Cinta Suci Humaira

Cinta Suci Humaira
Ibu


__ADS_3

enam tahun berlalu, saat ini jarak antara Farhan dan Humaira semakin jauh karena pak Gilang dan Bu Laura pindah tugas ke Sidney Australia. Namun hubungan mereka tidak pernah putus. Mereka terus berkomunikasi, walau terkadang berakhir dengan tangisan kerinduan antara keduanya. Saat ini keduanya tengah berjuang belajar untuk menghadapi ujian nasional.


Sesungguhnya Humaira telah mendapat rekomendasi masuk ke sebuah Madrasah Tsanawiyah Negeri di kota M****i dengan kemampuan Humaira yang telah menamatkan hafalan Alquran nya atau dengan kata lain saat ini Humaira adalah seorang hafidz Al-Qur'an termuda. Karena di usianya 10 tahun telah hafal Al-Qur'an.


Beberapa tawaran sekolah untuknya datang memenuhi panti asuhan namun ia tolak, karena ia tidak mau jauh dari panti asuhan yang telah membesarkan dirinya. Walau berbagai macam cara dilakukan oleh Ummi Hasanah dan orang-orang disekitarnya untuk membujuknya namun semua hanya mustahil. Untuk Humaira sendiri tidak masalah ia akan sekolah di manapun berada yang terpenting adalah ia anak yang pandai maka kemudahan akan dapat dicapai.


Meskipun berbasis islami namun madrasah yang di pilih oleh Humaira pun termasuk favorit di kotanya. kualitas sekolah itu pun tidak kalah dengan sekolah umum lainnya.


Pada ujian Nasional SD atau Madrasah Ibtidaiyah setingkat nya telah selesai dan Humaira di nobatkan sebagai pemegang nilai terbaik se provinsi Bangka Belitung. Nilai yang diperoleh hampir sempurna dengan total jumlah adalah 49,65 poin untuk 5 mata pelajaran yang diujikan pada saat itu.


Hal ini pasti membanggakan orang-orang yang ada disekitar nya terutama untuk Ummi Hasanah, pak Gilang, juga Bu Laura selaku orang tua asuh Humaira. Berbagai piagam penghargaan diraihnya, beberapa beasiswa pun dipegangnya, bahkan sebelum penerimaan siswa baru di umumkan ia telah resmi menjadi murid dari salah satu sekolah Madrasah Tsanawiyah Negeri tanpa tes.


Disaat saudara-saudara yang lain tengah mempersiapkan segala sesuatunya untuk mendaftar sekolah Humaira masih tenang di panti asuhan. Terkadang ada rasa iri mereka kepada Humaira namun mereka sadar jika kemudahan yang didapatkan Humaira itu karena kecerdasan nya. Humaira pun tidak pernah segan membantu saudara nya yang kurang paham akan pelajaran untuk mengajari mereka sampe mereka bisa.


Namun sayang kali ini tidak ada saudara nya yang bisa bergabung satu sekolah dengan Humaira karena mereka tidak lolos tes seleksi masuk sekolah tersebut. Mereka sekolah di Sekolah Menengah Pertama Negeri yang dekat dengan panti asuhan mereka sesuai sistem donasi.


Fasilitas sekolah Humaira pasti diberikan oleh pak Gilang dan Bu Laura namun ia tidak pernah mau diistimewakan dibandingkan saudaranya yang lain. ia tidak pernah mau kelihatan menonjol hanya karena ia telah di asuh oleh pak Gilang. Hal ini yang membuat saudara-saudaranya semakin sayang kepadanya.


Tiga tahun berlalu dengan mulus tanpa hambatan apapun. Humaira pun sekarang jarang merasakan sakit yang sampai mengharuskan ia di rawat di rumah sakit. Namun ia tidak pernah putus meminum obat sesuai anjuran dokter. Ia pun rutin check up untuk mengetahui perkembangan penyakitnya. Sampai suatu hari dia menyembunyikan rasa sakit yang ia rasakan beberapa hari ini terus menderanya walau telah meminum obat yang biasa ia konsumsi tidak banyak membantu.


Suatu sore menjelang persiapan ujian akhir sekolah yang kurang lebih akan ditempuh Humaira dan saudara-saudaranya 3 Minggu lagi. Mereka sedang belajar bersama di halaman belakang yang menghadap pohon keramat tempat ia bertemu dengan Jeslyn tempo hari. Tak sengaja ia melihat ke arah pohon itu, terlihatlah Jeslyn melambaikan tangannya. Ada apa kenapa Jeslyn menampakkan diri apakah ada masalah disana?


