Cinta Tapi Beda

Cinta Tapi Beda
Episode Delapan


__ADS_3

Untuk membuktikan rasa aneh dan curigaku pada Rendi. Aku sengaja mengajak nya bertemu pada hari minggu ini.


Aku mengirim whatsapp kepadanya.


" Ren?"


" Iya Sayang, kenapa?"


" Hari ini bisa ketemu?" balasku.


" Hari ini, jam berapa?"


" Sekitar jam 9, bisa?"


" Wah pagi banget, tumben."


" Ya gk papa, Kenapa? Gak bisa?"


" Hhm iya bisa kok."


Mendengar balasan Rendi aku agak sedikit lega.


" Ita." sapaku pada Ita yg sedang tidur-tiduran sambil bermain ponsel.


" Kenapa?" jawabnya acuh karena sibuk dengan hp nya.


" Aku kok jadi curiga sama Rendi."


" Curiga kenapa? Dia selingkuh ?" tanya Ita


" Bukan."


" Terus apa dong?"


" Aku kok mikir, kalau Rendi itu bukan orang muslim ya."


Ita kemudian duduk dan mulai memperhatikan ceritaku.


" Lah kok bisa kamu mikir kya gitu, Kenapa?"

__ADS_1


" Aneh aja sih sama Rendi, Setiap hari jum'at kalau disuruh jum'atan ada aja alesan nya. Terus kalau sholat 5 waktu juga sama, mana ada orang sholat cuma 2 menit." kataku mengadu pada Ita.


" Kamu pernah nanya ke dia?"


" Nanya apa? Soal keyakinan dia gitu? Aku pikir gk sopan."


" Ya, dari pada kamu merasa aneh sama dia."


" Soal nya waktu itu si Putri pernah lihat, Rendi keluar dari dalam gereja." aku menunduk sedih.


" Kamu serius San?"


" Putri bilang begitu padaku."


" Salah lihat kali si Putri."


" Semoga aja lah."


***


Hari-hari semakin berlalu, waktu begitu cepat berputar, tidak terasa hubunganku dan Rendi sudah berjalan 1 tahun. Namun keanehanku pada Rendi semakin menjadi, tapi aku tak bisa melakukan apapun selain mendapatkan kebenaran dengan sendiri nya. Yang lebih aneh nya lagi, selama setahun berpacaran dengan Rendi, sekalipun aku tak pernah melihat hal yang pernah di ceritakan Putri dulu. Semua normal, semua berjalan dengan baik. Atau mungkin Rendi terlalu pandai menutupi nya. Ah .... entahlah, aku tidak ingin berpikir yang bukan-bukan tentang pacarku ini.


Besok, tepat nya tanggal 10 maret Rendi akan berulang tahun. Sebagai pacarnya,aku sudah menyiapkan sedikit kejutan untuknya ditengah kesibukan kami.


" Ta, besok Rendi ulang tahun. Aku kasih kado apa ya?" tanyaku pada Ita yang kala itu, masih fokus dengan laptop nya.


" Terserah, Rendi suka nya apa?"


" Rendi sih gak pernah mau yg aneh-aneh, tapi inikan ultah pertamanya denganku."


" Kasih sesuatu yan buat dia inget terus sama kamu." tutur Ita memberi saran.


Aku mencoba memikirkan saran yang Ita berikan. Kira-kira hadiah apa yang cocok untuk Rendi? Tanyaku pada diri sendiri.


Keesokan harinya, setelah aku pulang dari kampus untuk menemui dosen pembimbingku. Aku mampir ke toko kue, disana aku sempat dibuat bingung, karena banyak sekali jenis kue ulang tahun yang menarik dan bagus sekali. Namun kemudian, mataku tertuju pada sebuah kue yang sangat cantik,berbalut coklat tebal dengan toping buah-buahan dan parutan keju diatasnya.


" Mba saya mau yang ini." kataku pada si penjual kue tersebut.


" Oh iya, sebentar." katanya, lalu membuka etalase tersebut dan mengambil kue ulang tahun yang kumaksudkan tadi. Setelah di bungkus, aku menuju meja kasir untuk membayar.

__ADS_1


Ketika di parkiran, aku menelfon Ita.


Tutt ... tut ... tuttt ...


Suara telfon tersambung, beberapa saat kudengar suara Ita dari ujung telfon.


" Hallo San, kenapa?"


"Aku udah beli kue nih, apa sekarang aja ya aku kasih nya."


" Ya udah sekarang aja, nanti malem kan mau garap skripsi lagi." pungkas Ita


" Oke deh, makasih ya." aku pun menutup telfon, kemudian mulai kupacu motor maticku menuju kosant Rendi.


Aku memang sengaja tidak memberi tau dia, kalau aku akan kesana. Yah ... bisa dibilang sebagai suprise lah. Karena dari semalam aku memang sengaja mengabaikan nya, dengan dalih sedang sibuk sama skripsi,bahkan saat jam 12 malam pun aku tak mengucapkan sepatah kata pun padanya. Mungkin sekarang dia kesal padaku.


Sekitar 15 menit kemudian, aku sudah tiba di depan kosant Rendi. Sepi, mungkin mereka semua sedang berada di kampus, dan kulihat pintu kosant Rendi pun tertutup tapi tidak di gembok. Berarti dia ada didalam sana.


Aku mengambil korek api dari dalam tasku,kemudian kuhidupkan lilin angka 22 tersebut. Ya, hari ini Rendi genap berusia 22 tahun. Agak aneh memang, memberikan kejutan ulang tahun di siang bolong begini. Tapi tak apalah pikirku.


Aku mulai berjalan dengan sangat pelan agar tidak terdengar suara tapak kakiku. Setelah sampai didepan kamarnya, aku mulai mengetuk pintu.


Tokk ... tok ....


Aku deg-deg kan sekaligus penasaran, ingin melihat bagaimana reaksi Rendi mendapat kejutan dariku.


Pintu kamar terbuka, Rendi berdiri tepat di hadapanku, dengan ekspresi wajah yan sulit untuk dijelaskan. Sepertinya dia sangat terkejut sekaligus senang.


" Selamat ulang tahunnnn." Ucapku setelah pintu di buka. Rendi hanya bisa tersenyum bahagia. Tak ada sepatah kata pun keluar dari mulut nya, selain menyeringai bahagia.


" Di tiup dong lilin nya." kataku manja. Lalu Rendi meniup lilin tersebut.


" Yeeeee .... Selamat ulang tahun sayangku." ucapku pada Rendi, lalu aku mencium pipi kanan nya. Rendi hanya tertegun dan senyum di bibir nya terus mengembang.


" Makasih ya, aku seneng banget."


" Iya sama-sama." balasku tersenyum.


" Ya udah masuk yuk."

__ADS_1


Kemudian kami berdua masuk kedalam kosant nya dan membiarkan pintu tetap terbuka.


__ADS_2