Cinta si Anak Pembantu

Cinta si Anak Pembantu
Kecelakaan


__ADS_3

Sepanjang hidup Juna, yang Juna yakini sebagai definisi sebuah penyiksaan, adalah mengunjungi pasar. Lelaki itu sungguh tak tahan dengan aroma khas pasar, yang menurutnya di dominasi bau busuk.


"Ra, ayo cepat pulang." Ajak Juna pada istrinya yang masih melakukan tawar menawar dengan salah satu pedagang ikan. Menurut Juna, Ira hanya bertele-tele dan membuang waktu saja.


Sungguh, wanita dengan segala kerumitannya, Juna merutuk momen ini.


"Sebentar lagi. Ira belum beli daging ayam sama bangsanya cabean." Ucap Ira setengah berteriak. Ramainya pasar, membuat suara Ira nyaris tenggelam jika hanya bicara pelan.


"Astaga." Gumam Juna. Ia menyesal karena mengantar istrinya itu. Andai tahu akan seperti ini, Juna tak akan menawarkan bantuan tadi.


"Ayo." Ajak Ira sambil membawa barang belanjaannya. Mereka lantas berkeliling mencari kebutuhan lain. Hingga kemudian Ira tiba di mobil, meletakkan barang belanjaannya di dalam mobil, dan menatap suaminya.


Keduanya tak sadar, seseorang tengah memperhatikan gerak-gerik mereka dari jauh, dengan tatapan tajam penuh ancaman.


**


Ada banyak rasa yang saat ini mewarnai hati Aira. Gadis itu benar-benar telah menjatuhkan hatinya pada sosok lelaki yang saat ini tengah menyantap sarapan pagi bersamanya di meja makan.


Usai pergi ke pasar tadi, keduanya memutuskan segara pulang dan sarapan. Semua kebutuhan makanan mentah, telah cukup untuk beberapa hari ke depan.


Biasanya, Ningsih lah yang selalu belanja dan mencukupi kebutuhan makan harian. Berhubung wanita itu belum pulang, jadi belanja digantikan oleh Ira.


"Aku berangkat dulu, Ra. Kamu jangan kemana-mana. Kalau butuh kesibukan, kamu bisa jalan-jalan atau belanja dan ajak bik Narsih dan pak Yono sekalian. Ingat, jangan pergi jauh-jauh sendirian." Ucap Juna, sambil pamit untuk berangkat kerja.


"Iya, mas. Hati-hati di jalan." Jawab Ira kemudian. Ira lantas ke belakang untuk memberi makan ikan-ikan piaraan Iskan, sang mertua.


Hingga siang tiba, Ira merasa ia perlu keluar rumah dan mengunjungi ibunya. Ira bertekad untuk mengajak bik Narsih ikut serta, dan pak Yono untuk mengunjungi ibu. Maklum, semenjak tinggal terpisah, Ira tidak setiap hari bertemu ibunya.


"Pak Yono, nanti kalau sampai di supermarket ujung jalan sana, berhenti sebentar, ya? Ira ingin membeli sesuatu untuk ibu." Pinta Ira.

__ADS_1


"Siap, non." Jawab pak Yono sambil tersenyum ramah. Terlebih lagi bik Narsih yang sejak tadi hanya tersenyum.


Perjalanan mereka lalui dengan kecepatan sedang. Ira sampai di sebuah minimarket, dan segera pamit turun pada pak Yono yang duduk dibelakang kemudi. Entah bagaimana awal mulanya, Namun ketika Ira baru saja selesai menutup pintu, membalikkan badan dan berjalan beberapa langkah, tubuh Ira terhempas akibat sebuah kendaraan bermotor yang melanggarnya dengan kencang.


"Aarrrgggh . . . ."


Sepeda motor berwarna hitam tanpa ada plat nomornya, menabrak Ira hingga tubuh Ira terpental beberapa meter dari mobil Juna.


"Non Iraaaa...." Suara bik Narsih dan pak Yono terdengar menjerit lantang bersamaan.


Beberapa orang yang ada di sekitar mobil, segera terfokus dan menoleh ke arah Ira yang terkapar di jalan, tak sadarkan diri. Pak Yono dan bik Narsih segera keluar mobil, dan menghampiri Ira dengan wajah yang sama-sama pucat.


**


Suara tawa keras menggema di sebuah ruangan tertutup. Tawa mengerikan itu, berasal dari mulut Keysha.


