
Di sisi lain, Rendi pun harus menghadapi hal yang sama seperti Sani. Kedua orang tua nya marah atasan hubungan nya dengan Sani, yang rupanya sudah terjalin cukup lama.
" Mama gak habis pikir sama kamu Ren!" bentak sang Mama.
Rendi bungkam seribu bahasa.
" Kuatkan iman mu pada Tuhan nak, kamu tau kan, Ayah mu ini orang yang cukup di kenal oleh jemaat lain, Ayah mu ini dikenal sebagai jemaat yang begitu taat akan Tuhan." tutur sang Mama lagi.
" Tapi Rendi punya pilihan hidup sendiri Mah."
" Rendi! Dengar Mama, dalam sejarah keluarga besar kita, gak ada yang berpindah kepercayaan. Kamu lihat Om Tomi, dia sekarang sudah menjadi pendeta yang memiliki ratusan jemaat di gereja!" ujar Mama.
" Mah ... ini masalah pribadiku Mah, urusanku dengan Tuhan." bantah Rendi.
" Ini balasan kamu terhadap Tuhan Ren? yang sudah merelakan dirinya untuk menebus dosa kita semua!" tukas sang Mama lantang.
" Pantas saja, kamu selalu ada alasan kalau di suruh ke gereja. Padahal kamu dulu begitu taat, tak pernah meninggalkan Tuhan sedikitpun, selalu melibatkan Tuhan dalam segala hal, tapi apa sekarang! " hardik Mama lagi.
Mendengar ucapan sang Mama, Rendi tertunduk. Begitu pun dengan sang Ayah dan adik nya, yang sedari tadi masih diam tak bersuara.
" Mah ... bukankah Rendi sudah dewasa, Rendi berhak menentukan jalan hidup Rendi sendiri Mah." ujar Rendi sendu.
" Apa selama ini, Mama pernah melarang kamu untuk melakukan apapun yang kamu mau Ren? " tanya Mama.
Rendi menggeleng pelan, dia paham betul, selama ini semua tindak tanduk nya, semua yang ia lakukan, tak pernah mendapat penolakan dari kedua orang tua nya, mereka selalu mendukung apapun yang dilakukan Rendi, selagi itu hal yang positif. Tapi untuk hal yang satu ini? seperti nya sampai kapan pun tak akan pernah mendapat izin dari kedua orang tua nya.
" Apapun yang kamu lakukan, kami selalu mendukung mu nak. Tapi, untuk yang satu ini gak akan pernah." pungkas Mama.
Martin, sang Ayah yang sedari tadi diam, pun kini ikut berbicara. Dengan sangat bijaksana, ia menasehati putra sulung nya itu.
" Ren, Mama dan Ayah tau ini memang pilihan mu nak, tapi tolong pikirkan semua ini lagi." ujar Martin.
" Rendi udah pikirin semua ini Yah."
__ADS_1
" Ren, jangan sampai kamu menyesal telah meninggalkan Tuhan hanya demi manusia biasa, yang juga merupakan ciptaan Tuhan. Lihatlah, apa yang telah Tuhan kasih dalam hidup mu selama ini." sambung Martin.
" Yah .... apa ini sebuah kesalahan?" tanya Rendi penuh iba.
" Ini bukan sebuah kesalahan nak, karena semua agama itu sejati nya bagus dan benar. Tapi Ayah tak mau, kamu menyesal dikemudian hari. Perbanyaklah beribadah dan berdoa pada Tuhan, yang senantiasa mengasihi mu." ucap Martin bijak.
" Pokok nya, sampai kapan pun, Mama gak akan pernah setuju! " tukas sang Mama lantang, lalu kemudian ia berdiri meninggalkan suami dan kedua anak nya.
Rendi hanya bisa menghela nafas panjang, perasaan nya benar-benar kalut dengan semua ini, begitu berat cobaan yang harus ia alami.
