Cinta si Anak Pembantu

Cinta si Anak Pembantu
Pertengkaran


__ADS_3

Harusnya, malam ini Aira duduk manis di rumah ibunya tanpa tangis yang menderanya.


Harusnya, malam ini Ira bergurau manja pada wanita yang telah melahirkannya ke dunia.


Harusnya, Ira tetap tertawa lebar tanpa harus mendapati kecurangan suami yang terlanjur ia cinta.


Harusnya . . . Harusnya . . . .


Tapi sayang, saat ini Ira harus berada di titik terendah karena terpuruk akibat pengkhianatan suaminya. Harus bagaimana Ira sekarang? Bahkan Ira sudah seperti mati dalam hidup yang terasa hampa.


Sepanjang perjalanan pulang, Ira melaluinya dengan tangis pilu. Tangis yang hanya di dengar oleh pak Yono, dan juga keheningan malam yang dihiasi oleh suara halus dari mesin motor. Pak Yono pun tak banyak berkata-kata. Ia hanya bisa mendoakan yang terbaik dalam hati, agar masalah rumah tangga majikannya, mendapat solusi yang terbaik untuk semua.


Setibanya Aira di rumah, gadis itu bergegas masuk ke rumah, terutama kamar. Baru saja Ira mengemas beberapa pakaiannya ke dalam koper, mobil Arjuna masuk dan terparkir di laman garasi.


Ira tak peduli, ia terus mengemasi barang-barangnya tanpa pikir panjang.


"Ra, kamu mau kemana? Apa yang mau kamu lakukan?" Tanya Arjuna yang menghentikan gerakan tangan Ira.


"Antar Ira ke rumah ibu, mas. Ira mau pulang ke rumah ibu. Pasrahkan Ira ke ibu, biar mas Juna puas dan bisa berhubungan sama dia tanpa membohongi siapa pun. Keysha ada benarnya, dia memang sangat benar. Bahkan hingga terlalu jijiknya, mas Juna sampai nggak pernah menyentuh Ira sedikit pun. Alih-alih menginginkan Ira, mas Juna justru menikmati wanita lain. Ira sadar sekarang, apa arti Ira untuk mas Juna. Itu cukup jadi bukti kalau memang mas Juna nggak pernah menginginkan Ira. Harusnya Ira sadar dari awal." Ungkap Ira sambil terus menangis."


"Ira ini memang bodoh."


"Ra, jangan kayak gini. Ya Tuhan, aku benar-benar minta maaf. Tolong pikirkan lagi. Aku sayang sama kamu, Ra." Ungkap Arjuna, refleks tanpa sadar.


Ira mana percaya? Ira mana peduli? Gadis itu bahkan menepis kasar tangan Juna, dan tak ingin mendengar omong kosong Arjuna lagi. Ira benar-benar dilanda kecewa akut.


"Tolong jangan ngomong apapun lagi. Mas Juna nggak mungkin sayang sama Ira. Hentikan omong kosongnya, karena Ira nggak percaya, dan nggak akan pernah percaya sedikit pun sama mas Juna." Jawab Ira dengan terus menangis tanpa henti.

__ADS_1


"Ra, tolong jangan begini. Kasih aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya." Ungkap Arjuna dengan nada lirih. Wajahnya sudah tampak pucat pasi, dan Ira tak menyadari hal itu.


Ira tak menggubris, gadis itu masih terus saja mengemasi barang-barangnya, dan juga terus menangis. Hingga kemudian gerakannya terhenti, akibat matanya tiba-tiba menatap foto pernikahannya yang terpajang di dinding diatas bahu ranjang dengan ukuran besar.


'Semua tinggal kenangan. Semua harus berakhir. Ibu . . . hati Ira sakit. Ira mau pulang aja, bu.'


Bisik batin Ira.


"Ra, tolong dengerin aku." Ucap Juna, masih tak berhenti membujuk gadis itu.


Ira tetap nekat, menutup kopernya dan menurunkannya untuk dibawa pulang.


"Kamu nggak boleh pergi dari sini." Juna mencekal tangan Ira. Nada bicaranya dingin dan ia berubah, tak seperti tadi yang terdengar sangat lirih dan lembut.


"Biarin aku pergi dan mas Juna nggak akan tertekan akan keberadaan Ira disini. Jangan khawatir, nanti Ira sendiri yang akan bicara sama papa dan mama sepulang mereka dari luar kota. Ira mundur dadi pernikahan ini. Kalau mas Juna nggak mau menceraikan Ira, biar Ira yang menceraikan mas Juna." Ira terus menarik kopernya yang ditahan oleh Arjuna.


