Cinta si Anak Pembantu

Cinta si Anak Pembantu
Tak ada pilihan lain


__ADS_3

Perjalanan ke Bali kali ini terasa berbeda dari biasanya. Bila biasanya Juna berangkat ke Bali bersama Keysha, ataupun dengan kedua temannya, maka kali ini Juna harus berangkat ke Bali bersama istrinya.


Ini seperti mimpi buruk, Juna tak pernah menyangka ia akan tiba pada titik ini, dimana ia harus menjadi kepala keluarga. Memimpin gadis belia yang bahkan belum genap berusia dua puluh tahun.


"Mas Juna, Ira haus." Ungkap Ira ketika ia dan suaminya memasuki sebuah mobil yang menjemput mereka di bandara.


"Sebentar lagi kita sampai, nggak akan lama kok." Jawab Juna datar. Karena tak ada perasaan apa pun, Juna beranggapan bahwa Ira adalah gadis manja.


Ira hanya mengangguk di samping Juna. Lelaki itu lantas menatap kosong jalanan sekitar melalui kaca samping.


Bali memang kental akan adat budaya. Bahkan wisatanya pun sangat terkenal. Terakhir kali Juna datang kemari, bersama Keysha dua bulan lalu.


"Mas, kok mas Juna diem aja sih? Kenapa jadi sering melamun?" Tanya Ira.


"Nggak apa-apa. Lagi ingin diem aja." Jawab Juna.


Selanjutnya kembali hening. Ira bingung, ia hendak mengatakan apa, namun yang jelas, Ira seolah kehabisan kata untuk mengajak bicara Juna. Ada rasa bersalah sebenarnya di hati Ira.


Tak terasa, mereka kini telah tiba di hotel yang sudah dipesan oleh Ningsih. Keduanya memasuki hotel tanpa bicara sepatah kata pun. Tak banyak barang yang Ira bawa, toh semuanya bisa dibeli di Bali, begitu ucap Juna sebelum mereka pergi.


"Mas, Ira mau bersih-bersih diri dulu." Ungkap Ira, yang diangguki oleh Juna.


Setelah Ira mandi, Ira pun menghampiri Juna yang tengah duduk di sebuah kursi dan menghadap ke arah jendela. Tatapan Juna tampak kosong, tak seperti menikmati pemandangan kota Bali.


"Mas Juna kenapa?" Tanya Ira kemudian. "Kok Ira merasa kalau mas Juna sedang banyak pikiran?"


Juna melirik Ira sekilas, sebelum tunggal Iskan itu membuang kembali pandangannya ke arah luar jendela.


"Aku udah bilang, Ra. Jangan banyak tanya dan jangan mencampuri urusanku. Aku nggak suka kalau kamu terlalu ikut campur." Jawab Juna dengan nada dingin.

__ADS_1


"Ira kan istri mas Juna, apa Ira salah kalau Ira tanya apa yang mas Juna pikirkan?" Tanya Ira lagi yang tak mendapatkan respons apa pun dari Juna.


"Apa mas Juna masih kepikiran tentang mbak Keysha tadi?"


"Lihat, Ra. Pemandangan senja sore hari ini kelihatan bagus, ya?" Tanya Juna. Lelaki itu sengaja mengalihkan percakapan agar Ira tidak terus-menerus bertanya mengenai isi hatinya.


Sejujurnya, pertemuannya dengan Keysha tadi siang, cukup membuat emosi Juna naik turun.


"Jangan mengalihkan pembicaraan, mas. Jujur saja sama Ira. Ira nggak akan marah, kok. Lagian itu juga haknya mas Juna, kan, mau ngomong apa enggak. Tapi Ira mohon, setidaknya mas Juna menganggap Ira sebagai istri." Ungkap Ira.


"Aku udah menganggap kamu sebagai istriku, Ra. Apa itu masih kurang? Jaga batasan kamu, jangan melewati ketetapan yang aku buat." Jawab Juna dingin.


Sejak ia berangkat ke Bali bersama Ira, juga pesan mamanya yang meminta Juna agar pulang dengan membawa kabar gembira kehamilan Ira, mood Juna mendadak buruk, tak bisa tersentuh sedikit pun si lelaki itu.