Namun ia tidak segera menemui Jeslyn, ia pun melakukan telepati kepada Jeslyn agar nanti malam menemui nya di kamar. Karena akhir-akhir ini ia merasakan sering kambuh jadi ia mengurangi aktivitas berat di luar kamar. Apa yang dilakukan oleh Humaira tidak luput dari pengamatan ummi Hasanah dan juga pengurus panti lainnya. Mereka tidak ingin kecolongan tentang kondisi Humaira seperti beberapa saat yang lalu.


Malam harinya setelah semua orang tertidur, terlihat jika Jeslyn memasuki kamar Humaira. Ia terlihat cemas melihat wajah Humaira yang pucat dan banyak mengeluarkan keringat.


"hormat hamba yang mulia ratu"


"bangunlah Jeslyn, kenapa kamu tiba-tiba muncul, karena beberapa saat ini kamu jarang muncul"


"hamba muncul karena khawatir dengan kondisi kesehatan anda yang mulia. Maaf kami semua peka terhadap aura ratu. Aura yang terpancar dari tubuh yang mulia ratu melemah. ini menandakan jika yang mulia tidak sedang baik-baik saja "


"iya Jeslyn, beberapa waktu ini jantungku terasa sangat sakit tanpa tahu apa penyebabnya padahal aku sudah rutin meminum obat"


"kenapa yang mulia ratu tidak memeriksakan diri ke dokter saja?"


"aku tidak mau membuat orang lain khawatir, Jeslyn"


"namun jika tiba-tiba yang mulia ratu tidak sadarkan diri akan terjadi penyesalan besar kepada ummi juga pengurus panti asuhan yang lain yang mulia ratu."


"memang benar apa yang kau ucap Jeslyn. tapi mungkin besok aku akan mengajak ummi untuk berobat ke rumah sakit. Untuk saat ini apakah kamu dapat membantuku Jeslyn?"


"katakanlah apa yang dapat saya bantu yang mulia, jika saya mampu akan saya lakukan jika tidak, saya akan meminta bala bantuan."


"kita bukan akan berperang Jeslyn. Aku hanya ingin kamu menyalurkan tenaga dalam ke tubuhku paling tidak membantu ku bisa bertahan sampai esok."


"baiklah yang mulia sebaiknya anda sambil rebahan dan rileks agar semua berjalan dengan lancar."

__ADS_1


Humaira pun menurut dan melakukan apa yang diminta oleh Jeslyn. Ia segera memejamkan mata, Jeslyn pun mulai menyalurkan energi tenaga dalamnya kepada Humaira. Lama kelamaan terlihat Humaira tertidur dan wajahnya tak sepucat sebelum nya.


Keesokan harinya anak-anak telah bangun tidur namun terlihat Humaira masih tertidur dengan segera Ana teman sekamarnya membangunkan Humaira.


"Humaira,, bangunlah ini sudah waktu sholat subuh, mari kita berjamaah"


"kau duluan saja dulu Ana, badanku tidak fit dan terasa lemas saat akan bangun tidur. Minta tolong nanti minta Ummi Hasanah kesini ya biar bisa bantu saya untuk sholat" jawab Humaira dengan suara lemah


"baiklah Humaira, saya tinggal dahulu"


"iya"


Ana segera bergegas mengambil air wudhu dan segera menuju ke mushola yang ada di panti asuhan itu untuk melaksanakan sholat subuh berjamaah. Ummi Hasanah yang melihat ana datang sendiri tanpa Humaira pun bertanya keberadaan Humaira.


"Ana, dimana Humaira kenapa dia tidak bangun bersamamu? Apakah ia masih tidur"


"itu ummi, Humaira tadi mengatakan jika ia tak enak badan dan badannya terasa lemas jadi tidak ikut sholat subuh berjamaah. Nanti ummi diminta membantu nya untuk sholat subuh"


"baiklah jika demikian"


Tidak lama kemudian sholat subuh pagi itu dilakukan dengan di imami oleh pak Burhan. Selesai melaksanakan sholat subuh ummi Hasanah segera beranjak menuju kamar Humaira. ia melihat jika Humaira masih berbaring di tempat tidur dengan wajah agak pucat.


"nak,, Humaira,,,"


"Ummi, bisa bantu aku untuk tayamum dan sholat subuh, badanku terasa sangat lemas."


Humaira segera melakukan tayamum dan sholat subuh dibantu oleh Ummi Hasanah. Dengan tubuh lemas ia tetap melaksanakan kewajibannya. Setelah selesai sholat ia tadarus Al Qur'an walau hanya beberapa ayat. Suaranya merdu walaupun terdengar sangat lemah. Ia pun segera melepas mukenanya.


Ummi Hasanah yang duduk tidak jauh dari tempat tidur Humaira segera mendekat.


"apakah kamu sudah selesai nak?"


"sudah ummi, tapi apakah ummi bisa ijinkan Humaira dahulu hari ini. sepertinya May tidak kuat jika masuk hari ini."


