
Sore hari ini, entah mengapa perasaan Ira mendadak tak nyaman. Gadis itu benar-benar merasa seperti berat melepas Juna pergi. Ada rasa gelisah, dan juga perasaan tak menentu yang kini membaluti hatinya.
"Mas, jangan lama-lama, ya? Ira selalu nunggu mas Juna di rumah." Ira berkata sambil menunjukkan wajah sedih. Terbiasa setiap pagi mempersiapkan kebutuhan Arjuna, juga terbiasa memasak makanan Juna dengan penuh perasaan, membuat Ira sulit membayangkan, apa jadinya bila ia tanpa Arjuna, karena Juna tak ada di rumah.
"Iya, aku nggak bakalan mampir-mampir, kok. Jangan khawatir, begitu acara selesai, aku langsung pulang." Ungkap Juna sambil menutup tas ranselnya. Tak banyak yang Juna bawa. Hanya dua setel baju kasual, dan satu piyama tidur. Juna pikir, toh hanya semalam dirinya akan pergi. Jadi tak perlu banyak baju.
"Apa Ira ikut aja, ya?" Tanya Ira sekali lagi. Kesannya memaksa. "Ira khawatir. Nggak tau apa sebabnya. Kayak merasa berat banget melepaskan mas Juna. Gimana dong?" Tanya Ira kemudian.
"Nggak usah. Kan kemarin udah ada perjanjian nanti mau aku ajak jalan-jalan lain waktu. Nanti, aku ajak kamu untuk bulan madu kedua. Terserah kamu maunya nanti kemana." Ucap Juna. Lelaki itu lantas duduk di samping Ira, di bibir ranjang.
Entah mengapa, bukannya senang, Ira justru semakin curiga. Dalam benaknya, apa sih, yang membuat Juna seperti panik saat Ira mengatakan bahwa ia ingin ikut?
"Ya udah, deh. Berarti ini udah final keputusan mas Juna." Ucap Ira sambil tersenyum.
Harusnya Juna waspada dengan senyum Ira. Juna pikir, Ira sudah bersedia menerima rayuannya, tanpa ada kecurigaan secuil pun. Sayangnya, dugaannya itu salah. Arjuna tidak begitu peka dengan raut wajah Ira.
Hari ini, Ira tetap merasa berat untuk melepaskan Juna pergi.
"Aku turun ke bawah dulu ya, mas. Aku mau ke rumah ibu, mau ngomong dulu sama pak Yono." Ucap Ira sambil bangkit berdiri.
"Kalau gitu, sekalian aja aku antar kamu. Biar nggak merepotkan pak Yono."
"Nggak usah." Ira menggelengkan kepalanya. "Ira sekalian mau belanja, bakalan lama. Takutnya nanti mas Juna terlambat berangkatnya. Biar Ira ngomong sama pak Yono aja." Ucap Ira, yang diangguki Juna sebelum berlalu pergi.
Ira berjalan cepat, tergopoh melewati tangga dan segera menuju ke garasi. Di sana, pak Yono tengah mengelap kaca mobil seperti biasanya.
"Pak, bisa antar ira? Tapi bawa motor." Ucap Ira tiba-tiba, dengan suara lirih dengan nafas kembang kempis.
"Bisa, non. Mau kemana?" Tanya pak Yono.
__ADS_1
Ira mendekat ke arah pak Yono, dan berbisik lirih di dekat telinga pak Yono yang menunduk.
"Ira ingin membuntuti mas Juna, cuman kalau bawa mobil, rasanya itu kayak susah deh, pak. Takutnya nanti mas Juna curiga."
Pak Yono tampak mengerutkan kening untuk berpikir. Ada apa ini? Apakah mungkin Ira mendapat signal-signal tak nyaman?
"Ya udah, non. Kalau gitu, nanti saya pinjam motor teman aja deh, satpam di tetangga sebelah." Ujar pak Yono kemudian.
"Ya udah, tunggu Ira di sebelah aja, pak. Sebentar lagi mas Juna berangkat. Ira mau berangkat duluan. Ini mobilnya bawa aja keluar, biar mas Juna ngira kalau pak Yono bawa Ira. Sebentar, biar Ira siap-siap dulu." Ungkap Ira, yang diangguki oleh pak Yono.
