diterima Arjuna, terutama pernikahan ini.


"Mas Juna, kok nggak tidur? Bukannya sekarang udah hampir subuh?" Ira terbangun dengan suara serak khas bangun tidur, berjalan ke arah Juna. "Tadi Ira di marahi karena tidur, tapi kenapa mas Juna sendiri yang nggak tidur?"


"Nggak bisa tidur, Ra." Ucap Juna, membiarkan Ira menguap dan berdiri di samping Juna. "Kamu kalau ngantuk tidur aja, jangan nunggu aku."


"Mas Juna yang harus tidur. Bukannya mas Juna mau menjemput mbak Keysha dan mengajaknya jalan-jalan?" Tanya Ira.


Arjuna hanya diam, melirik Ira sekilas tanpa kata. Ia bimbang, antara harus terang-terangan berhubungan dengan Keysha di depan Ira, atau menyembunyikan hubungan dengan Keysha di depan Ira, karena tak ingin menyakiti hati gadis belia itu.


"Mas? Apa yang mas Juna pikirkan? Apa karena Ira meminta mas Juna untuk menjauhi dan meninggalkan mbak Keysha, demi pernikahan kita?" Tanya Ira lagi, sambil menebak kasar bagaimana perasaan suaminya.


"Ya, aku masih kepikiran sama permintaan kamu." Ungkap Juna. "Apa nggak bisa ditawar lagi, Ra? Maksudku, apa kita nggak bisa diskusi tentang keinginan kamu itu?" Juna berharap Ira masih bisa memberinya toleransi.


"Enggak, mas. Ini harga mati yang udah Ira tetapkan." Aira menggelengkan kepalanya dramatis. "Biar gimana pun, kalau mas Juna dan mbak Keysha diberi celah untuk kalian tetap bisa bersama, apa jadinya nanti? Kalian hanya akan menyakiti Ira di masa depan. Enggak, Ira nggak mau itu terjadi sama Ira. Lebih baik mas Juna membuang perasaan itu terhadap mbak keysha, daripada nanti perasaan Ira yang harus dikorbankan."


Juna kembali takjub akan pernyataan Ira itu. Sisi lain hatinya mengatakan, Ira memang sangat benar. Tapi sisi lain lagi dari hatinya mengatakan, ia masih tak bisa memutuskan hubungan dengan Keysha begitu saja. Sejak dulu, Juna memang mencintai Keysha.


Hening mendominasi keduanya, hingga kemudian Ira membuyarkan lamunan Arjuna.

__ADS_1


"Mas, mas Juna? Mas Juna apa, keberatan dengan apa yang Ira minta?" Tanya Ira memastikan.


"Baiklah. Kalau itu mau kamu, aku akan mencoba untuk menjauhi Keysha pelan-pelan." Ungkap Juna kemudian dengan suara yang tegas nan mantap.


"Beneran, mas? Mas Juna serius?" Ira senang bukan main. Pernyataan Juna baginya seolah seperti sebuah berlian langka yang tiba-tiba ia temukan.


Anggukan dan senyuman Juna, cukup menunjukkan keseriusan Juna kali ini. Ira berlonjak kegirangan, hingga tanpa sadar, ia memeluk Juna erat sambil menjerit-jerit. Beruntung tak ada yang melihat aksi keduanya, karena waktu telah memasuki dini hari.


"Yes. Makasih mas Juna. Terima kasih banyak. Ira janji, Ira akan jadi istri yang baik dan penurut. Terima kasih udah menghargai pernikahan kita. Aku seneng banget." Juna hanya diam saja, tak bereaksi atas pelukan Ira, tak berniat membalas pelukan gadis itu.


"Oh maaf." Ucap Ira yang kemudian melonggarkan pelukannya. "Maaf, Ira kelepasan." Imbuhnya lagi.


"Nggak apa-apa." Juna tersenyum kecil. "Ya udah, kayaknya aku mulai ngantuk, ayo tidur." Ajak Juna yang kemudian masuk ke dalam kamar, dengan Ira yang mengekor di belakangnya.


Juna berbaring, pura-pura berniat tidur dan memunggungi Ira. Ira begitu bahagia dan senang di tempatnya. Namun bagaimana dengan Juna? Juna masih tak tahu harus menjuluki dirinya apa.


Ini adalah awal kebohongan Juna. Akan ada banyak kebohongan-kebohongan lain di hari-hari ke depan, yang akan Juna lakukan terhadap Ira. Sungguh demi tuhan, Juna sangat membenci dirinya sendiri.


Bisik batin Juna dalam diam.


'Yes, terima kasih, mas Juna. Terima kasih, tuhan akhirnya, setelah sekian lama, akhirnya aku bisa menggoyahkan pendirian mas Juna. Semoga aja, ke depannya, mas Juna benar-benar mau berubah dan nerima aku dan pernikahan ini.'


Batin Ira penuh suka cita.


'Keysha, aku harap kamu mau menerima kenyataan. Nanti, Suatu saat nanti, kamu akan mendapatkan lelaki yang tentu jauh lebih baik dari aku.'


Juna kembali membatin.


"Mas? Mas Juna udah tidur?" Tanya Ira pelan.

__ADS_1


"Hmm? Ada apa?" Tanya Juna balik. Lelaki itu menoleh pada Ira, tanpa membalikkan badan.


"Makasih, ya." Ungkap Ira. Gadis itu kemudian memberanikan diri, perlahan memeluk Juna dari belakang.


Tentu saja hal ini berhasil membuat Juna terhenyak di tempatnya.


"Ra, kamu ngapain?" Tanyanya setelah ia sadar, dengan apa yang tejadi.


"Meluk mas Juna. Kenapa? Mas Juna nggak mau?" Tanya Ira kemudian.


"Ya, tolong lepasin. Aku memang mau melepaskan Keysha demi pernikahan ini. Tapi tolong, jangan menuntut hak kamu sekarang. Aku . . . aku perlu waktu, Ra."


"Jangan nolak aku, mas. Biarkan aku begini, sebentar aja, sampai Ira tertidur. Ira nggak minta di apa-apakan, kok. Biarkan gini ya, mas." suara Ira melemah. Sepertinya, gadis itu kembali tertidur.


Juna hanya diam, antara rasa enggan menyentuh Ira, dengan sebuah rasa asing yang menjalari sekujur hatinya.


Entah bagaimana awal mulanya, rasanya hati Juna dialiri rasa serupa sengatan listrik. Darahnya mengalir sangat cepat, dengan seluruh otot-otot Juna yang menegang.


Sebuah sentuhan yang terhalangi selimut dan kain piyama tidur, membuat Juna semakin tak karuan. Ini bukan sekedar hasrat, namun seperti sebuah . . . ah entahlah, Juna bingung dalam mendeskripsikan.


...'Tuhan, kuatkan aku. Kurang ajar si Ira ini. Bisa-bisanya dia meluk, tanpa minta izin dulu. Astaga, mana ini kenapa jadi merinding sih?'...


Juna membatin.


Bahkan hingga nyaris terbit fajar, Juna masih setia membuka mata. Lelaki itu bahkan tak bergerak sedikit pun. Hingga ia terbiasa, lama-lama rasanya cukup nyaman.


Desiran rasa aneh itu, Juna sendiri tak mengerti.


Apakah ini cinta? Entah. Juna tak mengerti.

__ADS_1


**


Jangan lupa tinggalkan jejak. Kasih bintang dan ulasan juga ya manteman. Terima kasih.


__ADS_2