Cinta si Anak Pembantu

Cinta si Anak Pembantu
Berdenyut nyeri


__ADS_3

Sepagi ini, Ira sudah bersiap-siap di dalam kamar barunya, dengan Juna. Gadis itu tengah berganti pakaian dan memoles wajahnya dengan sedikit make up tipis.


Semalaman, Ira tidur dengan nyenyak. Mungkin karena efek terlalu kelelahan kemarin, membuat Ira lupa diri bahwa sekarang ia telah menjadi seorang istri. Ya, meski hanya sekedar istri diatas kertas di mata Juna.


Setelah berbalik, Ira melihat Juna masih terlelap nyaman dalam tidurnya. Lelaki itu benar-benar sangat damai dengan wajahnya yang meneduhkan. Bahkan dalam posisi tidur pun, Juna terlihat lebih tampan dan lebih memukau. Diam-diam, Ira tersenyum dan berharap ia bisa menaklukkan hati Juna selamanya.


"Aku bangunin nggak, ya? Gimana kalau mas Juna marah?" Ira bermonolog. Tapi kemudian ia tersenyum, karena sebuah ide muncul di kepalanya.


"Aku buatkan teh hangat aja kali, ya? Nanti baru dibangunkan."


Ira segera berlalu begitu saja, keluar kamar dan menutup pintu, membiarkan Juna sendirian di dalam kamar.


"Ira, kamu sudah bangun? Kenapa sepagi ini sudah bangun? Juna mana?" Ningsih yang baru muncul dari teras belakang, memergoki Ira telah berada di dapur.


"Mau buatkan teh hangat buat mas Juna, ma." jawab Ira sopan.


"Wah wah wah, kamu memang istri idaman. Mama nggak menyesal milih kamu jadi menantu. Ya sudah, jangan buang waktu lagi. Hari ini juga, kamu harus segera bersiap-siap karena nanti kalian akan berangkat bulan madu ke Bali. Mama ingin kamu dan Juna segera memberi mama cucu, Ira. Papa juga inginnya begitu." Ungkap Ningsih dengan semangat.


Sejenak, Ira tersenyum dan membatin, 'Gimana mau punya anak, ma? mas Juna nggak mau menyentuh Ira dan . . . mas Juna juga udah punya pacar, namanya Keysha. apa yang harus Ira lakukan?'


"Ira baru tahu, ma. Apa mas Juna juga sudah tahu? Mas Juna nggak ngomong apa-apa sama Ira semalam." ungkap Ira balas memberi senyum ibu mertuanya.


"Ini memang kejutan di pagi pertama kalian berumah tangga. Mama harap, kamu dan Juna benar-benar bisa kompak. Ya sudah, mama mau ke depan dulu. Cepat bawa tehnya dan bangunkan suamimu." Perintah Ningsih yang diangguki kepala oleh Ira.


Setelah Ira sampai di dalam kamar, Ira lantas meletakkan nampan berisi teh hangat tadi diatas nakas. Ditatapnya Juna yang masih tampak nyaman dalam tidurnya. Untuk membangunkan Juna, Ira jadi segan dan setengah takut.


"Mas, mas Juna? Bangun." Ira mengguncang-guncang lengan suaminya.

__ADS_1


"Hmmmm..... engh... udah siang, ya?"


Juna melenguh dengan suara parau. Perlahan, lelaki itu membuka mata dan mendapati Ira disana. Kening Juna mengerut. Hampir saja ia lupa bahwa sekarang ia telah memperistri Ira.


"Iya, mas Juna bangun dulu. Biasanya kalau pagi mas Juna berolah raga dulu sebelum mandi dan sarapan. Hari ini mas Juna kesiangan." Juna mengangguk dan mengerut mundur, sedikit menyandarkan bahunya pada bahu ranjang dengan posisi setengah terlentang


"Kayak harum teh melati." Ungkap Juna dengan suara sedikit serak. Ira juga segera mengambil secangkir teh hangat buatannya sendiri, tadi.


"Iya, mas. ini Ira buatkan untuk mas Juna." Ucap Ira. "Ini buat mas Juna."


"Terima kasih." jawab Juna sambil menerima cangkir berisi teh hangat itu. sungguh nikmat memiliki istri. Sepagi ini ia bisa menikmati teh hangat dengan aroma menenangkan.


