Cinta Suci Humaira

Cinta Suci Humaira
Belajar Mengaji


__ADS_3

30 menit berlalu, akhirnya Humaira terbangun, namun ia segera memegang kepalanya karena terasa berat dan pusing. Karena merasakan ada gerakan Farhan yang tertidur pun ikut terbangun.


"sudah bangun dek, apa yang kamu rasakan?" tanya Farhan


"Abang, kepala adek pusing dan kenapa adek dipakaikan oksigen."


"tidak apa-apa dek, tadi kamu tidur namun kamu tiba-tiba merintih seperti kesakitan namun dibangunkan tidak bisa akhirnya di beri obat oleh dokter dan diberi oksigen".


"apakah adek akan terus seperti bang? Dede ingin main dan sekolah seperti teman-teman lainnya."


"insyaallah bisa dek tapi adek mau di operasi ya biar adek sembuh."


"adek takut jika harus berakhir di meja operasi bang"


"percayalah pada Allah dek, jangan mudah menyerah. Semua itu tidak disukai Allah. Jika kamu tidak mau melakukan operasi kamu akan terus merasakan sakit itu dek.


"tapi aku pernah bertanya sama dokter Mulan apakah dengan operasi aku dapat sembuh dan tidak mengalami sakit lagi ternyata tidak bang. Aku tidak mau mengalami koma lagi bang, aku sendiri tanpa ada yang dapat melihatku rasanya sedih. Aku tidak mau di operasi bang." ujar Humaira sambil menangis, namun lambat laun suara nafas Humaira semakin menyakitkan. Humaira mengalami sesak nafas kembali. Farhan segera memencet tombol untuk memanggil perawat.


Farhan segera menaikkan posisi tempat tidur Humaira, namun hal itu tidak banyak membantu. Walau sudah dibantu oksigen namun Humaira tetap merasa susah untuk bernafas. tak lama kemudian tim medis datang dan keluarga diminta keluar dahulu


Saat itu Humaira masih dalam keadaan sadar namun karena sesak nafas ia tidak bisa berkomunikasi. Setelah diberi obat dan tambahan oksigen akhirnya Humaira bisa tidur kembali. Setelah itu tim medis segera keluar dari ruangan dan meminta suster memanggil keluarga Humaira untuk keruang dokter.


"permisi dokter," kata pak Gilang


"silahkan duduk pak, apakah anda orang tua Humaira"


"benar pak tapi saya hanya orang tua asuh."


"baiklah, begini pak kondisi katub jantung Humaira sebelah kanan semakin parah. Jika menunggu kesiapan Humaira kapanpun kondisinya bisa kollaps. Kita tidak bisa terus menunggu kondisinya memungkinkan pak."


"lalu apa yang harus kita lakukan pak?"


"operasi harus segera dilaksanakan pak, jika ditunda lagi dapat membahayakan kesehatan Humaira."


"lakukan yang terbaik dokter untuk biaya saya yang akan menanggung nya. Selain itu biar saya sendiri yang akan mengatakan hal ini kepada Ummi Hasanah.


"baiklah jika demikian saya serahkan kepada pak Gilang. Operasi akan segera dipersiapkan insyaallah besok pagi operasi akan dilakukan. "


"lakukan yang terbaik dokter"


Setelah perbincangan tersebut pak gilang kembali menuju ruang perawatan Humaira. Saat ia masuk ia sudah disambut pertanyaan dari Bu Laura juga Farhan.


"bagaimana pak, apa kata dokter?" tanya Bu Laura


""Humaira harus segera di operasi Bu, karena kondisinya semakin lemah. Jika kita menunggu Humaira siap takutnya kondisi nya memburuk. Operasi dilaksanakan lebih cepat lebih baik"

__ADS_1


"apakah kita harus menelpon Ummi Hasanah pak?"


"tidak usah Bu, biarkan bapak yang kesana dan menyampaikan secara langsung. Farhan kamu mau pulang dulu atau disini?"


"Bu, misalkan aku ikut pulang bersama bapak apa boleh? Karena baju yang ada sudah kotor semua, Farhan tidak ada baju ganti"


"baiklah ikutlah dengan bapak ke panti asuhan biar Humaira ibu yang menjaga" jawab Bu Laura


akhirnya pak Gilang dan Farhan menuju ke panti asuhan. pak Gilang segera menemui ummi Hasanah sedangkan Farhan menyiapkan baju ganti untuk dirinya juga Humaira di rumah sakit nanti.


Di saat Bu Laura sedang membaca majalah, Humaira terbangun


"Bu Laura, pak Gilang dan Abang kemana?"


"saat ini bapak dan Farhan ke panti asuhan untuk mengambil baju ganti untukmu dan Farhan nak."


"maaf jika Mai sering buat kalian susah ya Bu"


"tidak baik nak berkata demikian, banyak orang yang menyayangimu termasuk kami jadi jangan minder ya."


"insyaallah Bu. Oiya Bu, sekarang jam berapa?"


"jam 16.18. Ada apa nak, kamu butuh bantuan? Katakan saja sama ibu tidak usah sungkan"


"Humaira belum sholat ashar Bu. Apakah ibu bisa bantu Humaira berwudhu karena badan Mai terasa lemas tak kuat jika sendiri."


"apakah ibu tidak takut akan hukuman dari Allah karena telah lalai melaksanakan sholat?"


