
Mentari telah terbit dari ufuk timur, suara kokok ayam milik bapak kost sudah terdengar, sampai ke kamarku.
Setelah sholat subuh tadi, aku memang langsung tidur lagi. Karena memang hari ini aku tak bekerja, di tambah lagi aku sedang tak enak badan.
Kabut putih masih menyelimuti sebagian wilayah, hal itu terlihat dari jendela kamarku. Kulihat kabut putih masih bergelayut manja, ditambah tetesan embun yang membasahi dedauan tanaman milikku yang tergantung di teras kamar.
* Tringg ... Tring ... *
Aku mendengus kesal, masih pagi seperti ini, suara telfon sudah memecahkan keheningan.
Setelah kulihat, ternyata Bunda yang menelfon.
*Ada apa? masih pagi seperti ini sudah menelfon, batinku*.
" Hallo, Assalamu'alaikum, Bunda." sapaku dengan sopan.
" Walaikumsalam, hari ini kerja atau gak?" tanya Bunda. Kutangkap, suara Bunda agak berbeda hari ini, ia seperti sedang kesal.
" Gak Bun, kenapa?"
" Kamu pulang hari ini juga." tukas nya tak ramah.
" Kenapa memang nya Bun? besokkan Sani harus kerja." terangku.
" Bunda gak mau tau, pokok nya kamu harus pulang hari ini juga!" tandas nya.
Aku terkejut, saat kudengar suara Bunda setengah membentak.
" Ada apa sih Bun, memang nya?"
" Sudah, gak usah banyak tanya, pulang sekarang juga!" tukas nya lagi.
Bunda pun langsung memutuskan panggilan telfon tersebut tanpa basa-basi lagi.
Dan aku, semakin bingung di buat nya. Mengapa tiba-tiba seperti ini, ada apa sebenar nya?
Sesaat, aku teringat akan Ayah. Hah! gak mungkin, gak ... gak, gumamku lirih.
Kemudian aku segera beranjak dari tempat tidur, dan bersiap-siap untuk mandi lalu pulang ke rumah, sesuai permintaan Bunda.
Lalu, kutelfon Lisa, teman kerjaku. Dan memberitahu dia bahwa besok aku tak masuk kerja, supaya Lisa bisa mengizinkanku pada atasanku.
" Lisa?" sapaku lewat telfon.
" Sani, ada apa? tumben pagi-pagi buta udah nelfon." ujar dia.
" Sa, besok izinin aku ya." ucapku.
" Kenapa memang nya?"
" Aku besok gak masuk kerja, mau pulang hari ini, di suruh Bunda." terangku.
" Oh gitu ... "
" Bisa ya? please."
" Oke deh, satu hari aja kan?" tanya Lisa.
" Iya, satu hari aja kok."
" Oke deh."
" Makasih ya." ungkapku.
Panggilan telfon pun berakhir. Lalu aku segera beranjak dan melangkah, menuju kamar mandi.
***
__ADS_1
Setelah menempuh perjalanan sekitar tiga jam, tepat pukul 11 siang, aku sudah tiba di rumah. Nampak sepi sekali, aku pun tak tau, kemana pergi nya mereka semua.
* Tok ... Tok ... *
" Assalamu'alaikum ... Bunda, Ayah?" panggilku sembari mengetuk pintu.
Beberapa saat, pintu rumah terbuka. Kulihat adikku, Sandi, yang membukakan pintu nya. Ia pun teriak kegirangan saat melihatku pulang, terlebih saat kubawakan buah anggur kesukaan nya.
" Mbak Sani?" pekik nya kegirangan.
" Sandi, Bunda sama Ayah mana?" tanyaku sambil mengacak-acak rambut adik kesayanganku ini.
" Ada di dalam." ucap bocah berusia 8 tahun ini.
" Nih, buat kamu." ujarku sembari menyodorkan plastik hitam, berisi buah anggur.
" Asikkkk .... makasih mbak." tandas nya kemudian lari masuk kedalam rumah.
Aku hanya menggeleng-geleng melihat tingkah adikku, yang berbeda usia sebelas tahun denganku.
Setelah meneduhkan motor diteras rumah, aku pun segera masuk kedalam, dan langsung menuju halaman belakang rumah. Kulihat Ayah dan Bunda sedang duduk bercengkrama, bak sepasang Romeo dan Juliet.
" Ayah, Bunda." sapaku sembari mencium punggung tangan kedua nya, secara bergantian.
" Sehat?" tanya Ayah.
" Alhamdulillah, Ayah sendiri?" kataku balik bertanya.
" Alhamdulilah sehat, berkat doa mu juga." ujar Ayah tersenyum.
Entah mengapa, hari itu aku melihat raut wajah Bunda, tak begitu bersahabat. Nampak masam dan acuh, tidak seperti biasanya.
" Bunda, apa kabar?" tanyaku pada wanita yang telah berjasa dalam hidupku ini.
" Baik." jawab nya singkat.
Aku pun duduk pada sebuah kursi dari anyaman rotan.
" Makanlah dulu sana, setelah itu ada yang mau Bunda bicarakan." tukas Bunda.
" Tentang apa ya Bun?" tanyaku mulai penasaran.
" Makan dulu." kata Bunda lagi.
" Aku masih kenyang Bun." jawabku.
Sejenak Bunda menghela nafas panjang, seperti ada sesuatu yang tertahan. Mungkin hal inilah yang membuat Bunda, memintaku untuk pulang ke rumah.
