
*Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif* begitulah suara operator memberitahu.
Pesan yang ku kirim pada Rendi, tidak ada satu pun yang di balas oleh nya. Berulang kali aku menelfon nomor nya, tapi tak ada jawaban.
Kemana Rendi?
Padahal aku ingin memberitahu dia, bahwa dua hari yang lalu, Arman, teman kerja ku datang ke rumah bersama kedua orang tua nya, dia melamarku. Rupanya bunda dan ayah telah menerima lamaran Arman, tentu saja hatiku merasa hancur, sempat aku berpikir ....
Apakah seperti ini akhir dari perjalanan cintaku dan Rendi?
Kemana Rendi sekarang, disaat aku membutuhkan dia, namun dia menghilang begitu saja. Bukankah dia sudah mengatakan padaku, akan berjuang bersama sampai mendapat restu dari kedua orang tua. Lantas, dimana ia sekarang, mengapa sudah tak menghubungiku lagi?
Rendi, kamu kemana? Apa kamu sudah lupa dengan ucapan mu itu? - Aku terus menangis sesenggukan.
Kini, status ku dan Arman sudah bertunangan sejak bunda dan ayah menerima lamaran nya. Pernikahan kami pun akan dilangsungkan satu bulan lagi. Aku berharap Rendi datang, dan berani untuk menemui kedua orang tua ku. Tapi ternyata, harapan tinggal harapan, Rendi yang ku cinta justru menghilang begitu saja.
" Sani? " Panggil bunda membuatku tersentak.
" Eh ... iya bunda, ada apa?"
" Nanti siang Arman mau kesini, untuk foto prewedding kalian." Tutur bunda.
Aku hanya mengangguk pelan. Sekarang, semua kuserahkan pada Tuhan, jika memang Arman adalah jodohku, semoga aku bisa menerima semua ini dengan hati yang ikhlas.
" Bunda dan ayah juga sudah siapkan dekorasi dan tenda nya, nanti kamu tinggal pilih mau yang seperti apa." Ucap bunda lagi.
__ADS_1
" Iya bun ... " Kataku tersenyum hambar.
Arman? pria yang sama sekali tak pernah ku perhitungkan sebelum nya, justru akan menjadi suamiku, orang yang sama sekali tidak aku cintai.
Sedangkan Rendi? orang yang sudah empat tahun menjadi pacarku, kini berbalik menjadi orang asing, yang menghilang tanpa ada kabar nya.
" Oh ya, kamu mau barang seperti apa untuk di jadikan sovenir?" Tanya bunda.
" Terserah bunda aja deh, yang penting bagus." Ucapku tak bersemangat.
" Loh, kamu ini gimana sih, yang mau menikah kan kamu, bukan bunda."
" Sendok aja kalau gitu bun."
" Ya udah, bunda tulis di buku catatan." Ujar nya lalu melangkah masuk.
* Zztt ... Zztt .... "
Sebuah notifikasi pesan whatsapp masuk di ponselku.
* Sayangku *
Rupanya itu dari Rendi.
[ San, maaf ya kalau aku sudah agak lama gak ada kabar.] Begitu isi nya setelah kubaca.
__ADS_1
[ Kamu kemana aja Ren? kenapa tiba-tiba menghilang]
[ Maaf San, aku terlalu sibuk.]
[ Ren ... apa kamu tau, aku sudah dilamar orang lain]
Aku mengetik pesan tersebut sambil berurai air mata.
[ Selamat ya ]
Balasan pesan dari Rendi benar-benar membuatku terhenyak. Mengapa Rendi justru memberiku ucapan selamat, bukankah seharus nya dia bersedih atau bahkan marah, tapi kenapa ini berbalik.
[ Ren, kamu gak marah? kamu gak sedih? kamu gak ada usaha buat mencegah semua ini?]
[ Maaf San, itu bukan hak ku. Kamu sudah dilamar orang lain, itu artinya aku sudah tak berhak untuk mencampuri urusan mu. Jujur, aku sedih, kecewa dan marah, tapi aku bisa apa? Selain mendoakan mu bahagia, dengan pilihan orang tua mu. Terimakasih untuk selama ini San, terimakasih sudah memberiku kebahagiaan, aku mencintai mu]
Tangisku pun pecah, aku menangis sesenggukan di teras belakang rumah. Aku sudah tak perduli, jika ada yang melihatku menangis.
Ya Tuhan ... kenapa harus seperti ini jadinya, aku sungguh tak menyangka, bila aku dan Rendi harus berpisah dengan cara yang menyakitkan.
Sebuah hubungan tanpa restu orang tua memang tak semestinya di lanjutkan. Tapi, apakah mungkin aku bisa menerima Arman, sebagaimana aku menerima Rendi. Bisakah aku mencintai dia, seperti aku mencintai Rendi? Mampukah aku melupakan Rendi, sedangkan bayang-bayang akan kenangan kita bersama, akan selalu teringat dan tak mungkin terlupakan.
Oh Rendi ...
Tangisku pilu.
__ADS_1
Bersambung....