Cinta Suci Humaira

Cinta Suci Humaira
Siapa Sosok itu?


__ADS_3

Khadijah segera melangkahkan kakinya keluar dari rumah sakit dan mencari toko terdekat untuk membelikan sebuah mukena untuk Humaira. Ini merupakan hal pertama yang diberikan langsung olehnya untuk Humaira semenjak ia dilahirkan. 10 menit kemudian ia mendapatkan sebuah toko dan segera memasuki toko tersebut dan membeli sebuah mukena couple untuk dirinya juga Humaira juga Ummi Hasanah. Selain itu ia membelikan baju gamis senada dengan kerudungnya sebanyak 3 setel untuk Humaira.


Sedangkan di rumah sakit sejak kepergian Khadijah, ummi Hasanah memasuki ruang perawatan Humaira. Wajah Ummi Hasanah terlihat lesu dan tidak bergairah seperti kurang sehat. Humaira pun segera menanyakan keadaan Ummi.


"ummi kenapa terlihat lesu dan lemah. Apakah ummi sakit?"


"tidak nak, ummi sehat, ummi senang kamu bertemu lagi dengan bunda mu, tapi entah kenapa ummi takut kehilanganmu nak. bukankah kamu mengetahui jika selama ini kamu adalah spesial untuk kami nak. Dengan segala kekurangan mu namun engkau mampu menumbuhkan persaudaraan baik tua maupun muda di panti asuhan berbeda dengan sebelum adanya dirimu nak. Apakah ummi sanggup berpisah denganmu."


"apa yang ummi katakan, selamanya Mai akan tetap menjadi anak ummi. Ummi adalah ibu pertama untuk Humaira, maafkan jika selama ini banyak menyusahkan ummi dan membuat ummi menjadi susah. Keadaan Humaira yang sering sakit-sakitan membuat ummi tidak fokus dengan anak-anak yang lain. Pernah Mai dengar saudara yang lain mengeluh jika ummi mengistimewakan Humaira. tapi selalu Mai tepis prasangka itu, May pikir mungkin Mai salah dengar. Ummi sampai kapanpun dan dimanapun Mai tetap anak ummi juga anak asuh pasti asuhan. Jangan merasa sedih Ummi." kata Humaira sambil menangis sesenggukan.


Tanpa Humaira dan ummi Hasanah sadari Khadijah telah sampai di depan pintu ruangan itu. Ia mendengar semua percakapan mereka. Ia menahan diri untuk mendengarkan apa yang mereka bicarakan. Khadijah berutang Budi kepada ummi Hasanah juga para pengurus panti sekalian yang sudah merawat Humaira hingga umurnya yang dewasa saat ini.


kemudian ia pun mengetuk pintu ruangan itu dan mengucapkan salam. Humaira dan Ummi Hasanah menjawab salam dan mereka berbincang-bincang tentang masa kecil Humaira juga Farhan selama di panti asuhan. sebuah nada dering telpon berbunyi mengagetkan mereka. ternyata itu bunyi hp ummi Hasanah, ummi pun lekas mengecek siapa gerangan yang telpon. Tertera nama Farhan di layar.


"assalamualaikum ummi"


"wa'alaikumsalam, nak Farhan apa kabar? Di Sydney musim apa sekarang?"


"disini musim gugur ummi hawanya dingin berbeda dengan di Indonesia. Ummi sekarang ada dimana? Apakah Humaira sudah pulang sekolah?"


"Humaira ijin tidak masuk sekolah hari ini nak?"


"kenapa ummi apakah Humaira sakit lagi?" tanya Farhan panik


"iya nak, dan kami sekarang di rumah sakit, tapi kondisinya stabil"

__ADS_1


"boleh Farhan bicara dengan Humaira ummi"


"baiklah nak"


Ummi mengangsurkan hp yang ia pegang kepada Humaira. Humaira bertanya dengan suara kecil tentang siapa yang menelpon.