"sejak kecil keluarga ibu jauh dari agama nak, bahkan orang tua ibu tidak punya waktu untuk anak-anaknya. Mereka lebih mementingkan bisnis daripada anak-anak nya jadi ibu merasa kurang kasih sayang." ujar Bu Laura sambil membantu Humaira bertayamum.


"apakah Allah masih mau mengampuni dosa ibu jika akan bertaubat dan menjadi insan yang lebih baik nak."


"tidak ada kata terlambat untuk memulai hal yang baik Bu. Minta tolong ya Bu ambilkan mukena Humaira di lemari kecil itu."


tak lama kemudian Bu Laura membantu Humaira memakai mukena dan memperhatikan Humaira saat sholat. Selesai sholat Humaira memanjatkan doa dan mulai melantunkan ayat-ayat Al Qur'an. Suaranya begitu merdu sehingga membuat tenang orang yang mendengarnya.


Saat Humaira sedang membaca Alquran yang telah ia hafal masuklah seorang suster yang bermaksud akan mengukur tekanan darah dan memberi obat. Namun saat melihat dan mendengar sendiri Humaira membaca Alquran dengan khusyuk ia pun berdiri tanpa bicara ataupun menyapa. Tak berapa lama kemudian Humaira mengakhiri bacaan Alquran nya.


"suster apakah sudah lama? Kenapa tidak memanggil Humaira. Jika tau ada suster pasti Mai akan berhenti dahulu saat membaca Alquran" sapa Humaira


"suaramu begitu merdu Mai sehingga suster terpana. Jadi lupa mau memberi obat juga mengukur tensi mu" jawab suster


"benarkah sus? Aku berencana mau menjadi seorang Tahfidzul Qur'an. Aku baru hafal 2 juz secara otodidak jadi perkembangannya lama sus beda kalo ada yang mengajari.


"kalau ustadzah yang mengajari Humaira apakah mau?" tanya ustadzah yang baru masuk bersama ustadz Ibrahim

__ADS_1


"Bu ustadzah, Mai mau bun menjadi Tahfidzul Qur'an agar menjadi tiket ke surga untuk orang tua Mai kelak." mendengar penuturan Mai kecil semua orang yang ada di ruangan itu menitikkan air mata. Begitu pula dengan pak Gilang, ummi Hasanah, juga Farhan yang baru akan masuk dan mendengarkan ucapan Humaira


"insyaallah nak, begitu mulia apa yang kau cita-cita kan. Insyaallah akan diberi kemudahan untuk bisa menjadi Tahfidzul Qur'an."


"aamiin ya rabbal'alamin." ucap semua orang di ruangan itu.


Humaira kaget begitu banyak suara yang mengaminkan doa itu, ia segera menengok asal suara itu. Dan membuatnya tersenyum saat melihat ummi Hasanah.


"ummi kenapa sudah di rumah sakit lagi? Apakah ummi sudah sehat?"


"Alhamdulillah nak, ummi sudah sehat. Ummi mau menjagamu sayang, di rumah ummi terus kepikiran kamu"


"maafin Mai ya ummi"


"kenapa kamu meminta maaf kamu tidak salah nak"


"permisi ya, saya ijin memberi obat untuk Humaira"


"suster apakah tidak boleh nanti obatnya. Nanti pasti Mai tidur lagi, padahal Mai mau mengobrol sama semua yang disini" protes Humaira


"tidak boleh sayang,, karena untuk memberikan obat sudah ada jadwalnya sesuai arahan dokter Mira. Jika tidak kamu tidak akan lekas sembuh."


"baiklah sus Mai nurut. Mai mau cepat sembuh biar bisa belajar Tahfidzul Qur'an sama ustadzah "


"tahan ya Mai ini agak sakit," ucap suster itu dan di jawab anggukan oleh Humaira


Setelah selesai menyuntik Humaira dan mengecek tekanan darahnya suster itu lalu pamit.


"Mai, kamu sudah menghafal juz berapa dalam Al Qur'an "


"baru juz 30 dan surat Al Baqarah sampai ayat 285 ustadzah."


"bisakah kamu membacakan surah Al Baqarah ayat 1 sampai 8"


"Baik ustadzah," tak lama Humaira pun membacakan Al Qur'an sesuai dengan arahan dan yang diminta oleh ustadzah. beberapa kali ustadzah pun membetulkan bacaan Humaira yang kurang pas. Alhamdulillah semua berjalan lancar


"subhanallah,, begitu merdu suara mu nak, dan dalam membaca Alquran engkau sudah fasih hanya saja ada beberapa makharijul huruf yang kurang tepat. Insyaallah dapat di perbaiki."


beberapa kali Humaira terlihat menguap. Ia pun tak kuat menahan kantuk lagi. Ia pun memanggil Farhan


"Abang, boleh Mai minta tolong Abang peluk sampai Mai tertidur?"


Sebelum menjawab Farhan menoleh kepada ummi, setelah mendapat anggukan dari ummi ia segera menghampiri ranjang adiknya dan memeluknya. tak lama berselang Humaira telah masuk ke alam mimpi. namun saat akan pindah, tangan Farhan ditahan mai agar tidak pergi.


"jangan pergi bang"

__ADS_1


"iya dek, Abang akan selalu menemani adek".


__ADS_2