Cinta Tapi Beda

Cinta Tapi Beda
Episode Sembilan Belas


__ADS_3

Masih kuamati camera Ita, yang kini ada di tanganku. Aku menyunggingkan senyum, entah apa maksudnya, aku pun tak tau.


Sesaat aku melirik barang hadiah pemberian orang misterius itu, terdapat sebuah boneka panda yang ukuran nya lumayan besar.


" Saniii !!" panggil salah seorang teman dari luar kamar.


Aku mendengus, ada apa sih mengganggu saja, batinku agak kesal.


" Ada apa?" tanyaku setelah keluar.


Kulihat Evi Dan Maria sedang membuat petisan, sepertinya mereka hendak menawariku.


" Mau gak?" ujar Maria menawari.


Aku pun menatap buah-buahan segar berupa mangga, jambu, bengkoang serta sambal di dalam cobek. Aku ingin, tapi aku malas, mulutku rasanya tidak ingin makan sesuatu apapun.


" Eh di tanyain diam aja." ujar Evi menimpali.


" Eh, hehe .... Gak deh, makasih." balasku menolak.


" Tumben." kata Maria sambil menahan pedas.


" Lagi males." jawabku sekenanya.


" Huuu, enak lo padahal." ucap Evi sembari mencocol mangga dengan sambal petisan.

__ADS_1


Melihat kedua nya nampak menikmati petisan tersebut, ada air liur yang tertahan dalam mulutku. Tapi aku enggan sekali untuk melangkah menghampiri mereka, padahal jarak nya hanya beberapa langkah dari pintu kamarku.


" Kok cuma berdua, yang lain mana?" tanyaku.


" Ntah pada kemana, pergi kayaknya, di kamar atas cuma ada kita bertiga." balas Evi.


Aku mengangguk paham.


"Eh itu camera siapa?" tanya Maria.


" Punya kawan, minjam."


" Mau jadi youtuber nihh." pungkas Evi menggoda.


" Hehe gak kok, udah ah ... aku mau bobo syantik dulu."


" Jam berapa emang?"


" Udah mau jam 5." jawab Maria.


" Yahhh ... padahal ngantuk banget." ungkapku kecewa.


Mereka berdua pun tertawa melihatku.


Beberapa saat aku berfikir, kenapa sebaiknya aku tak memasang camera ini saja di halaman depan. Dari pada buang-buang waktu, siapa tau saja malam ini orang misterius itu datang meskipun hanya sekedar mengintai.

__ADS_1


Aku pun memutuskan untuk segera memasang camera ini di tempat yang aman, agar dia tak mengetahuinya.


Saat aku sedang mencari tempat yang aman untuk menyembunyikan camera ini, tiba-tiba ada sebuah motor matic berwarna putih berhenti tepat di depan gerbang. Aku mengamatinya penuh selidik, seperti nya orang itu tak menyadari ada aku sedang berdiri di dekat pohon jambu.


Dia seorang laki-laki, memakai helm berwarna putih. Ia seperti sedang mengamati keadaan. Jangan-jangan orang ini mau mencuri, gerak-gerik nya sangat mencurigakan, pikirku.


Aku pun terus mengawasi nya dari balik dedaunan, sesaat orang itu nampak turun dari atas jok motornya. Ia melangkah mendekati gerbang. Pikiranku semakin negatif saja, orang ini pasti mau mencuri.


Rupanya tidak, orang itu tidak mau mencuri. Dia menggantungkan sesuatu di besi pagar. Dahiku mengernyit keheranan, terlintas dalam benakku bahwa mungkin saja orang inilah yang selama ini menghujaniku dengan hadiah-hadiah. Tapi siapa? Aku belum bisa melihat wajahnya karena tertutup helm.


Segera kudekati orang tersebut sebelum ia pergi.


" Tunggu! " sergahku. Aku muncul dari balik pohon jambu. Orang itu nampak gugup dan ketakutan.


" Siapa kamu? Mau apa?" tanyaku penuh selidik. Kuamati dari ujung kaki hingga ujung kepala. Namun orang itu masih tak bergeming juga.


" Kamu mau maling ya?" ujarku menuduh.


Lagi dan lagi, orang tersebut hanya diam tak menjawab sepatah kata pun. Aku semakin geram sekaligus penasaran.


" Ayo jawab! Jangan diam saja! Atau aku akan teriak biar warga datang kemari." tukasku mengancam.


Selang berapa saat, orang itu akhirnya membuka helm nya.


Aku benar-benar tak percaya, wajah di balik helm itu?

__ADS_1


Kedua bola mataku melotot bagai hendak keluar, aku sangat terkejut. Kami berdua pun akhirnya saling tatap dengan kisaran waktu yang cukup lama.


Bersambung...


__ADS_2