"iya nak nanti ummi telponkan wali kelas mu. Sebaiknya sekarang kamu istirahat dahulu agar siang kita periksa ke dokter ya."


"obat May masih ada Ummi sepertinya tidak usah berobat dulu."


"tapi badanmu terlihat lemas nak, ingat lah tidak lama lagi kamu akan mengikuti ujian sekolah, lalu mengikuti seleksi masuk Madrasah Aliyah yang kamu mau. Kamu harus mempersiapkan kondisi tubuhmu agar benar-benar fit dan sehat nak."


"baiklah ummi, saya istirahat dahulu ya"


"iya nak, ummi tinggal ya."


Ummi Hasanah pun beranjak keluar dari kamar Humaira, namun hatinya tak tenang memikirkan Humaira. Beberapa tahun belakangan ini beberapa kali Humaira sakit namun tidak sampai mengkhawatirkan dan bisa diatasi dan tidak sampai rawat inap kembali. Namun pagi ini Humaira terlihat kepayahan seakan sakit yang ia rasakan tak mampu ditahan lagi.


saat di dapur akan memasak sarapan hari ini pun pikirannya kalut, ia tak konsentrasi untuk memasak makanan hari ini. untungnya hari ini Bu Fatimah membantu memasak di dapur.

__ADS_1


"ummi kenapa pagi ini terlihat tidak fokus, apakah ummi sakit, jika ia sebaiknya ummi istirahat di kamar"


"tidak Fatimah bukan aku yang kurang sehat tapi Humaira. Tadi ia terlihat begitu kepayahan dan badannya sangat lemas."


"astaghfirullahal'adzim, apakah sebaiknya kita bawa ke rumah sakit ummi?"


"iya, nanti rencananya akan aku ajak ke rumah sakit menunggu dokter praktek buka."


"tapi apakah Humaira kuat sampai waktu itu Ummi. Karena beberapa tahun ini Humaira tidak pernah terlihat sangat kepayahan dan tidak pernah sampai di rawat inap"


"inilah yang aku khawatirkan Fatimah apalagi tidak lama lagi ia akan ujian sekolah. Semoga ia segera sembuh"


"aamiin ya rabbal'alamin "


Ummi Hasanah dan Bu Fatimah segera menyelesaikan tugas memasak mereka pagi ini. Bu Fatimah segera menuliskan surat ijin untuk Humaira yang sedang sakit hari ini dan menitipkannya kepada Ana. Walaupun mereka tidak sekelas namun mereka sama-sama bersekolah di Madrasah Tsanawiyah Negeri.


tak terasa jam menunjukkan pukul 08.00 WIB Humaira dibangunkan dan di papah menuju mobil dan bersiap di antarkan menuju rumah sakit, sampai akhirnya.


"assalamualaikum, apakah benar ini panti asuhan Pelita Kasih Ibu?" tanya seseorang


"iya benar, dengan ibu siapa? Ada yang bisa saya bantu?" ucap Ummi Hasanah yang bersiap untuk masuk ke dalam mobil menghentikan langkahnya


"hampir sepuluh tahun yang lalu saya menitipkan dua anak kembar laki-laki dan perempuan di tempat ini. Apakah mereka masih ada disini?"


"siapa nama mereka?"


"yang cewek dipanggil Humaira dan yang cowok di panggil Farhan. Ada sebuah kalung liontin pada masing-masing bayi seperti kalung yang saya pakai. Ada foto saya, ayahnya pada salah satu sisi juga ada foto masing-masing bayi pada liontin tersebut"


Ummi Hasanah kaget dengan perkataan wanita yang terlihat berkelas dan elegan itu. Humaira yang ada di dalam mobil pun mendengar penuturan perempuan itu, apakah ia adalah ibunya?


"ummi" panggil Humaira


"iya nak, kamu mau kemana?"


terlihat jika Humaira yang sedang lemas berusaha turun namun tak berdaya.


"aku ingin turun ummi, aku dengar perbincangan tadi. Aku ingin memastikan apakah ia benar ibuku"


"iya nak, mari ummi bantu turun"


Humaira turun dengan perlahan dari mobil menuju perempuan yang bertanya tadi. Air mata tak hentinya mengalir dari kedua mata indahnya. Ia melepas kalung yang selama ini ia pakai.


"apakah kalung seperti ini Bu" tanya Humaira sambil memberikan kalung yang ia pakai.


wanita itu pun mendekat dan memegang kalung yang dipegang Humaira. Tak lama ia pun menangis.


"apakah ini Humaira anakku?"

__ADS_1


"benarkah ini bunda yang selalu aku tunggu kehadirannya" setelah berkata itu tubuh Humaira pun lunglai dan ia jatuh pingsan.


__ADS_2