Cinta Suci Humaira

Cinta Suci Humaira
Mati Suri


__ADS_3

pagi itu tak seperti biasanya Humaira memutuskan untuk lebih intens dekat dengan ibnu, Aini juga Iqbal. Humaira mengajak mereka bersepeda mengelilingi komplek dan ke gedung olahraga yang jaraknya 3 km dari rumah mereka. Saat mereka berangkat merasakan senang namun saat kegiatan berlangsung tubuh Humaira menjadi transparan dan ia terlihat kesakitan dan sesak nafas.


"Humaira, apa yang terjadi kepadamu?" tanya Aini.


"tidak apa-apa ka, tapi aku tidak akan tahu sampai kapan aku mampu bertahan."


"apakah menolong bibi tidak dapat dilakukan siang ini? Kenapa harus malam?"


"karena malam ini adalah malam terbaik dibandingkan malam-malam yang lain. Dan malam ini kesempatan terakhir ku untuk kembali ke tubuhku."


"Humaira" ucap mereka bertiga sambil memeluk Humaira. namun mereka tak ada yang merasa aneh mengapa kali ini mereka dapat menyentuh Humaira padahal sebelumnya selalu menembus.


"kamu pasti kuat dan bisa kembali ke tubuhmu Mai, kami ikhlas melepas mu insyaallah lain waktu kita dapat bertemu lagi. kami tidak bisa melihatmu meninggal." ucap Aini sambil berurai air mata.


"kenapa kita jadi mellow begini, bagaimana kalo kita jalan-jalan.," ajak Humaira


"tapi apakah kamu baik-baik saja? Kami tidak ingin kamu menurun karena kami."


"aku akan bahagia bisa menghabiskan waktu bersama kalian mungkin setelah ini aku akan segera ke rumah sakit tempat bibi kalian untuk mempersiapkan segala sesuatu untuk kepentingan malam nanti. Teman-teman nenek pun mencari tempat dukun yang membantu orang yang ingin mencelakakan bibi saat ini."


"kamu harus bertahan Humaira walau semua telah ditangani nenekmu namun kondisi mu saat ini sangat lemah. Sebaiknya kamu istirahat"


"baiklah"


Setelah ia berkata demikian entah apakah Humaira benar-benar tertidur atau berbaring karena lemah. Di saat itu tiba-tiba ia dibawa oleh sang nenek menuju rumah sakit. Namun bukan rumah sakit tempat bibinya Ibnu di rawat namun rumah sakit tempat ia sendiri di rawat.


*****


di tempat lain di rumah sakit daerah tempat Humaira di rawat saat ini Humaira sedang dalam penanganan dokter. Karena kondisi tubuhnya melemah dan sempat mengalami gagal jantung dan henti nafas.

__ADS_1


10 menit berlalu namun usaha yang dilakukan para dokter seakan sia-sia tidak ada pergerakan dari ritme detak jantung Humaira yang tertera di monitor.


Seorang dokter keluar dari ruang perawatan ICU dan memberi tahu kondisi Humaira,,,


"keluarga ananda Humaira" panggil dokter itu


"saya ibunya dokter, bagaimana kondisi Humaira saat ini? Tanya ummi Hasanah


"maafkan kami Bu, kami telah berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan Humaira namun Tuhan berkehendak lain. Ia lebih sayang kepada Humaira sehingga ia memanggilnya kembali."ucap dokter menjelaskan


seketika itu pula tubuh ummi Hasanah limbung jatuh ke lantai. Ia tak kuat menerima kabar itu, dan akhirnya pingsan.


"Bu Fatimah tolong jaga ummi, aku ingin bertemu adik Mai, tidak mungkin adik Mai meninggal. Dia sudah berjanji akan bersama selalu dan menemukan orang tua kami" ujar Farhan sambil berlinang air mata."


"Farhan... Farhan..." panggil Bu Fatimah


"biarkanlah Bu, jika Farhan ingin menemui Humaira saya tahu jika ia terpukul dan tidak menerima kenyataan jika adiknya telah pergi. Setelah berjuang 3 bulan lamanya akhirnya ia menyerah. Sebagai seorang dokter saya merasa bersalah kepada semua orang. Karena seorang Humaira banyak perubahan yang akan terjadi baik di masa sekarang atau masa depan. Sekarang sebaiknya kita bawa ummi Hasanah ke UGD untuk mendapatkan penanganan."


