Cinta Suci Humaira

Cinta Suci Humaira
Ayah


__ADS_3

Malam itu Humaira terbangun dengan kondisi lebih baik daripada sebelumnya. Ia menengok ke kiri dan ke kanan. Ummi Hasanah tidak terlihat namun ada Khadijah yang juga tertidur. Ia ingin bangun dan duduk, namun badannya terasa lemas. Tak lama kemudian pintu ruangan terbuka dan terlihat jika Ustadzah masuk.


"ustadzah, datang dengan siapa?"


"assalamualaikum Humaira, saya datang dengan pak ustadz tapi tadi ketemu temannya yang menunggu orang tuanya yang juga di rawat di rumah sakit ini jadi dia berbincang dahulu sama temannya"


"wa'alaikumsalam Bu ustadzah. Iya ustadzah"


"bagaimana kondisi mu hari ini nak?"


,"Alhamdulillah ustadzah saya sudah lebih baik, ini pun baru bangun tidur."


"apakah beliau adalah ibu kandungmu yang kabarnya datang ke panti asuhan pagi tadi?"


"iya Bu ustadzah. Tapi kenapa ummi tidak kelihatan ya, apakah beliau pulang"


Belum sempat ustadzah menjawab perkataan dari Humaira, terdengar pintu kamar itu terbuka kembali. dan terdengar sebuah kursi roda yang di dorong oleh seseorang. Seorang pria paruh baya duduk di atas kursi roda. Humaira termenung melihat sosok pria itu. Ia merasa tidak asing, namun ia pun tak mengenal beliau.


"assalamualaikum, apakah ini benar ruang perawatan Humaira?"


"wa'alaikumsalam, benar pak saya Humaira. Mohon maaf bapak siapa karena saya baru pertama melihat bapak" tanya Humaira


sosok itu mendekat kearah ranjang Humaira sambil meneteskan air mata di dorong oleh seseorang seperti anak buahnya.


"anakku"


"apa maksud anda pak, siapa anda saya tidak mengenal anda."

__ADS_1


"dimana Khadijah kenapa kamu sendirian nak, dia akan menjelaskan semua ini"


"ibu sedang keluar katanya mengambil baju ganti dan ambil charger hp. Lalu siapa anda kenapa mengakuiku sebagai anak?"


Belum sempat sosok itu menjawab telpon hp Humaira berdering. Humaira segera meminta tolong ustadzah untuk mengambilkan hp yang ada diatas nakas rumah sakit.


"assalamualaikum Abang,"


"wa'alaikumsalam, dek tadi kamu kenapa? Tiba-tiba seperti kesedak dan sesak nafas. terus hp mu menghadap keatas tidak ada gambarmu lagi. lalu siapa wanita tadi mengapa namanya seperti nama ibu kita?"


"saat ini aku tidak dapat menjelaskan apapun kepadamu bang, tunggu bunda datang baru minta beliau menjelaskan apapun yang ingin kita berdua ketahui"


"baiklah, lalu kamu dengan siapa disana?"


"ini bersama ustadzah dan seseorang yang mungkin terasa tak asing namun sama sekali tidak mengetahui siapa beliau"


"iya juga ya bang, gak lucu kan kalau aku tidak lulus karena tidak mengikuti ujian Nasional."


"apakah kamu bisa menjalankan ujiannya di rumah sakit ini nak, akan saya bantu agar kamu bisa menyelesaikan ujian itu di rumah sakit ini. Karena tadi saya sempat menanyakan kepada dokter yang merawat mu jika kondisi mu belum memungkinkan untuk di rawat jalan" suara itu berasal dari sosok yang duduk di kursi roda


"apakah itu bisa dilakukan pak?"


"tentu saja, nanti biarkan anak buahku yang mengurus dan meminta ijin ke sekolah mu."


"baiklah jika demikian saya setuju yang penting dapat melakukan ujian Nasional." ujar Humaira


"siapa itu dek? Apakah Abang boleh bicara dengan beliau?" Abang ingin mengucapkan terima kasih karena beliau mau membantu adikku yang paling aku sayang"

__ADS_1


"baiklah jika demikian" Humaira pun memberikan hp itu kepada sosok itu dan segera diambil oleh asisten orang itu


"ayah,,,?" panggil Farhan


Sosok itu tertegun manakala Farhan memanggilnya dengan sebutan "ayah". Memang tidak dipungkiri jika wajah mereka sangat mirip bagai pinang dibelah dua. Baik Farhan maupun sosok itu sama-sama meneteskan air mata. sedangkan dilain pihak Humaira yang mendengar abangnya memanggil ayah pun syok. Ia tidak menyangka perasaan akrab itu karena sosok itu adalah ayahnya. Tanpa ia sadari dia menahan sakit sambil memegang dadanya. Fisiknya tidak kuat menghadapi kejutan demi kejutan yang datang begitu tiba-tiba.


Tak ada yang menyadari apa yang dirasa kan oleh Humaira karena mereka asyik dengan pikiran mereka masing-masing. Humaira berusaha melupakan rasa sakit itu dengan cara melantunkan ayat-ayat suci Alquran. namun semakin lama suaranya mulai terbata-bata. Ustadzah menyadari suara aneh yang dikeluarkan dari mulut Humaira segera mendatangi nya.


"apa yang terjadi Humaira? Apakah rasa sakit itu datang lagi?"


"iya ustadzah, dadaku kembali sakit dan sedikit sesak."


"ustadzah panggil suster dahulu ya nak, sabar sebentar"


Humaira tidak menjawab ucapan ustadzah namun ia menganggukan kepalanya. Ustadzah segera memencet tombol untuk memanggil para perawat. Tak lama muncul kedua suster di ruang perawatan Humaira. Diikuti dibelakangnya oleh Ummi Hasanah dan juga Khadijah.


Humaira segera di tangani oleh perawat itu. Sementara keluarga yang menunggu diminta untuk keluar. Khadijah pun menyadari kehadiran suaminya.


"ayah, ada disini?"


"iya Bun, oiya aku sampai lupa sedang telponan dengan anak kita Farhan" ucap Aditya


mereka berdua pun segera duduk bersandingan, Khadijah duduk di kursi tempat menunggu pasien sedangkan Aditya duduk di kursi roda. Sedangkan Ummi Hasanah, ustadzah dan asisten pak Aditya menepi untuk memberikan waktu kepada keluarga mereka yang baru bertemu untuk melepas kangen.


"bunda, ayah. apakah ini sebuah mimpi,?" tanya Farhan diseberang telpon


"tidak nak, apa yang kamu saksikan sekarang adalah kenyataan. Dan kami tidak akan meninggalkan kalian lagi,"

__ADS_1


__ADS_2