Cinta Tapi Beda

Cinta Tapi Beda
Episode satu


__ADS_3

Namaku Sania Maulida usia 21 tahun. Aku sudah kenal dengan nya cukup lama, namun pada awal nya aku belum mengetahui siapa dia yang sebenarnya.


Dia adalah Rendi, aku bertemu dengan Rendi disebuah acara arisan di rumah tante, pada saat itu aku sedang berkunjung kerumah tante karna kuliahku sedang libur satu minggu. Lumayan pikirku, karena jarak rumah tante dengan tempat kuliahku tidak begitu jauh, mungkin hanya memakan waktu sekitar 30 menit jika menggunakan motor.


Kebetulan Rendi ini adalah anak dari teman tante yang juga merupakan anggota arisan.


Keadaan saat itu benar-benar repot sekali. Aku sibuk membantu tante mempersiapkan hidangan yang akan di sajikan kepada para tamu arisan yang sebentar lagi akan datang. Ada sekitar 10 keluarga yang akan hadir, belum lagi anak-anak mereka yang juga di bawa. Huh sudah kubayangkan kalau rumah ini akan ramai sekali nantinya. Jam di dinding menunjukkan pukul 2 siang lebih sedikit, saat aku sedang menggelar karpet di lantai, ada sebuah mobil avanza hitam yang berhenti tepat di halaman rumah tante. Wahh pasti ini tamu nya, pikirku. Kemudian 4 orang yg terdiri dari 2 laki-laki dan 2 perempuan keluar dari dalam mobil avanza hitam tersebut. Tapi kemudian aku tidak memperhatikan lagi, karna tante sudah memanggilku.


"San, Sani?" panggil tante dari dapur.


" Ya tante"


" Bisa kesini bantuin tante?"


Tanpa bergumam, aku pun beranjak kedapur dan menghampiri tante.


" Tan itu di depan udah ada yang dateng"


" Iya tante tau kok, udah ada Oom kamu kan di depan?" ujar tante sambil menyerahkan sebuah nampan hitam berisikan piring-piring jajanan padaku.


" Entah " jawabku kemudian mengintip dari balik gorden pintu dapur. Kulihat Om Hengki sedang menyalami tamu yang datang. Kini tak hanya 1 keluarga yang datang tapi sudah ramai sekali di depan.


" padahal cuma arisan, tapi rame banget sih"

__ADS_1


" Ini sih belum seberapa, Hhm tahun kemaren lebih rame lagi " ujar tante sambil memotong bolu dan meletakkan nya diatas piring.


" masak sih? "


" Iya, udah sana kamu bawa kedepan. Pelan-pelan ya "


Aku pun kemudian berjalan kearah ruang tamu dengan sangat pelan-pelan. Aku agak malu sebenarnya, karena di depan ternyata sudah ramai sekali.


" Siapa ni Heng? " tanya seorang ibu-ibu berbaju biru dengan rambut panjang sebahu yang tergerai. Tak lain dan tak bukan ialah Ibu nya Rendi.


" Ini ponakan, lagi libur dia, dari pada pulang ke rumah nya kan jauh. Jadi tak suruh kesini aja " Jawab om Hengki sambil membantuku meletakkan piring-piring berisi kue itu di depan para tamu. Aku hanya tersipu malu, tak sengaja aku melirik seorang pemuda yang saat itu memakai kaos putih dengan celana jeans cream serta jam tangan hitam ditangan nya.


" Ren sana bantuin " ujar wanita itu.


" Iyalah, dari pada dirumah sendirian. Sekali-kali ikut orang tua nya, ya Nak " balas wanita itu sambil menepuk pundak anak nya. Rendi hanya tersenyum tipis.


" Udah sana, Bantuin ini lo " kata nya lagi sambil menunjuk ke arahku. Dan tanpa banyak bicara, Rendi pun bangkit dari duduk nya.


" Alahh gak usah Ren, biarin Sani sama tante nya aja " kata om Hengki mencegah.


" Halah gak papa lo " kata wanita itu menimpali.


Lalu aku dan Rendi sama-sama berjalan menuju arah dapur. Disana sudah ada tante yang sedang sibuk membuat minuman teh dan kopi.

__ADS_1


" Loh Rendi. Ikut to kamu?" tanya tante


" Hehe iya" balas Rendi ramah sambil mencium punggung tangan tante. Jujur aku agak terkesima dengan sikap nya yg begitu sopan dengan orang yang jauh lebih tua darinya.


" Mau ngapain km?" tanya tante lagi.


" Ini mau bantuin "


" San, kamu bawa ini ya " Aku mengangguk. kemudian tante memberiku 2 piring yang sudah berisi buah-buah segar.


" Ren kamu tolong bawa ini ya, kalau Sani yang bawa takut nya gk kuat nanti malah tumpah " ujar tante menunjuk nampan yang diatas nya sudah ada gelas-gelas berisi teh dan kopi.


"Iya tante " Rendi pun mengangkat nampan tersebut lalu berjalan ke arah ruang tamu.


Setelah semua nya berkumpul, hidangan pun sudah siap, acara pun di mulai. Saat acara arisan sedang berlangsung dimana Ibu Rendi sebagai ketua arisan pun mulai menghitung uang arisan. Sistem arisan yang di pakai yakni arisan nomor, dimana yang mendapat arisan tersebut sudah di ketahui sejak awal. Dan rupa nya hari ini tanteku lah yang mendapatkan arisan tersebut. Tanpa sengaja aku menangkap Rendi sedang melirik aku dan saat itulah Rendi langsung mengalihkan pandangan nya. Kenapa ini? Gumamku dalam hati. Saat itu sih aku tak geer ataupun berpikir yang bukan-bukan, meskipun aku menangkap basah Rendi sedang memandangiku bukan hanya sekali. Tapi tetap saja aku bersikap masa bodo, karna kupikir aku juga tidak kenal dengan nya.


Acara arisan pun terus berlanjut hingga sore, dan saat itu suasana semakin seru dan ramai. Ada yg bercanda sampai menimbulkan gelak tawa, ada yg asik menikmati hidangan yang di sajikan dan berbagai macam ekspresi lain nya.


Sekitar pukul 16:30 acara pun selesai dan semua para tamu arisan pun sudah pulang kerumah masing-masing. Dan sekarang aku mulai membayangkan betapa lelah nya hari ini harus membantu tante membereskan semua ini. Namun aku juga senang karna bisa kenal dengan teman-teman tante. Dan soal Rendi? Belum ada kesan apapun yg aku rasakan saat pertama kali bertemu dia, bahkan kala itu aku juga tak berbincang sedikitpun dengan nya, semua terasa biasa saja, mengalir begitu saja.


Bersambung....


Nantikan cerita selanjutnya di Episode dua.

__ADS_1


Terimakasih untuk teman-teman yang sudah membaca. Jangan lupa tinggalak Komentar,Like dan Favorit untuk notifikasi selanjutnya, eeittsss jangan lupa vote nya juga ya 😊


__ADS_2