
Sore itu, aku duduk di teras kosant sembari memandangi air bah yang jatuh dari langit, lalu membasahi bumi. Anganku mengembara jauh, berusaha menerawang akhir perjalanan cintaku dengan Rendi, akan seperti apa. Apakah akan berakhir bahagia, atau justru sebaliknya.
Suara getar ponsel, membuyarkan lamunanku, tempias hujan membuatku tersentak.
Sebuah pesan masuk di whatsapp, rupanya dari Rendi.
[ Sayang .... Kamu dimana?] isi pesan tersebut.
[ Di kosant, ada apa?] balasku.
[ Nanti malam, aku mau ketemu, bisa?]
[ Bisa, jam berapa?]
[ Nanti aku kabarin lagi, oh ya ... Disitu hujan gak?]
[ Iya, hujan.]
[ Ya udah, nanti malam kalau hujannya udah reda, aku jemput kamu.]
[ Oke ] balasku singkat.
Kemudian, whatsapp Rendi nampak tak aktif lagi, mungkin dia sedang sibuk, pikirku.
Sejak Rendi kembali lagi di hidupku, orang misterius yang dulu sering memberiku hadiah, kini tiba-tiba menghilang begitu saja. Padahal aku belum sempat mengetahui, siapa orang itu sebenarnya. Tapi aku menaruh curiga pada Rendi, pasalnya, sejak Rendi kembali, orang tersebut tak pernah lagi menerorku dengan hadiah-hadiah nya itu.
*Zzzttt .... Zttt ....
Ponselku kembali bergetar, namun kali ini dari Bunda, beliau menelfonku.
" Hallo ... Assalamualaikum Bunda." sapaku mengucap salam.
" Walaikumsalam nak, lagi apa?" tanya Bunda.
" Ah .. Duduk santai Bun, Bunda lagi apa?"
" Bunda juga lagi santai."
" Gimana kabar nya, semua sehatkan Bun?" tanyaku.
" Alhamdulillah sehat."
" Ayah gimana, sehat juga kan?" tanyaku lagi. Aku mulai kuatir pada kondisi Ayah, yang akhir-akhir ini sering sakit-sakitan. Namun sayangnya, aku belum juga bisa pulang, lantaran pekerjaanku tak bisa kutinggalkan.
" Sehat, hanya batuk-batuk sama sesak." kata Bunda.
" Nanti Sani kirim uang Bunda, buat berobat Ayah."
" Gak usah nak, uang nya kamu tabung aja. Bunda masih ada uang kok." ujar Bunda.
Aku sangat sedih, jika membayangkan kondisi Ayah. Ayahku yang dulu gagah, kuat, bagai pahlawan untuk kami sekeluarga, kini harus banyak beristirahat lantara sakit paru-paru yang di deritanya sejak setahun belakanga ini. Badanya yang dulu gempal, kini perlahan mulai kurus, ia tak segagah dulu. Tak terasa air mataku menetes.
" Maaf Bunda, Sani belum bisa pulang." ucapku sedih.
" Iya gak papa, yang penting kamu disana sehat, jangan tinggalkan sholat dan tetap harus jujur serta rendah hati." ujar Bunda menasehati dengan lembut.
" Iya Bunda."
" Ya udah, Bunda mau siapkan obat buat Ayah. Wassalamualikum." ucap Bunda mengakhiri panggilan nya.
__ADS_1
Air mataku kian berderai, tatkala mengingat kondisi Ayah, tapi aku tak bisa membantu Bunda untuk merawatnya.
****
Malam itu, cuaca nampak syahdu, lantaran hujan baru saja reda dan menyisakan genangan air dimana-mana.
Aku mematut diri didepan cermin, seraya memoleskan lisptik berwarna orange lembut di bibirku. Sesaat aku tersenyum, melihat diriku sendiri didepan cermin.
* Tring ...
Suara ponselku, tanda pesan whatsapp masuk. Kulirik sejenak, ada notifikasi diatas layar. Sayangku, begitulah aku menamai nomor whatsapp Rendi di hpku.
[ Sayang ... Aku di depan.]
Aku tersenyum sembari membalas [ Oke, tunggu]
Setibanya di depan, kutemui Rendi sedang menungguku di atas motor nya.
" Udah lama?" tanyaku padanya.
" Belum." balasnya.
" Kita mau kemana?"
Dia nampak berfikir, " Hhmm ... Gak tau kemana, enak nya kemana ya." ujarnya balik bertanya.