"Oh ya, mas. Barusan pas Ira ke dapur buatin teh mas Juna, Ira ketemu mama. Kata mama kita harus segera bersiap untuk bulan madu ke Bali." Juna tersedak minumannya sendiri akibat terlalu terkejut.


"Apa? Kapan mama ngomong gitu?" tanya Juna lagi.


"Pelan-pelan, mas. mama bilangnya tadi, mas. waktu Ira bikin teh ini. Mama juga bilang ini kejutan buat mas Juna dan Ira."


"Ya sedikit, mas."


"Artinya, ini kejutan cuman buat kamu aja, bukan buat aku. Mama memang sering kali Ngadi-Ngadi. Aku nggak mau liburan apa lagi bulan madu ke Bali." Tegas Juna pada Ira, lantas Juna meletakkan secangkir teh tadi di atas nakas.


"Terus, gimana dong, mas? Tiketnya udah terlanjur siap atas nama kita."


"Aku hari ini ada acara ketemuan sama Keysha, Ra. Nggak mungkin acara janji temu ini batal gitu aja. Kamu belum tahu gimana sibuknya Keysha. Dia itu wanita karier yang jarang banget bisa ketemu dia, kalau dia nggak sengaja kosongin jadwal." Ungkap Juna setengah kesal. Raut wajahnya datar.


Juna berpikir, bahwa Ira hanya menjadi beban untuknya. Oh bukan hanya Ira, tapi juga pernikahan ini yang membuat ruang gerak Juna terbatas. Juna tidak mengerti dengan hal ini.

__ADS_1


"Ya, Ira sih sebagai istri manut aja apa kata mas Juna. Kalau mas Juna mau batalin rencana mama, ya terserah mas Juna. Tapi mas Juna ngomong sendiri saja nanti sama mama." Ungkap Ira, "Ira segan kalau Ira yang harus ngomong sama mama."


Hening diantara keduanya. Ira menunduk dengan memilin ujung kaosnya. Tak lupa, Juna juga memikirkan beberapa rencana untuk tetap ketemuan dengan Keysha, tanpa mendebat mamanya.


"Gimana kalau kita liburan ke Balinya besok saja? Hari ini biarkan aku ketemu sama Keysha." Ungkap Juna.


Tak ada pilihan lain bagi Ira selain menganggukkan kepalanya. Memangnya siapa Ira? Ira merasa dirinya bukanlah prioritas Juna meskipun ia telah resmi menjadi istri Juna. Harusnya Juna mengerti bagaimana perasaan Ira.


Sejumput kecewa mendarat di hati Ira. Ira takut jika seandainya nanti, hal ini akan berlangsung lama, Ira juga takut nanti Juna tidak bisa mencintainya. Bagaimana jika Ira nanti diminta pisah oleh Juna?


"Ra? Kamu melamun? Kamu baik-baik saja?" Tanya Juna kemudian.


"Ira? Eh Ira anu, mas. Ira....." Aira tergagap.


"Kamu keberatan kalau aku ketemuan dulu sama Keysha?"


"Boleh kok ketemuan sama Keysha, itu kan haknya mas Juna. Cuman kalau boleh Ira minta, jangan melewati batas, mas. Kita suami istri. Tolong mas Juna hargai Ira juga, dan jaga perasaan Ira."


"Ha ha ha ha . . . ." Juna tertawa keras. "Memangnya kamu siapa, Ra? Kamu kan cuman istri yang dijodohkan mama? Selebihnya, hati aku buat Keysha.Dari awal aku bilang, kamu harus bisa menaklukkan hati aku. Cuman kan ini secara bertahap."


Hati Ira tersa tertampar oleh kalimat Juna. Tiba-tiba saja dada Ira terasa sesak karena ujaran Juna, suaminya.


Ira sendiri tidak mengerti, mengapa bisa dirinya sakit hati karena kalimat Juna barusan. Benarkah Ira jatuh cinta secepat itu pada Juna?


"Ira ngerti, mas." Ira mengangguk.


"Ra, Tolong kamu mengerti. Sekarang ini, aku cuman mau Keysha. Entah besok, bisa jadi cintaku berubah hanya buat kamu. Hanya saja aku minta tolong, jangan memaksaku dan jangan mengaturku harus bagaimana. Aku bukan tipe lelali yang suka di kekang."

__ADS_1


Lagi, dada Ira semakin berdenyut nyeri seketika.


**


__ADS_2