
Setelah aku mendengar pengakuan yang sebenarnya dari Rendi, sejak itu aku belum menghubunginya lagi. Aku kecewa padanya, kenapa dia tak pernah berkata yang sejujurnya dari awal. Sekarang aku merasa semua percuma, hubungan yang telah kubina bersamanya, selama setahun lebih ini terasa tak ada guna. Kemana hubungan ini akan bermuara, sedangkan mimpi yg indah telah kurajut bersamanya. Tidak mungkin aku memaksakan semunya, tapi cinta dalam hati ini telah terlanjur jatuh terlalu dalam,aku mencintai Rendi tapi aku lebih mecintai Tuhanku. Jika hubungan ini tetap dilanjutkan, aku takut hanya luka yang akan kami dapatkan. Kalau akhirnya harus berpisah juga, karena berbeda keyakinan.
Sudah hampir seminggu aku tidak menghubungi Rendi. Bahkan pesan dan juga telfon nya tak ada satu pun yang aku jawab. Sebenarnya aku tidak boleh seperti ini, menghindar dari sebuah masalah. Tapi aku belum siap untuk bertemu dia, namun di sisi lain, aku juga belum siap jika harus kehilangan Rendi. Ah ... aku bimbang sekali.
Aku masih terus melamun diteras kosant,hingga Ita pulang dari kuliah.
" Sani." panggil nya setelah mendekat.
" Ya, kenapa?" jawabku sambil menopang dagu.
" Ada Rendi di depan."
" Hah .. seriusan?"
" Iya, dia di depan, tadi nanya aku."
" Nanya apa?"
" Kamu ada gak."
" Terus?"
" Ya aku jawab ada. Temuin sana, kasian."
" Males." jawabku singkat.
" Gk boleh gitu. Kalau ada masalah harus diselsaikan, bukan malah menghindar." ujar Ita lalu melangkah masuk.
Sejenak aku terdiam memikirkan ucapan Ita. Sebenarnya aku sangat ingin bertemu Rendi, karena aku juga merindukan nya. Tapi, Ahhhhh .... Umpatku kesal.
" Kenapa masih disitu?" tanya Ita lagi. " Temuin sana, kasian." imbuhnya.
__ADS_1
" Iya."
Lalu aku melangkah dengan gontai. Penampilanku yang siang itu sangat berantakan, karena aku memang sedang tidak ingin pergi kemana-mana, jadi aku tidak merias diri hari ini. Dan sekarang, aku mau menemui Rendi, aku sudah masa bodo dengan penampilanku.
Setibanya di depan halaman pemilik kost, aku melihat Rendi sedang menunggu di atas motornya. Kemudian dia melihat ke arahku dengan wajah datar, begitu pun dengan aku.
Lalu aku mendekatinya.
" Ada apa?" ujarku dingin, tanpa basa-basi.
Sebenarnya aku tidak boleh bersikap seperti itu padanya, Rendi tidak salah sama sekali. Tapi seandainya dia jujur dari awal, mungkin aku bisa menerima, meskipun belum tentu aku mau jadi pacarnya. Entahlah, masalah keyakinan menjadi hal yang lumayan sensitif buatku.
" Kamu marah?" tanya Rendi dengan wajah sedih.
Aku hanya menggeleng.
" San, apa menurut mu ini sebuah kesalahan?" tanya dia lagi.
" Aku gak bisa memilih, dari mana dan dimana aku di lahirkan." tuturnya sendu.
" Kenapa kamu gak jujur Ren?"
" Aku takut, kamu gak mau sama aku."
" Karena itu?"
Rendi mengangguk.
" Ren apa mungkin kita bisa bersama terus?"
" Mungkin .. Aku mau berjuang." tegasnya.
__ADS_1
" Berjuang? apa bisa?"
" Bisa San."
" Terus kalau akhirnya nanti kita nikah, Kamu mau ikut aku?" tanyaku sambil menahan air mata.
Sesaat Rendi diam, aku tau dia tidak begitu yakin. Karena setelah kudengar cerita darinya waktu itu, ternyata Ayah nya adalah seorang pemuka agama yang begitu taat menjalani kepercayaan nya.
" Kalau aku yang harus ikut kamu, maaf Ren aku gk bisa. Aku emang sayang kamu Ren, tapi aku lebih sayang sama Tuhanku.." ujarku, tidak terasa air mataku mengalir dan Rendi hanya tertunduk lesu.
" Ren, apa lebih baik." belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, Rendi sudah memotong nya.
" Enggak, aku gak mau dengar kata-kata itu."
" Ya terus, sekarang harus gimana. Bertahan? Percuma Ren, akhirnya kita juga berpisah."
" Seperti yang aku bilang tadi San, aku mau berjuang sama kamu. Bantu aku untuk meyakinkan orang tuaku." tutur nya seraya menatap wajahku.
" Kamu yakin Ren? Kamu bisa mengambil keputusan itu, itu bukan persoalan yang mudah Ren." kataku pada Rendi.
Rendi mengangguk pelan.
" Apa kira-kira orang tua mu bisa terima?"
" Aku belum tau San. Tapi aku yakin pasti bisa, jadi aku mohon sama kamu, bantu aku untuk meyakinkan mereka." ucap Rendi terus meyakinkan aku.
" Gak mungkin Tuhan mempertemukan kita, tanpa ada maksud dan tujuan apa-apa kan?" pungkas Rendi. " Jadi aku mohon, kamu jangan ragu ya." imbuh nya.
Dengan segenap rasa yang penuh dilema, aku mencoba memberikan Rendi kesempatan. Meskipun aku tau, itu bukanlah persoalan yang mudah. Apalagi yang aku tau berdasarkan cerita darinya, kedua orang tua nya adalah penganut agama yang begitu taat. Jadi sangat kecil kemungkinan nya, mereka mengizinkan Rendi untuk ikut keyakinanku. Tapi di sisi lain, Rendi terus berusaha meyakinkan aku hingga aku luluh juga. Ah ... entahlah, biar waktu yang menjawab semua ini. Kalau memang aku dan Rendi berjodoh, Allah akan memberikan kemudahan untuk kami berdua.
Bersambung....
__ADS_1