Ira hanya terduduk lemas sambil memandang Juna dengan tatapan nelangsa. Andai waktu bisa Ira putar, Ira ingin sekali menolak mentah-mentah tawaran Ningsih dan Iskan kala itu. Sekarang sudah terlanjur, mau tak mau, Ira harus meratapi kepedihannya seorang diri.


"Kamu perlu menenangkan diri disini, Ira. Aku nggak akan izinkan kamu keluar barang selangkah pun, kalau kamu nggak mau ngasih aku kesempatan sedikit pun untuk bicara." Tegas Juna, sambil berlalu pergi, dan mengunci Ira di dalam kamar.


Juna lantas bergegas menuju ke kamar tamu dan mengurung diri disana. Beberapa pembantu tampak bertanya-tanya, dengan apa yang terjadi sebenarnya, pada majikan muda dan istrinya itu. Biasanya, mereka selalu tampak rukun dan tak pernah bertengkar sekali pun.


Setelah cukup menenangkan diri, Arjuna bangkit dari kursi dibalik jendela. Lelaki itu bergegas keluar, mencari pak Yono yang kebetulan memang tinggal bersama istrinya di paviliun sebelah. Istri pak Yono juga bekerja sebagai pembantu di rumah Iskan.


"Pak Yono, saya mau bicara sebentar." Ucap Juna. Tentu saja kedatangan Juna yang secara tiba-tiba itu, membuat pak Yono terkejut. Ia sudah bertekad sebelumnya, bahwa apa pun yang akan menimpanya dan istrinya, termasuk apabila dipecat, pak Yono tak akan membantah dan akan menerimanya.


"Iya, den. Mari duduk." Pak Yono tersenyum.

__ADS_1


"Jadi, sebelumnya Ira memang apa pernah membuntuti saya, dan itu mengajak pak Yono?" Tanya Juna lagi.


"Iya, den. Sebelumnya memang sering ajak saya. Hanya saja, yang kemarin itu puncaknya. Maaf, saya sebenernya nggak ingin lancang dan mengikuti permintaan non Ira. Tapi saya pikir, saya kasihan juga kalau saya biarkan non Ira menyetir motor sendirian. Saya juga siap menerima konsekuensinya." Ungkap pak Yono jujur.


"Saya nggak akan menghakimi pak Yono, jadi tenang aja. Saya mau tanya lagi. Apa selama saya menikah dengan Ira, Ira memang suka membuntuti saya pergi?"


"Bukan suka, bukan sering juga, den Cuman sesekali non Ira mengikuti den Juna. Pada saat perasaan non Ira nggak enak, maka saat itu pula non Ira mengajak saya mengikuti den Juna. Maaf kalau saya tadi mengikuti perintah non Ira."


Pak Yono sadar akan posisinya. Hanya saja, posisi pak Yono menang sulit saat ini. Tak bisa membela siapapun karena hanya ingin menjadi penengah saja. .


"Terus, ponsel yang pak Yono pakai untuk merekam kejadian tadi, mana?" tanya Arjuna.


"Ponselnya sudah ada pada non Ira, den. Saya mana berani menahannya?" Ucap pak Yono.


Arjuna memijit pelipisnya yang terasa nyeri. Kepalanya terasa pusing bukan main.


"Pak, boleh saya minta tolong?" tanya Arjuna.


"Tentu saja boleh, den. Tapi jika saya mampu memenuhinya."


"Ini adalah aib saya. Untuk sementara, jangan bicara apa pun pada mama dan papa tentang kejadian hari ini. Saya bisa diusir sama mama papa, bisa jadi nanti nama saya dicoret dari daftar keluarga. Tolong rahasiakan ini lebih dulu. Saya ingin membujuk Ira dan meminta maaf dulu." Pinta Juna dengan serius.


"Tentu saja boleh, den. Saya akan memenuhinya. Hanya saja jika boleh saya berpesan, tolong kalau minta maaf yang tulus dan benar-benar ingin berubah. Kasihan non Ira, den. Perbaiki sebisa mungkin apa yang bisa diperbaiki. Non Ira gadis yang baik." Pesan pak Yono.


Kini, Arjuna hanya bisa mengangguk sambil meratapi kepedihan hatinya akibat melihat kemarahan Ira.


"Pasti, pak. Saya berjanji akan berubah." .

__ADS_1


**


__ADS_2