
Sore itu sekitar jam 4 akhirnya Humaira di pindahkan ke ruang perawatan biasa. Bu Fatimah dan Farhan menunggu di luar ruangan ICU. terlihat jika Humaira memejamkan matanya, ia tak menyadari jika Farhan dan Bu Fatimah berjalan mengikuti brankar Humaira yang di dorong menuju ruang VIP di lantai 4. Saat telah tiba di ruangan ia diminta pindah ke tempat tidur yang ada secara perlahan. Namun karena lemas Bu Fatimah membantunya untuk pindah. Saat itulah Humaira sadar jika ada Bu Fatimah.
'
"terimakasih ibu, terimakasih suster"
"sama-sama, jaga kondisi ya," ucap suster
"ibu, dimana Ummi? Sejak aku bangun tak melihatnya. Aku kangen "
"ummi ada disini nak, tapi jangan jadikan dirimu beban kami ya. Karena kasih sayang yang besar untukmu."
"iya Bu"
Akhirnya Bu Fatimah membuka tirai yang ada disebelah kanan ranjang Humaira. Ia pun segera menoleh ke kanan dan ia pun langsung menjerit dan akan memaksa bangun namun di tahan sama Bu Fatimah "
"ummi maafkan Fatimah jika selama ini sudah buat semua orang sedih. Humaira ingin dekat ummi dan memeluk ummi."
"biar ummi yang ketempat mu nak, kamu jangan memaksakan diri. ummi tidak mau kamu kenapa-kenapa lagi"
"iya ummi, ummi jangan sakit, jika ummi sakit siapa yang jaga aku dan saudara-saudara ku di panti?"
"iya nak,"
"ummi, Humaira kangen sama ummi mau tidur bareng sama ummi boleh? Mai mau dipeluk ummi" ujar Humaira sambil menangis.
"iya nak, ranjangnya di dekatkan saja ummi" kata Farhan
"terimakasih bang "
"ummi bolehkah Mai tidur di pangkuan ummi, aku kangen sosok seorang ibu. apakah saya bisa menemukan ibu kandungku."
"insyaallah tidak ada yang tidak mungkin jika Allah berkehendak nak"
"seperti umur kita ya ummi."
"iya nak, umur, rejeki, jodoh semua di tangan Allah kita hanya bisa menjalani takdir Allah. Jadi berusahalah berbuat baik di manapun engkau berada jangan membuat orang lain membenci atau marah kepadamu. Apakah kamu memahaminya nak?" tanya ummi
namun tak ada jawaban dari Humaira dan terdengar dengkuran halus dari tubuhnya. Kepala Humaira pun di turunkan dari paha ummi, dan ia ditidurkan dengan posisi yang nyaman.
Sekitar jam 23.17 Humaira mengigau dengan memanggil "Abang...abang...Abang..." semua orang kaget dengan suara Humaira yang diikuti dengan tangisannya.
"dek, bangun sayang. Abang disini,, Abang tidak akan meninggalkan adek. Farhan menyebutkan itu beberapa kali hingga Humaira tenang kembali dan tidur lagi.
__ADS_1
"apa yang terjadi dengan adek, mengapa ia mengigau sambil menangis seperti tadi. Seakan-akan takut aku akan pergi" batin Farhan
ia pun segera tidur dikursi dan menaruh kepalanya di ranjang Humaira. Tangan kanannya menggenggam tangan Humaira.
"Abang"
"Abang"
"Abang"
Pada panggilan ketiga dari Humaira akhirnya Farhan terbangun.
"ada apa dek, adek haus?
"perut adek sakit bang, seperti melilit mau muntah. Bisa bantu adek ke kamar mandi?"
"tahan sebentar dek, Abang cari plastik dahulu biar nanti Abang buang ke WC."
"iya bang"
Namun belum juga Farhan menemukan kantong plastik terlihat jika Humaira tidak kuat menahan mual dan akhirnya ia muntah" di samping kiri bed. Farhan yang berada di luar segera berlari masuk ke dalam.