"Mas, Ira, Ira . . . ." Ira tergagap karena gentar dengan kata-kata Juna.


Lelaki itu lantas bangkit dan berlalu keluar dari kamar hotel, meninggalkan Ira dengan matanya yang memanas karena merasa sakit hati.


"Ira juga tertekan dengan situasi pernikahan dan sikap mas Juna yang begini, mas. Apa mas Juna nggak memiliki perasaan sedikit pun untuk Ira? Nggak cuman mas Juna yang nggak nyaman, Ira pun sama." Ucap Ira bermonolog.


Gadis itu tergugu dalam tangis senja ini. Hingga saat jam makan malam tiba, Juna tak juga kembali. Ira semakin dilanda rasa cemas.


"Mas, kamu kemana? kok sejak tadi keluar tapi nggak balik?" Gumamnya seorang diri dengan memilin jemarinya sendiri. Gadis itu semakin was-was, karena Juna tak meninggalkan pesan apa pun padanya. Ingin keluar, tapi Ira takut tersesat.


"Mas Juna." Sapa Ira, ketika Juna baru saja tiba. Lelaki itu mengangguk, dengan raut wajah datar. " Mas Juna darimana? Ira cemas, Ira khawatir."


"Apa yang kamu cemaskan?" tanya Juna.


"Ira takut terjadi apa-apa sama mas Juna. Mas Juna keluar tanpa meninggalkan pesan, juga nggak pamit sama Ira." Ungkap Ira lagi sambil menghampiri juna.

__ADS_1


"Aku keluar, menyegarkan pikiran. Ayo siap-siap, kita makan malam di luar." Ajak Juna yang mendapat anggukan kepala dari Ira. "Nggak usah berganti pakaian. Bawa seperlunya saja."


Keduanya berlalu keluar, menuju sebuah kafe yang terletak dipinggir pantai, tak jauh dari hotel tempat mereka menginap.


Setelah Juna memesan menu makan malam, lelaki itu mendekati Ira dan duduk berhadapan dengan Ira.


"Ra." Panggilnya.


"Iya, mas." Ira menjawab pelan.


"Maaf atas ucapanku tadi, ya. Aku benar-benar emosi." Ungkap Juna kemudian.


"Nggak apa-apa, mas. Ira juga salah tadi."


"Besok pagi, Keysha mau nyusul aku kesini. Dia meminta aku untuk menemaninya jalan-jalan. Kamu, nggak keberatan?" Ira sontak kehilangan rasa laparnya. Pertanyaan Juna cukup membuatnya syok.


"Mas, apa-apaan ini? Enggak, Aku nggak mau. Mas Juna dan mbak Keysha cuman pacaran, sedang kita, mas Juna sama Ira udah menikah, loh. Apa nggak keterlaluan, kalau mas Juna pergi sama pacar pamitan terang-terangan sama istri? Mana itu dengan tujuan jalan-jalan, lagi? Astaga, mas. Mas Juna nggak memikirkan perasaan Ira?" Tolak Ira dengan tegas.


Juna memijit keningnya yang terasa nyeri karena menghadapi Ira. Ia tak menyangka, Ira akan sedemikian berani menentang keinginannya. Sayangnya, Ira menentang pun karena ada alasan kuat, yakni menikah. Jadi Juna seolah tak bisa menyalahkan Ira sepenuhnya.


"Ra, dengerin aku dulu, aku ingin Keysha ini lepas dari aku secara pelan-pelan. Bagi wanita, bukankah akan sangat menyakitkan, kalau aku berkhianat dan langsung memutuskan hubungan gitu aja? Aku janji, aku nggak akan seharian meninggalkan kamu. Paling cuman dua atau tiga jam aja aku menemani Keysha."


Ira terdiam. Ingin tetap menahan Juna, namun Ira takut nanti dicap sebagai istri tukang mengekang. Tapi jika tak di tahan, Ira takut nanti Keysha memanfaatkan keadaan.


"Terserah mas Juna kalau begitu." Ucapnya.


Pada akhirnya, Ira tak memiliki pilihan lain, kan?


**

__ADS_1


__ADS_2