Cinta Suci Humaira

Cinta Suci Humaira
Qodam


__ADS_3

Alhamdulillah dari hari ke hari kondisi Humaira semakin membaik hal ini membuat seluruh keluarganya menjadi gembira. Hari ini Humaira di pindahkan ke ruang perawatan biasa, jadi ia bisa berkumpul dengan keluarganya lagi.


sepanjang jalan menuju ruangan VIP ia menutup matanya, karena ia tidak mau melihat hantu-hantu yang berkeliaran dan terus mengganggunya. Ia pun membuka mata saat ada yang menyapanya.


"assalamualaikum nak, bagaimana kondisi mu saat ini? Apakah sudah lebih baik,"


"wa'alaikumsalam ummi, Mai kangen sama ummi." ia langsung memeluk ummi Hasanah. Ummi pun kaget dengan reaksi Humaira, ia terdorong mundur beberapa langkah ke belakang. Untung ada ustadz Ibrahim dibelakang menahan tubuhnya.


"hati-hati dek, ummi hampir jatuh karena kamu tiba-tiba memeluknya"


"maafin Mai ya ummi, Mai tidak sengaja."


"tidak apa-apa sayang, jangan sedih. Kamu harus cepat sembuh ya."


"dek sebentar lagi waktunya kita masuk sekolah."


"berarti kita akan segera berpisah ya bang. Mai akan terus dukung Abang dan tidak akan menahan Abang."


"bagaimana jika Mai ikut bareng Abang"


"maksudnya bagaimana Farhan? Tanya ummi


"beberapa waktu lalu papa dan mama berencana untuk mengadopsi Mai juga ummi, mereka berharap agar Mai mau"


"tidak bang, Mai akan tetap di panti asuhan. Ingat kesepakatan kita tidak bang?"


"tapi dek"


"keputusan Mai sudah bulat bang. Mai mau menjadi anak yang kuat berprestasi lalu membantu ummi, Bu Fatimah dan pengurus panti yang lain untuk merawat adek-adek kita. Mai juga mau menjadi Tahfidzul Qur'an dan belajar kepada Bu ustadzah"


"ingat dek, kamu tidak boleh beraktivitas berat, juga jangan capek-capek. Jika kamu sakit lagi Abang, ummi dan yang lain pasti sedih dek"


"iya bang Mai tidak akan memaksakan diri."


"baguslah dek kalau kamu mengerti"


"Bu ustadzah dan ustadz Ibrahim belum datang ya bang?"


"kenapa mencari kami nak, kangen ya?" ucap Bu ustadzah yang berdiri di depan pintu. Ia yang mendengarkan ucapan Humaira dan juga Farhan hampir menitikkan air mata. Ia tak menyangka jika anak sekecil Humaira bisa memiliki pemikiran dewasa seperti itu


"Mai ingin cepat-cepat belajar menghafal Alquran ustadzah."


"bukannya kamu masih dalam tahap pemulihan, sebaiknya kamu perbanyak istirahat dahulu nak"


"Mai takut jika hafalan Mai hilang atau lupa ummi. lagipula dengan membaca Alquran hati menjadi dingin dan juga pikiran jernih ummi."


"tapi kamu baru saja pindah nak, ummi takut seperti yang lalu-lalu. Ummi takut jika kamu meninggalkan ummi." ucap ummi sambil menangis

__ADS_1


"baiklah ummi, Mai akan istirahat dahulu tapi jangan menangis ya. Ummi merupakan ibu buat Mai kalau ummi menangis hati Mai sakit ummi. Karena Mai hanya bisa menjadi beban untuk ummi"


"tidak baik mengatakan demikian nak, ummi tidak pernah membedakan kamu dengan yang lain. Semua anak untuk ummi adalah anak-anak ummi sendiri. jangan pernah minder atau merasa jika kamu berbeda"


Humaira tidak menjawab ucapan ummi Hasanah namun ia terlihat menutup mata dan merasa seakan ketakutan terhadap suatu hal.


Farhan segera menghampiri adeknya dan ia paham jika Humaira bertingkah seperti itu maka ada sosok gaib yang ia takuti.


"jangan takut dek, kamu harus kuat hadapi itu semua. Karena kemampuan kita ini tidak bisa kita tolak atau dipindahkan ke orang lain. Walau Abang tidak sekuat adek dalam hal gaib tapi Abang mengerti jika adek ketakutan. Sekarang coba adek baca surat Al Fatihah, Al Ikhlas, Al Falaq, An Nas dan ayat kursi insyaallah sosok itu akan hilang. Kita baca bareng ya dek."


Lalu keduanya membaca ayat-ayat Al Qur'an tersebut. Tak lama kemudian Humaira diminta untuk membuka tangannya dan membuka matanya untuk memastikan apakah makhluk itu sudah hilang atau belum.


"bagaimana dek, apakah sosok itu sudah hilang?"