"assalamualaikum bang"


"wa'alaikumsalam dek, kamu sakit lagi? Apa yang sakit? jangan sakit lagi dek sebentar lagi kita ujian nasional kamu harus sehat. Walau Abang tahu kamu pasti akan lulus dengan nilai yang baik"


"kalau tanya satu per satu bang, bingung Mai jawabnya"


"maaf sayang Abang khawatir sama adek. alihkan ke video call dek, Abang mau lihat adek seperti apa biar Abang tidak cemas."


Humaira segera mengaktifkan mode panggilan dengan video call yang akan menampilkan gambar yang saling bertelepon. Tak sengaja ia arahkan kamera depan yang memperlihatkan Khadijah sedang menunaikan sholat. Untuk beberapa detik Farhan terlihat kaget karena melihat sosok asing namun ada perasaan akrab saat ia melihat beliau.


"siapa itu yang sedang sholat dek"


"maaf bang, adek belum sempat alihkan kamera belakang tadi. Itu... Tunggu beliau selesai sholat dulu ya bang. Kita ngobrol-ngobrol dulu."


"baiklah adikku sayang, coba Abang mau lihat muka adek."


segera Humaira memindah tampilan kamera hpnya. Kini terlihat jika ada gambar Humaira yang masih memakai baju tidur panjang warna cokelat dengan kerudung senada. terlihat wajahnya terlihat pucat dan masih memakai bantuan selang oksigen.


"apa yang kamu rasakan saat ini dek? Apa yang sakit? Maafkan Abang saat adek sakit Abang tidak ada disamping adek"

__ADS_1


,"jangan menangis bang, hilang wajah gantengnya lho. Nanti gak punya pacar gimana?"


"doanya kenapa jelek dek, jangan gitu donk"


"tidak-tidak Abang ganteng, semoga cepat punya pacar dan punya pekerjaan yang mapan ya bang"


"Abang tidak mau pacaran dulu dek, Abang mau fokus belajar dan ingin menjadi seorang dokter agar bisa menyembuhkan dedek."


Humaira tidak dapat menjawab pernyataan dari Farhan namun air mata terus mengalir dari kedua mata indahnya.


"terimakasih bang."


"oiya bang adek kemarin dapat rekomendasi dari sekolah karena prestasi akademik adek bagus dimasukkan tes kelas akselerasi di Madrasah Aliyah Negeri di kota s****n. Jika adek bisa lolos seleksi ini, maka di bangku Madrasah nanti hanya akan Mai tempuh selama 2 tahun bang. Jadi adek pasti akan lulus duluan daripada Abang."


"tidak usah risau dek, Abang bangga mempunyai adek yang cerdas dan melebihi kakaknya. Semangat terus ya dek."


Humaira bermaksud menjawab perkataan Farhan namun saat itu dia tiba-tiba seakan tersedak, batuk dan agak sesak nafas. Humaira menjatuhkan hp itu dalam keadaan telepon itu masih tersambung dengan Farhan. Farhan yang kaget dengan kondisi Humaira terus berteriak, entah kenapa suaranya tak ada yang mendengarkan.


Ummi Hasanah maupun Khadijah tidak ada yang berada di dalam kamar jadi mereka tidak mengetahui kondisi Humaira. Humaira berusaha meraih tombol emergency untuk memanggil perawat dalam keadaan darurat. akhirnya ia bisa menggapai tombol itu dan segera menekannya. Humaira hampir kehilangan kesadaran saat beberapa perawat masuk ke ruangan.


Sedangkan Khadijah berlarian menuju ruang perawatan Humaira saat mengetahui para perawat terlihat tergesa-gesa menuju ruang perawatan Humaira. Dalam hati ia terus berdoa untuk keselamatan Humaira.


Di saat Humaira sedang berjuang untuk bernafas disampingnya muncullah Jeslyn, Khadijah yang juga mempunyai kemampuan seperti Humaira pun melihatnya. ia pun bertanya apakah Humaira akan baik-baik saja? Jeslyn menjawab semua akan baik-baik saja hanya saja ada hal yang membuat Humaira kaget sehingga kondisinya drop.


tanpa sepengetahuan Humaira beberapa kali Jeslyn mengalirkan energinya ke tubuh Humaira untuk menjaga kondisinya tetap fit.

__ADS_1


__ADS_2