" San, Bunda ingin bicara serius sama kamu." pungkas Bunda, membuatku sedikit cemas.
" Ada apa ya, Bun?" tanyaku mulai terusik.
" Bunda benar-benar gak nyangka sama kamu, kenapa gak pernah terus terang sama Bunda." tutur nya, membuatku semakin bingung.
" Maksud Bunda apa?"
" Kamu benar pacaran sama Rendi?"
Aku mengangguk pelan.
" Berarti kamu sudah tau, siapa Rendi?" tanya Bunda lagi.
Aku hanya mengangguk. Tiba-tiba saja jantungku berdegung kencang, entah mengapa rasa khawatir mulai menyusup dibenakku.
" Kenapa kamu gak pernah bilang, kalau kamu dan Rendi itu beda?!" tandas Bunda, dengan nada tinggi.
" Maksud Bunda, apa?" tanyaku mulai gugup.
__ADS_1
" Apa perlu Bunda perjelas Sani? Kamu tau, kamu dan Rendi itu, beda agama?"
Ucapan Bunda benar-benar membuatku lemas seketika. Aliran darah mendesir begitu saja, tulang luluh lantak rasanya.
" Bunda, tenang dulu." ucap Ayah berusaha menenangkan Bunda, yang mulai berapi-api.
" Apa? tenang! Ayah, lihat anak kita ini!" tandas nya lantang.
" Bunda, aku bisa jelasin." kataku sambil menunduk.
" Bunda gak habis pikir sama kamu, Sani. Gimana kalau kamu, sampai nikah sama dia?"
" Rendi ... Rendi mau ikut aku Bun." terangku.
" Apa? Bunda gak salah dengar, Sani?"
" Rendi mau kok Bun, pindah agama."
"Sani dengar Bunda, kalau Rendi pindah karena rasa cinta nya padamu, suatu hari dia bisa saja berubah dan kembali pada agama nya yang semula. Karena apa? karena dia pindah agama bukan karena ingin mendalami ilmu agama kita, melainkan hanya karena rasa cinta nya padamu!"
Emosi Bunda nampak berapi-api.
" Kamu lihat itu Riana, anak nya wak Umar. Dulu, dia juga seperti kamu, lalu menikah dan suami nya jadi mualaf. Tapi apa? setahun dua tahun menikah, semua memang masih baik-baik aja, tapi tahun berikut nya, kamu tau sekarang? Riana jadi pindah, ikut agama suami nya, dan Bunda gak mau kamu seperti itu."
Perlahan aku mulai menangis. Inilah saat yang kutakutkan, jika harus berterus terang pada kedua orang tuaku.
" Ini bukan hanya tentang cinta Sani, tapi ini tentang akidah, tentang keyakinan, tentang pedoman, hubungan nya langsung sama Tuhan, sama Allah SWT."
" Tapi Bunda ... "
" Kamu mau bermain-main sama agama?"
Aku menggeleng pelan, air mataku semakin deras berlinang.
" Pokok nya, Bunda gak mau, kalau sampai kamu ikut agama dia!"
" Itu gak akan mungkin Bunda, percaya sama Sani."
" Sudahlah Sani, Bunda minta sama kamu, akhiri hubungan mu sama Rendi. Dan mulai sekarang, kamu gak usah kembali kesana lagi." kata Bunda membuatku tersentak.
" Tapi Bunda, aku kan harus kerja."
" Gak perlu, kamu keluar aja dari kerjaan kamu. Kalau cuma menghidupi kamu, mencukupi kebutuhan mu, Bunda sama Ayah juga masih sanggup." tandas Bunda.
" Tapi Bun."
" Bunda hanya gak mau, kalau kamu masih disana, kamu bisa ketemu sesuka hatimu sama Rendi. Udah, semua harus berakhir, ini udah jadi keputusan Bunda dan orang tua Rendi." ujar Bunda lalu bangkit dari duduk nya, meninggalkan aku dan Ayah yang masih diam membisu.
Aku masih menangis sesenggukan, menikmati bias kesedihan. Ayah, yang duduk di sisi kananku, perlahan mulai mengusap bahuku.
Ayah memang seperti itu, nampak tenang dan bersahaja, dalam situasi apapun. Berbeda hal nya dengan Bunda.
" Sani?" panggil Ayah lembut.
Aku pun menoleh, dan menatap wajah Ayah yang kian menua dan keriput.
" Apa yang Bunda katakan tadi benar. Ayah tau, ini memang pilihan mu, kamu mencintai pemuda itu, tapi ini menyangkut akidah dan ketahuidtan, Sani " tutur Ayah pelan. Ia nampak tenang, sembari menyeruput kopi hitam kesukaan nya.
" Tapi Ayah ... "
" Gak ada tawar menawar dalam hal seperti ini, pikirkan semua nya nak, jangan sampai kamu menyesal di kemudian hari."
" Sani gak akan ikut Rendi Yah."
" Lebih baik, cari pasangan yang seiman dengan kita nak, yang bisa membimbingmu." ujar Ayah, kemudian beranjak dari duduk nya.
Aku terdiam, merenung sambil terus menangis. Hatiku rasanya hancur, perasaanku benar-benar sedih. Tapi aku tau, apa yang Bunda dan Ayah katakan semua nya itu benar. Tapi entah mengapa, aku terlalu mencintai Rendi.
__ADS_1
Bersambung....