
Setelah menunggu beberapa lama akhirnya Bu Fatimah selesai membantu ummi Hasanah sarapan. Dan Farhan menghampiri Bu Fatimah dan mengatakan jika Humaira ingin di lap. Segera ia menghampiri,,
"Bu, minta tolong Seko Mai ya, badan Mai gatal semua."
"iya nak, sebentar ibu ambil air hangat dulu "
Kemudian Bu Fatimah mengelap badan Humaira, namun aneh walau ia tidak mandi selama berbulan-bulan namun badannya wangi, bukan karena minyak wangi atau wewangian lainnya. Sepertinya bau itu muncul dari tubuh Humaira.
Jam 9 pagi seorang dokter datang untuk memeriksa Ummi, Alhamdulillah ummi sudah boleh pulang ke rumah. Namun ia tidak mau pulang dan akan menemani Humaira disini karen dengan begitu ia akan lebih tenang.
Ustadz Ibrahim dan istrinya datang berkunjung hari ini namun beliau hanya bisa menemui ummi karena Humaira masih menjalani beberapa tes untuk kesehatannya. Ummi diajak pulang dahulu bareng pak ustadz tapi ia memilih untuk menunggu Humaira dahulu karena takutnya ia nanti mencari. Jam 11.05 Humaira kembali ke ruangan bersama seorang suster dan Farhan. Namun ia terlihat lemas mungkin karena lelah menjalani beberapa tes pemeriksaan. Ia di dorong oleh seorang suster.
"assalamualaikum ustadz dan ustadzah apa kabar?" sapa Humaira
"wa'alaikumsalam, Alhamdulillah nak semua sehat. Bagaimana kondisimu nak?"
"masih seperti ini ummi badan belum kompromi, diajak menjalani tes beberapa kali sudah lelah. Padahal tinggal duduk dan di dorong" ujar Humaira membuat semua orang tertawa.
"Mai, kebetulan ustadz dan ustadzah menjenguk, jadi ummi pamit pulang dulu boleh? Insyaallah jika kondisi ummi benar-benar pulih, ummi kembali kesini"
"iya ummi, sebaiknya ummi banyak beristirahat jangan ngurusin panti asuhan dulu. Bukankah banyak pengurus yang lain."
"iya nak".
ummi pun ikut pulang bersama ustadz dan ustadzah yang tadi menjenguknya.
"ummi mengapa setelah Humaira koma 3 bulan lebih, saat bertemu tadi seperti orang yang berbeda dia lebih memancar auranya. Energi positif nya pun naik dibandingkan yang lalu." ucap ustadz Ibrahim
"jika hal itu saya tidak paham ustadz namun memang ada yang berbeda, kemarin setelah sholat Maghrib ia melantunkan ayat-ayat Al Qur'an. Namun itu bukan surat-surat pendek melainkan surat-surat di juz 30 dan juga Al Baqarah sampai ayat 117.
"benarkah ummi, lalu dia belajar dimana karena sebelumnya dia tidak hafal."
"jika itu saya tidak mengetahui pastinya ustadz, tapi semoga itu membawa manfaat yang lebih baik untuknya. Semalam dia berhenti membaca Alquran karena tertidur. Mungkin dengan cara itu dia bisa menenangkan hati juga pikirannya."
"benar kata ummi"
di sisi lain ketika Farhan dan Humaira tinggal berdua, mereka pun saling berbincang-bincang.
__ADS_1
"Abang, apakah adek bisa sembuh. Kata orang yang mempunyai penyakit jantung itu tidak akan bisa sembuh sampai ajal menjemput.?"
"St..... Tidak boleh berkata seperti itu dek pamali, dan gak baik. lebih baik kita berusaha supaya kamu bisa terus sehat dan bisa menjalani kehidupan normal seperti orang lain."
"insyaallah bang. Kapan pak Gilang dan Bu Laura menjemput Abang? Pasti karena kondisi adek sampe menunda hal itu ya bang. Kenapa adek hanya bisa menjadi beban kalian. adek merasa tidak berguna bang"
"Mai kamu yang Abang sayang. Hanya kamu keluarga kandung Abang satu-satunya. Abang akan lakukan apapun yang penting kamu sehat dan bahagia nyawa pun akan aku berikan".
"tidak boleh, Abang tidak boleh mati."
"bang adek mau jadi guru, mau mendirikan sekolah gratis untuk anak-anak yang kurang beruntung seperti anak-anak jalanan di luar sana. apakah adek bisa mewujudkannya ya bang?"