" Pergilah ke gereja, berdoa lah pada Tuhan, minta petunjuk pada nya." ucap Martin kemudian beranjak.
Kini tinggalah Rendi dan sang adik yang masih duduk di ruang tengah. Kristi, adik Rendi, terus berusaha untuk menenangkan sang kakak.
" Kak ... " panggil nya, Rendi pun menoleh dengan mata sayu.
" Kenapa? "
" Lebih baik kakak berdoa sama Tuhan, semoga diberi jalan yang terbaik." ujar nya sambil tersenyum.
***
Malam itu, Rendi terlihat begitu sedang khusyu berdoa di sebuah gereja, yang tak jauh dari rumah nya. Ia menumpahkan semua kesedihan dan kegundahan hati nya itu di hadapan Tuhan, ia pun memohon pada Tuhan untuk memberikan jalan terbaik untuk semua permasalahan yang sedang ia hadapi.
" Tuhan ... kau begitu baik padaku selama ini, kasih mu, berkat mu, tak pernah terputus untuk hidupku. Kaulah pemilik hidupku, kuserahkan seluruh jiwaku untuk melayani mu. Tapi, saat ini aku sedang bingung, berilah aku petunjuk atas semua masalah yang sedang ku hadapi." ucap Rendi dalam doa nya.
Rendi terus menangis sesenggukan di depan patung salib, sebuah kepercayaan yang telah ia imani sejak lahir.
" Tuhan ... jadikan lah aku penerang bagi orang di sekitarku, jadikan lah aku berkat untuk semua orang. Jika memang dia jodohku, berilah aku kemudahan untuk semua ini, amin." ucap Rendi yang semakin terisak.
Beberapa saat, terdengar derap langkah kaki seseorang, seperti sedang berjalan menghampiri nya. Rupa nya adik Rendi yang datang, lalu ia duduk di samping nya.
" Kak?" ucap Kristi sambil menepuk pelan pundak sang kakak.
__ADS_1
Rendi menoleh, " Iya, kenapa?"
Bukan nya menjawab, Kristi justru tersenyum lalu ia memeluk erat sang kakak yang sangat di kasihi nya itu.
" Kristi gak tau apa yang sebenar nya terjadi, tapi Kristi berharap, kak Rendi bisa memutuskan semua ini dengan penuh pertimbangan." ujar Kristi sembari melepaskan pelukan nya.
Rendi pun tersenyum pada adik nya, yang kini telah tumbuh menjadi gadis cantik.
" Libatkan Tuhan dalam semua urusan mu kak." sambung nya lagi.
" Dek ... kalau misal nya kamu ada di posisi kak Rendi, gimana?" tanya Rendi pada adik nya.
Sejenak Kristi diam, ia nampak berpikir.
" Memang sulit sih ... Tapi kalau aku boleh jujur, semua yang di katakan Mama ada benar nya." jawab Kristi.
Rendi nampak kecewa mendengar jawaban sang adik, yang dirasa tak sesuai dengan harapan nya.
" Tapi itu sih terserah kak Rendi, itu sudah menjadi urusan kakak dengan Tuhan, biar Tuhan yang memutuskan." pungkas Kristi tersenyum.
Rendi mengangguk pelan, lalu ia pun kembali menghadap kearah depan.
" Ini kak." ujar Kristi menyerahkan sebuah alkitab.
" Firman Tuhan di dalam alkitab, bisa membuat kakak jauh lebih tenang, dibaca ya." sambung nya lagi.
" Makasih ya, kak Rendi juga udah lama gak buka alkitab." balas Rendi.
" Ya udah, kalau gitu aku pulang duluan ya." tandas Kristi.
" Iya dek, hati-hati ya."
Kristi pun lalu beranjak dan melangkah keluar dari dalam gereja, meninggalkan Rendi yang masih termenung seraya khusyu berdoa.
__ADS_1
Bersambung....