Cinta Tapi Beda

Cinta Tapi Beda
Episode Duapuluh Lima


__ADS_3

Setiba nya di Rumah Sakit, Sani segera di larikan ke ruang UGD untuk mendapatkan perawatan intensif. Entah apa yang terjadi pada gadis itu, kondisi nya terlihat begitu buruk.


" Ya Allah ... Sembuhkan lah anakku." ucap bunda sembari terus mondar-mandir di depan ruang UGD. Ia benar-benar tak bisa tenang, saat melihat putri nya harus terbaring di Rumah Sakit.


" Yah ... Sani Yah .... " Bunda terus saja menangis, perasaan nya begitu risau.


" Tenang bun ... tenang, duduk dulu." ujar ayah yang sedari tadi terus memperhatikan bunda mondar-mandir karena cemas.


Selang berapa saat, seorang Dokter keluar dari ruang UGD. Melihat hal itu, baik ayah ataupun bunda segera melangkah menghampiri Dokter tersebut.


" Gimana keadaan anak saya pak Dokter." tanya bunda penuh kecemasan.


" Tenang ya bu ... Anak ibu baik-baik saja, namun kondisi nya masih begitu lemah."


" Memang nya, anak saya sakit apa Dok?" ujar ayah bertanya.


" Begini pak, buk ... anak bapak dan ibu itu menderita magh kronis dan juga tifus, selain itu seperti nya dia juga sedang banyak pikiran dan kurang istirahat." terang Dokter, membuat bunda lemas mendengar nya.


" Ah ... ya Allah .... " bunda mendesah tak percaya.


" Kalau begitu saya permisi dulu ya pak buk, biarkan pasien istirahat dulu." ujar Dokter kemudian berlalu.


Bunda duduk dengan pandangan kosong, lunglai lemas rasanya saat mendengar sakit yang diderita putri sulung nya itu. Ia menutup wajah dengan tangan nya, ia seakan tak percaya dengan apa yang Dokter katakan.


" Bunda ... Sani pasti segera sembuh." ujar ayah sambil mengusap bahu bunda.


***


* PIP *


Sebuah pesan masuk di ponsel Rendi dari nomor tak di kenal.


[ Hallo maaf ... ini Rendi ya? ]


Isi pesan itu membuat dahi Rendi mengkerut.


[ Iya, ini siapa? ] balas Rendi


[ Maaf, ini aku Hana sepupu nya Sani ]

__ADS_1


Pesan balasan yang di kirim oleh nomor tak di kenal itu cukup membuat Rendi terkejut.


Sepupu Sani? ada apa dia menghubungi Rendi, dari mana dia mendapatkan nomor pemuda itu?


[ Oh iya ... ada apa ya? ]


[ Gini, aku cuma ngasih tau aja, kalau Sani masuk UGD ]


Rendi seketika melotot saat membaca pesan balasan tersebut.


Hah! Sani? masuk UGD ... kenapa dia? apa yang terjadi sama dia? - batin Rendi mulai panik.


[ Sani masuk UGD? Memang nya dia kenapa? ]


[ Aku belum tau, ini baru di jalan mau ke Rumah Sakit. Ya udah kalau gitu, aku cuma ngabarin aja, maaf mengganggu ]


Rendi lemas seketika, saat mendengar gadis yang ia cintai, saat ini sedang terbaring di Rumah Sakit, sedangkan diri nya tak bisa melakukan apapun, Rendi merasa sangat tidak berguna.


" Sani ... kamu kenapa San .... " tak terasa bulir air mata Rendi jatuh. Sebenarnya Rendi bukanlah termasuk orang yang mudah menangis atau cengeng, tapi ketika dia mendengar kabar itu, hati nya begitu sedih. Disaat hal tersulit yang dihadapi oleh kekasih nya itu, Rendi tak ada di samping nya, Rendi tak ada disana untuk menjaga nya.


" Aarrggghhh .... " Rendi berteriak sambil meninju kaca lemari nya hingga pecah.


* PYARRR !! * ( suara pecahan kaca )


* TOK ... TOK ... *


" Kak ... Kak Rendi?" suara Kristi terdengar dari luar kamar, sambil mengetuk pintu.


* TOK ... TOK ... *


" Kak ... Kak Rendi? " Kristi melakukan itu secara berulang. Namun, saat ia mengetahui bahwa pintu kamar kakak nya itu tak di kunci, ia pun langsung membuka nya.


* CEKLEK *


Pintu kamar terbuka, Kristi mendapati sang kakak tercinta sedang duduk di samping lemari sembari mendekap kedua lutut dengan tangan nya.


Punggung tangan sebelah kanan Rendi nampak terluka dan berdarah. Kristi pun sangat terkejut melihat hal itu.


" Kak Rendi!! " teriak kristi langsung berlari kearah sang kakak yang masih duduk lemas.

__ADS_1


Dilihat nya tangan Rendi sudah berdarah, begitu banyak dan pekat.


" Kak Rendi kenapa?" tanya Kristi sangat khawatir. Namun Rendi tak menjawab, ia justru menangis.


" Kak Rendi tenang dulu ya, tangan nya biar aku obatin." ujar Kristi sambil memegang tangan Rendi yang terluka.


Rendi masih tak bergeming, ia bungkam seribu bahasa.


Kristi pun segera berlari, untuk mengambil perban dan obat merah, guna mengobati tangan kakak nya yang terluka.


" Kak Rendi tahan ya, ini memang perih dan sakit." ucap Kristi sembari membersihkan luka dengan antiseptik. Dengan penuh kehati-hatian, Kristi pun membalut luka sang kakak menggunakan perban.


Rendi menatap nanar wajah adik tercinta nya itu.


" Ini kalau mama sama ayah tau, pasti khawatir banget ." pungkas Kristi.


" Sani masuk Rumah Sakit dek." ucap Rendi tiba-tiba.


Sontak, Kristi terkejut mendengar hal itu.


" Hah! mba Sani, masuk Rumah Sakit?"


Rendi mengangguk pelan.


" Kak Rendi tau dari siapa?" tanya Kristi penasaran.


" Sepupu nya." balas Rendi sendu.


" Ah ... ya Tuhan .... " dengus Kristi.


" Kak Rendi merasa gak berguna dek."


" Maksud kakak?"


" Harus nya sekarang kakak ada disana, temani dia." ujar Rendi sedih.


Tanpa banyak bicara lagi, Kristi pun memeluk kakak semata wayang nya itu. Ia paham apa yang sedang dirasakan sang kakak, ia ingin membantu, tapi tak tau dengan cara apa.


" Doain aja supaya mba Sani cepat sembuh." ucap Kristi.

__ADS_1


Rendi pun semakin memeluk erat adik nya itu. Ia ingin menumpahkan semua yang membebani hati dan pikiran nya saat ini, semua itu berputar-putar dikepala Rendi, seperti mau meledak.


Bersambung....


__ADS_2