Rencananya untuk memancing Juna keluar dan membuat Juna meladeninya, kini telah berjalan lancar. Tinggal selangkah lagi, Keysha yakin bahwa Juna bisa ia raih dengan penuh dalam genggamannya.


Diperhatikannya lelaki itu oleh Keysha. Tubuhnya ceking, matanya merah layaknya ikan yang nyaris busuk, kulitnya gelap dan lengannya penuh dengan tatto.


"Nggak sadar sih orangnya. Saya lihat sekilas, di kepalanya ada darahnya. Terus ya udah saya nggak tahu lagi gimana kondisinya terakhir kali." Ucap lelaki itu. Keysha tidak tahu pasti siapa nama lelaki muda itu. Hanya Rena yang saat itu tahu.


"Terus, kamu yakin, kan, kalau kamu nggak meninggalkan jejak? Maksudku, kamu yakin kan, nggak ada polisi yang bisa melacak keberadaan kamu?" Tanya Keysha lagi.


"Tenang aja, bos. Semua beres dan saya main rapi. Plat nomor depan belakang nggak terpakai, kok. Jadi ya santai aja. Jangan khawatir." Jawab lelaki itu lagi.


"Bagus. Aku harap kamu beneran bisa sembunyi dan kalau terjadi apa-apa, termasuk kalau kamu ketangkep, jangan bawa-bawa namaku. Kamu paham, kan? Aku berani bayar kamu mahal untuk itu." Tegas Keysha lagi.


"Siap, bos. Jangan khawatir. Saya tanggung risikonya sendiri." Ungkap laki-laki itu kemudian.

__ADS_1


Dua gepok uang yang berwarna merah semua, tersaji di depan mata. Siapa yang tak tergiur, melakukan pekerjaan ringan, namun bayaran cukup mahal. Terlebih, untuk lelaki itu yang sudah lama hidup di jalanan ibukota yang terkenal kejam.


"Lain kali, kalau aku butuh jasa kamu lagi, kamu bisa, kan?" Tanya Keysha kemudian.


"Siap, bisa dong, bos." Jawabnya.


"Bagus. Sekarang, kamu boleh pergi." Perintah Keysha sambil mengibaskan tangannya. Tentu saja lelaki itu pergi, tak banyak bertanya, maupun mengungkapkan kata. Ia hanya senang bertemu dengan Keysha. Selain wajahnya yang cantik, rupanya Keysha juga menjadi dewi hoki bagi lelaki itu.


"Gue pikir, ide gue cuman sebatas angin doang bagi Lo. Eh ternyata, Lo bisa jadi iblis juga." Tukas Rena sambil menyesap rokoknya pelan-pelan.


Wanita itu mendudukkan tubuhnya yang super gendut, di sebelah Keysha.


"Gue kalau melangkah nggak akan setengah-setengah. Salah Juna sendiri, dia terlalu mengabaikan gue. Jadi ya maaf aja, kalau akhirnya gue bisa lebih nekat dari yang dia bayangin." Jawab Keysha pelan. Gadis itu juga mengeluarkan rokok beserta korek, dari tasnya.


"Terus, berhubung Juna orang kaya, gimana kalau seandainya dia tahu kalau dalang kecelakaan istrinya itu, Lo? Lo tau sendiri, kan? Segalanya bisa dibeli dengan uang oleh golongan orang kaya?" tanya Rena kemudian.


"Persetan dengan itu. Yang penting, gue mau menekan Juna dengan Ira sebagai objek ancaman." Ungkap Keysha dengan percaya diri.


Rena diam di tempatnya untuk sejenak. Untuk ukuran Arjuna yang kekayaannya tak main-main, serta Iskan yang memiliki kaki tangan yang kinerjanya terkenal luar biasa, Rena tak yakin si Keysha bisa melawan keluarganya Juna.


"Gue sebagai temen Lo, sekedar mengingatkan. Saat Lo udah yakin dengan keputusan Lo yang ini, gue harap Lo benar-benar udah yakin dan siap nanggung segala konsekuensinya." Ungkap Rena memberi nasihat.


"Gue nggak akan berhenti, sebelum Juna benar-benar meninggalkan wanita itu, dan balik sama gue." Ujar Keysha masih keras kepala.


"Lo menghalalkan segala cara?" Tanya Rena lagi.


"Demi Juna." Jawab Keysha.


"Lo udah kehilangan akal waras Lo." Ungkap Rena terang-terangan.

__ADS_1


**


__ADS_2