Sesungguhnya hati Bu Fatimah pun terluka dan sedih mendengar anak asuhnya telah meninggal. Namun mengingat perjuangan Humaira selama 3 bulan ini untuk bertahan telah mencapai batasnya.


Di sisi lain Farhan memasuki ruang ICU dan menuju bed Humaira. Terlihat wajah pucat tanpa aliran darah terbujur kaku di atas pembaringan. Alat-alat yang menempel di tubuh Humaira akan dilepas oleh beberapa orang suster. namun Farhan mencegah.


"suster bolehkah aku mencoba membangunkan adikku untuk yang terakhir kali. Nanti bila takdir adek Mai memang meninggal dunia saya akan berusaha ikhlas. namun beri saya satu kesempatan untuk membangunkannya."


seorang dokter kepala yang ditatap oleh suster itu menganggukkan kepala pertanda memberi ijin.


"baiklah, tapi mohon jangan berteriak atau histeris. Kasihan pasien lainnya. "


"baik suster"

__ADS_1


Farhan segera mendekati jasad Humaira dan berkata,


"dek ayo bangun, Abang disini. Kenapa engkau terus tidur. Apa tidak capek tidur terus. Bangun sayang, bagaimana Abang hidup jika kamu pergi dek. Kamu pernah berjanji akan membantu Abang mencari kedua orang tua kita. Kenapa sekarang kamu ingkar dek." dipeluknya tubuh Humaira yang terbujur kaku walau masih hangat tubuhnya.


"dek, ummi pingsan dengar kamu seperti ini, apa kamu tega melihat ummi sedih karena kepergian mu. Dek kembalilah." ucap Farhan


"lihat dek liontin ini, ini sepasang ada foto kita juga bapak dan ibu. Bukankah kamu bilang kita harus mencari bersama-sama lalu bagaimana jika kamu pergi kita tidak akan pernah bertemu mereka dek.


Tanpa disadari oleh Farhan saat ia mendekatkan kalung liontin miliknya seberkas cahaya masuk menuju tubuh Humaira. Itu adalah ruh Humaira yang selama ini ada diluar dan tidak kembali ke tubuhnya.


Tak lama terdengar hembusan nafas lagi dari tubuh Humaira, dan monitor pendeteksi detak jantung kembali berbunyi. Para dokter dan suster langsung mengambil tindakan dan memasangkan kembali alat-alat yang sebelumnya menempel pada tubuh Humaira.


"subhanallah, inikah yang dinamakan keajaiban" ucap seorang suster


"benar Vin, kita tidak pernah menyangka seseorang yang telah dinyatakan meninggal oleh dokter dapat hidup kembali"


Tak lama kemudian Humaira membuka matanya sambil menatap ke arah dokter. Ia pun mengedipkan kedua matanya beberapa kali. Seakan ingin menyampaikan sesuatu namun tak bisa. lalu dokter itu memanggil Farhan.


"nak, kemarilah, adikmu kembali dan seakan-akan mencari seseorang mungkin itu kamu "


Farhan tak menanggapi namun segera menghampiri adiknya.


ia mengambil sebelah tangan Humaira yang tidak diberi infus atau kabel-kabel yang lain.


"Alhamdulillah adek kembali, jangan pergi tinggalkan Abang, Abang tidak bisa hidup tanpa adek" tangis Farhan


Humaira tak dapat menjawab namun terlihat air mata mengalir di pipinya.


"jangan menangis dek, Abang gak sedih justru bahagia melihat adek bangun. Banyak yang sayang sama adek. Cepat sembuh ya dek, kita semua menunggu adek kembali"

__ADS_1


"ummi pasti senang adek sudah bangun. Tadi ummi kaget dan panik tapi pasti ummi akan sehat lagi. Abang pamit ya dek. Abang diluar, tidak boleh terlalu lama di ruangan ini. Abang sayang adek. Jangan pernah tinggalkan Abang, ummi dan keluarga di panti asuhan. Karena kami semua menyayangi mu.,"


__ADS_2