Ira segera bergegas kembali masuk, mendapati Juna yang berjalan santai menuju pintu utama. Beruntung hari ini Iskan dan Ningsih sedang pergi ke desa untuk mengunjungi salah satu sanak saudara dari Ningsih. Jadi antara Ira dan Juna, bisa sedikit lebih leluasa di rumah.
"Ira juga mau berangkat sekarang, mas, sama pak Yono."
"Ya udah, aku berangkat duluan, ya. Jangan lupa kunci pintu kamar." Ucap Juna kemudian.
Sebagai gadis berperasaan sensitif karena pernah dibohongi Juna, Ira seperti tak percaya sepenuhnya bahwa Juna saat ini tengah ada acara bersama teman-temannya. Meski Ira sadar bahwa perasaan buruknya itu tak sepatutnya ia miliki, namun Ira tetap tak bisa menyangkal kekhawatiran dibohongi begitu saja. Ira pernah dibohongi, jadi Ira seperti ada trauma.
"Hati-hati, mas." Ucap Ira.
"Ya, kamu juga hati-hati. Ada baiknya kamu nginep aja di rumah ibu. Besok begitu aku pulang, aku langsung jemput kamu. Daripada nanti kamu sendirian di rumah." Ucap Juna.
"Nantilah Ira pikir sambil jalan ke rumah ibu."
Juna mengangguk, meninggalkan Ira yang memiliki kilat emosi yang rumit.
**
Sepanjang perjalanan Ira bersama pak Yono kali ini, membuat hati Ira dilanda rasa was-was luar biasa. Hatinya terasa rapuh, tatkala mata kepalanya sendiri melihat, betapa ia dibohongi untuk yang kesekian kalinya oleh Arjuna, suaminya.
__ADS_1
Bagaimana tidak krisis kepercayaan? Ini adalah kebohongan Arjuna yang ke berapa kali, Ira tak bisa menghitung. Dalam benak Ira, mungkin saat sepuluh bulan dirinya berumah tangga, Juna sering berbohong seperti sekarang ini. Pergi dengan Keysha secara diam-diam, dengan berdalih pamit pergi mengurus pekerjaan, atau ada acara bersama teman-temannya.
"Itu Keysha, pak Yono. Pacar sekaligus selingkuhan mas Juna." Ucap Ira kemudian, dengan suara lirih dan lemas.
Bagaimana tidak lemas? Bahkan Ira melihat kini keysha menggamit lengan Juna dan keduanya berjalan berdampingan, menuju ke arah mobil.
"Ikuti, pak. jangan lupa pakai masker dan kacamatanya. Helmnya juga pasang bener itu kunciannya." Tukas Ira kemudian.
"Iya, non." Jawab pak Yono, disusul dengan Ira yang juga memakai masker dan helmnya.
"Kira-kira, den Juna dan si Kunti itu mau pergi kemana ya, non?"
"Nggak tau juga, pak. Yang penting kita buntuti saja dulu mereka. Pamitnya ke Ira sih, mas Juna bilangnya mau ke luar kota. Ira juga udah nawarin diri untuk ikut, biar bisa mengurus keperluan mas Juna. Sayangnya, mas Juna menolak, pak." Jawab Ira.
"Wah, kenapa bisa gitu, ya?"
"Entahlah, pak. Ira nggak ngerti juga. Mas Juna itu bilangnya ada acara sama teman-teman sekolahnya khusus laki-laki. Jadi ya Ira tadi nggak bisa maksa ikut."
"Yang sabar, non. Mungkin memang den Juna punya alasan mengapa ia begitu."
"Alasannya karena ingin menemui selingkuhannya." Ujar Ira, sambil tertawa getir. "Ira selama ini dibodohi, dibohongi, hanya diam. Tapi lihat deh, pak. Udah minta maaf dan Ira udah maafin, Ira pikir mas Juna bakalan berubah beneran. Sayangnya, pembohong tetap aja pembohong."
"Lah, itu mas Juna kenapa kok lampu seinnya belok ke kiri?" Tanya pak Yono kemudian.
"Terus ikuti aja, pak. Pelan-pelan, yang penting mas Juna nggak lihat. Kita harus jaga aman." Ucap Ira dengan suara gemetar.
Dan jantung Ira, serasa diremas dan ditarik paksa dari rongga dadanya, ketika mobil Juna memasuki sebuah . . . .
**
__ADS_1