"belum bang tapi sosoknya gak terlalu besar seperti tadi. Sampe atap rumah sakit dan matanya menyala kayak marah gitu bang jadi adek takut."


"memangnya sosok itu berwujud apa dek?"


"harimau putih bang"


"dia bilang sesuatu ke adek tidak?"


"tidak bang tapi setelah dia mengecil malah Deket-deket kaki adek dan mengelus-elus kepalanya bang. Adek kan jadi geli"


Semua orang yang ada di ruangan itu ikut tersenyum mendengar penuturan Humaira.


"pak, apakah Humaira memiliki indera keenam?" tanya Bu ustadzah


"apakah itu pemberian orang atau bagaimana ustadz. Karena saya tidak pernah mendengar sosok yang seperti itu."


"sosok ini biasa disebut qodam ummi, biasanya itu turun temurun. Mungkin dari keluarga Humaira ada yang mempunyai qodam dan qodam itu akan mengikuti anak turunnya."


"apakah qodam itu berbahaya pak ustadz"


"insyaallah tidak tapi kita jangan sampe mau diperdaya oleh qodam itu. Karena mereka sebenarnya dari golongan jin".


Mendengar penuturan pak ustadz membuat semua orang di ruangan itu tersenyum.


"dek kamu mengantuk ya?"


"iya bang Mai ngantuk, Mai tidur dulu ya."


"iya dek"


"tapi Abang jangan pergi, sebelum kita berpisah Mai ingin bersama Abang terus boleh ya" pinta Humaira


"iya dek, Abang tidak akan meninggalkan adek"

__ADS_1


"putih kamu jangan tidur disini ya, kasihan Abang nanti tidak mendapatkan tempat tidur. Kamu tidur dibawah ranjang ya"


"bagaimana dek apa putih mau pindah?"


Humaira tidak menjawab namun ia menganggukan kepalanya. Mungkin karena ngantuk berat sehingga membuatnya tidak menjawab.


Farhan pun mengecup dahi Humaira,


"tidur yang nyenyak ya dek, biar kamu bisa segera sembuh. Abang sedih jika adek terus sakit."


"Farhan duduk sini nak sama ummi juga pakq ustadz"


"ada apa ummi?"


"apakah pak Gilang mengatakan jika ingin mengadopsi Humaira juga nak."


"iya ummi, tapi mendengar penolakan Humaira tempo hari mereka menjadi ragu ummi. tapi mereka tetap akan membiayai pengobatannya maupun pendidikan nya ummi. Apakah tetap boleh papa dan mama mengadopsi Humaira walaupun ia tetap ada di panti asuhan Ummi."


"tidak apa-apa nak, nanti biarkan ummi bicara sama pak Gilang dan Bu Laura "


"iya ummi"


"sebaiknya kamu ikut istirahat nak, kamu pun harus menjaga kesehatan. lihatlah Humaira tidak mau dipisahkan sama kamu, jika kamu sakit Humaira pasti sedih.,"


"iya ummi."


Farhan segera beranjak ke ranjang yang berada di sebelah ranjang Humaira.


"pak ustadz apakah jika mereka di pisahkan tidak akan berpengaruh pada mental Humaira nantinya. Ia pun masih dalam masa pemulihan pasca operasi besar yang baru dijalani."


"kita percayakan semua kepada Humaira dan Farhan ummi, insyaallah mereka bisa menata hatinya dan sudah mempersiapkan semuanya."


"iya pak ustadz "


Tak lama kemudian terdengar suara gaduh seperti seseorang yang sedang bertengkar namun anehnya tidak ada yang menegur, wajarnya pasti akan ada yang marah karena ini di rumah sakit. Kejadian itu membuat bulu kuduk mereka merinding. Saat Bu Fatimah akan melihat keluar melalui pintu ia dilarang pak ustadz.


"jangan keluar Bu Fatimah"


"memangnya kenapa pak ustadz "


"itu yang bertengkar tadi adalah qodam yang melindungi Humaira dengan sosok penunggu rumah sakit yang akan berniat jahat kepada Humaira."


"mengapa Humaira menjadi incaran mereka pak ustadz " tanya ummi Hasanah


"Humaira memiliki aura yang berbeda dengan anak seusianya bahkan dengan Farhan sendiri sebagai kembarannya. Maka dari itu kemampuan Humaira lebih kuat dibandingkan dengan Farhan. Aura Humaira di sukai para makhluk astral dan mereka menginginkan tubuh Humaira. untunglah qodam tadi melindunginya jika tidak akan fatal akibatnya karena energi negatif sosok yang akan menyerang tadi sangat kuat"


"astaghfirullahal'adzim, apakah Humaira akan baik-baik saja pak ustadz "

__ADS_1


"insyaallah ia aman dan kuat Ummi. Kita bantu support juga doa untuk Humaira ya.


"iya ustadz"


__ADS_2