" Yee ... Gimana sih, katanya mau ngomong sesuatu." balasku sambil menepuk pelan pundaknya.
Rendi menatap lekat wajahku, " Iya, ada yang mau aku omongin." katanya dengan nada sendu.
" Apaan sih memang nya?" tanyaku penasaran.
" Kemana?"
" Udah, ikut aja." ujarnya
Kemudian aku naik keatas jok motor Rendi, yang dulu sering membawaku pergi, kemanapun aku mau.
Rendi membawaku kesebuah tempat tongkrongan, dimana banyak kaula muda berkumpul dan bercengkrama bersama teman-teman nya atau bahkan pasangannya. Meskipun sore tadi hujan, tapi tempat ini tetaplah ramai. Baru kuingat, ternyata ini malam minggu, pantas saja.
Setelah memilih tempat duduk, Rendi memesan minuman dan juga makanan ringan.
Alunan musik menggema.
" Padahal tadi sore hujan, tapi tempat ini gak sepi." ujar Rendi sembari melepas jaket sweater nya dan diberikan padaku. Maklum saja, cuacanya lumayan dingin, ditambah semilir angin yang menyapu kulitku.
" Iya juga ya." balasku sambil memakai jaket sweater milik Rendi.
" Kita udah lama ya, gak ngobrol kayak gini." ujar Rendi.
" Hehe .. Iya."
Kemudian kami menyeruput kopi susu yang tadi dipesan.
Hening.
Kami berdua masih diam sambil menikmati nuget goreng dan juga jamur crispy.
" Oh ya San." kata Rendi agak ragu.
__ADS_1
Aku menoleh kearah nya, yang kala itu tepat ada disampingku, " Iya .. Kenapa?"
" Ada sesuatu yang mau aku omongin." ujarnya.
" Tentang apa?"
" Kita." ujarnya dengan sorot mata yang tajam.
Aku menyelidik penuh kebingungan, " Kita? Kenapa?" tanyaku mulai terusik dengan ucapan Rendi.
" Aku serius sama kamu San." tandasnya.
" Maksud nya Ren?"
" Aku mau kita nikah."
Ucapan Rendi membuatku terkejut, hingga membuatku terbatuk. Kupandangi wajahnya dengan seksama, ada ketulusan disana.
" Kita? Nikah? Memang bisa?" tanyaku kurang yakin.
Rendi mengangguk pelan, " Iya San, aku udah pikirin semua ini."
" Tapi Ren."
" Kenapa? Karena kita beda?" pungkasnya.
Aku mengangguk kecil.
" San, perbedaan itu bisa di satukan."
" Tapi gimana caranya Ren? Kamu tau kan, kalau Mama mu gak setuju."
" Iya, aku tau San. Karena itu kan, kamu putusin aku." ungkapnya.
" San, aku yakin kita bisa melewati semua ini." imbuh nya lagi.
" Tapi ini susah Ren."
" Kamu gak yakin? Sebenarnya, kamu cinta dan sayang gak sama aku? Aku aja berusaha berjuang San, tapi kenapa kamu kayak gini." ujarnya dengan nada kecewa.
" Terus kita harus gimana Ren? Aku juga belum bilang tentang kita, ke orang tuaku."
" Mama dan Ayahku, gak setuju sama hubungan kita San. Tapi aku mau kamu San, aku gak mau yang lain." ucap Rendi, wajahnya nampak sedih, ada air mata yang tertahan.
Lalu kugenggam erat tangannya, " Ren .. Kasih aku waktu ya."
" Sampai kapan? Sampai kamu di lamar orang lain, gitu?"
" Aku harus bicara dulu sama orang tuaku Ren."
" Orang tuaku udah gak mungkin San, susah meminta izin dari mereka. Selama ini, aku berusaha meyakinkan Mama dan Ayahku, tapi hasilnya nol, mereka menolak San. Tapi aku gak nyerah, aku mau kita tetap nikah, meskipun tanpa restu orang tuaku."
Aku melotot mendengar pernyataan nya, " Gila kamu ya Ren! Restu itu penting." tukasku.
" Aku harus gimana San? Aku udah berusaha, meminta restu secara baik-baik, tapi apa tanggapan mereka? Mereka marah San." ujarnya.
" Aku gak tau Ren."
Malam itu, kami lalui dengan perasaan dilema.
__ADS_1
Bersambung....