"astaghfirullahal'adzim adek, dek kamu gak apa-apa, Abang panggil kan suster biar adek diberi obat."
saat Farhan akan berkata lagi terlihat Humaira akan kembali muntah. Ia dengan sigap mengambil plastik untuk tempat muntahan Humaira. beberapa kali Humaira muntah, hingga akhirnya ia menjadi lemas. Ia segera memanggil Bu Fatimah
"Bu, bisa minta tolong panggil kan suster, sedari tadi Humaira muntah hingga badannya lemas. Saat saya akan memanggil suster Humaira tidak mau di tinggal."
"baiklah jika demikian nak"
Bu Fatimah segera menuju kantor perawat ia mengatakan kondisi Humaira, saat masuk ke ruang perawatan terlihat Humaira sedang bersandar di bahu Farhan, badannya terlihat lemas. Suster membantu membaringkan tubuh Humaira lalu ia memasangkan oksigen dan menyuntikkan obat ke dalam infusan.
Tak lama kemudian Humaira tertidur namun sesaat sebelum ia tertidur ia mengatakan agar Farhan ikut tidur seranjang dengannya. Farhan tidak tega menolak keinginan adiknya. akhirnya ia tidur disamping adiknya.
waktu sudah menunjukkan waktu sholat subuh, Humaira terlihat pulas tidur. Akhir semua orang membiarkan Humaira tidur dan tidak membangunkan nya.
saat orang lain sedang melaksanakan sholat subuh Humaira terbangun, ia tidak kecewa karena tidak dibangunkan. Namun ia menunggu agar nanti dibantu untuk sholat.
Setelah berdoa Farhan segera menghampiri ranjang Humaira ia melihat adiknya telah bangun.
"kenapa sudah bangun dek, apa ada yang sakit lagi?"
"tidak bang, tapi Bu Fatimah tolong bantu aku untuk berwudhu dan sholat ya. Sudah lama aku tak sholat pasti doaku menumpuk.
__ADS_1
"tak apa dek, Allah pasti paham jika engkau sakit dan tidak sadar saat itu "
"iya bang"
Tak lama kemudian Humaira melakukan sholat subuh. Setelahnya Humaira melafalkan ayat Alqur'an tanpa membaca Alquran langsung. Karena memang ia hafal juz 30. Suaranya sangat merdu dan membuat orang yang mendengarnya adem. Namun suara nya tidak terlalu jelas karena ia masih dibantu oksigen.
"dek apa kamu hafal Al-Qur'an"
"baru juz 30 dan surat Al Baqarah sampe ayat 117 bang. Ada apa bang?"
"dari mana kamu belajar dek? Ajari Abang juga ya."
"adek hanya sering mendengar kan murottal Al Qur'an lalu sering mendengar kan khusus surat apa dari ayat berapa hingga ayat berapa berulang-ulang hingga jadi hafal. Bang adek boleh tidur lagi. kepala adek agak pusing"
"apakah kamu tidak apa-apa dek, Abang panggil kan suster ya?"
"tidak ka biarkan saya istirahat dahulu."
Farhan tak menanggapi lagi perkataan adiknya, ia pun mencari murottal Al Qur'an di hp sesuai arahan Humaira tapi dia tidak mengerti dan belum paham. saat akan dimatikan murottal Al Qur'an nya namun di cegah oleh Humaira hingga akhirnya Farhan membiarkan murottal Al Qur'an terus di putar.
"dek bangun dulu, ayo sarapan."
"dede g selera bang, perut pun gak enak"
"harus dipaksa dek biar bisa minum obat agar segera sembuh. "
"sedikit saja ya bang."
"iya" jawab Farhan sambil menyuapi Humaira dengan telaten.15 menit kemudian acara sarapan pagi itu selesai.
"bang, boleh dedek minta tolong sesuatu?"
"apa dek?"
"dulu saat adek koma siapa yang mengelap tubuh adek."
"biasanya ummi atau Bu Fatimah. kenapa dek. Adek mau di lap?
"iya bang, badan adek gatal semua"
"Menunggu Bu Fatimah selesai sarapan dulu tidak apa-apa kan dek?"
"iya bang"
__ADS_1