"insyaallah apa yang kamu impikan akan terwujud nak, kami akan berusaha membantu mu mewujudkan apa impian mu."bukan Farhan yang menjawab namun ada suara di belakang mereka. Farhan segera melepas pelukannya kepada Humaira dan menengok kebelakang.
"papa, mama benarkah itu?"
"iya nak benar. Humaira apakah kamu mau bersama kami ikut kami dan menjadi anak asuh kami juga?" tanya Bu Laura
"maafkan Mai Bu, bukan maksud Mai menolak, namun Mai percaya suatu saat nanti orang tua kami akan kembali ke panti asuhan untuk menengok kami. Jika kami berdua pergi pasti tidak akan bisa menemuinya. Namun jika aku tinggal pasti aku akan mengabari bang Farhan juga ibu dan bapak" ucapnya sambil menangis.
Humaira mulai merasakan sesak di dadanya namun ia tak mengatakan itu. untuk menyembunyikan rasa sakitnya ia berusaha untuk tidur.
"iya dek"
"iya nak" jawab mereka bersama.
Namun Bu Laura merasa curiga dengan Humaira karena tadi sekilas saat Humaira akan membaringkan tubuhnya ia terlihat mengernyit seperti menahan sakit. Hal ini tidak di sadari oleh pak Gilang dan Farhan.
"mau ibu pijiti kakinya nak"
"tidak Bu, sebenarnya Humaira hanya duduk di kursi roda namun entah kenapa badan ini gampang rapuh."
"sini ibu peluk nak mungkin dapat meredakan rasa sakit yang kau rasakan" ucap Bu Laura lirih
"bagaimana ibu bisa tahu?"
"sekilas tadi ibu melihat kamu mengernyit saat akan berbaring. miring lah kemari agar ibu bisa menggosok lembut punggungmu.
__ADS_1
"iya Bu" Humaira pun menurut, awalnya ia masih merasakan sakit itu namun lama kelamaan ia tertidur
Namun baru 15 menit Humaira tertidur terdengar suara rintihan dari tubuhnya. Ketiga orang itu reflek mendekat ke ranjang Humaira. terlihat Humaira berkeringat deras seakan menahan sakit yang tak kuat ia tanggung. Rintihan kembali terdengar namun Humaira tak dapat dibangunkan.
"Mai, bangun dek apa yang kamu rasakan? Buka matamu dek"
"sabar nak, suster sudah dipanggil nanti ia akan segera datang."
"Humaira kenapa tiba-tiba seperti ini Bu, padahal tadi ia baik-baik saja "
"tidak tahu nak"
Tak lama kemudian dua orang suster dan seorang dokter masuk ke ruangan. Semua orang diminta keluar agar dokter mudah untuk memeriksa Humaira.
"bagaimana keadaan adek saya dok?" tanya Farhan ketika dokter itu keluar
"saat ini kondisi Humaira sudah stabil namun harus terus dipantau. Jika ada gejala sedikit menahan sakit sebaiknya segera di panggil kan para medis karena kondisinya belum stabil."
"apakah kondisi jantung Humaira memburuk dok?"
"iya, seharusnya Humaira segera menjalani operasi namun selain kondisinya tidak memungkinkan ia juga menolak untuk di operasi."
"apa yang dapat kami lakukan untuk membantu nya dokter"
"terus perhatikan ia jika sekiranya ia menahan sakit segera hubungi kami. Karena setiap detik berharga. Jangan sampai karena terlambat penanganan berakibat fatal untuknya."
"terimakasih dokter, apakah kamu boleh menemui nya."
"boleh, namun ia sekarang dalam pengaruh obat jadi masih tertidur. Untuk sementara biarkan dia istirahat dahulu"
"baik dokter".
Setelah dokter dan kedua perawat pergi, mereka bertiga segera masuk ke ruang perawatan Humaira. Terlihat saat ini Humaira tidur dengan tenang dan nyaman.
"dek apapun yang terjadi jangan pernah tinggalkan Abang ya. Tepatilah janjimu dahulu, jangan pernah menyerah dengan penyakitmu walau itu menyakitkan." ucap Farhan sambil menangis.
"kamu harus kuat untuk Humaira nak, jangan perlihatkan kepadanya saat engkau menangis seperti saat ini. Karena itu akan mempengaruhi mentalnya"
__ADS_1
"iya Bu"