Cinta Tapi Beda

Cinta Tapi Beda
Episode Delapan Belas


__ADS_3

Telah lebih dari tiga kali, orang misterius itu mengirim bingkisan untukku. Hadiah itu berupa coklat, tas, baju, jam tangan, buku novel dan masih banyak lagi, bahkan barang sekecil, seperti jepit rambut pun ia hadiahkan untukku. Namun, hingga saat ini akupun belum mengetahui, siapa dia sebenarnya. Semua hadiah yang ia berikanpun masih utuh, tak satu pun aku pakai, bahkan coklat yang ia berikan pada bingkisan pertama, tak satu pun aku makan,semua masih kusimpan dengan rapih didalam lemari.


Semua hadiah itu aku kumpulkan, dan berniat jika nanti mengetahui siapa sebenarnya orang di balik semua bingkisan misterius ini, aku akan mengembalikan semuanya.


Orang tersebut nampak nya tak pernah bosan sedikitpun untuk memberiku hadiah, seperti pada pagi hari ini. Saat aku hendak berangkat kerja, tiba-tiba Evi datang dengan tergopoh-gopoh.


" Sani, Sani." panggilnya.


Aku, yang pada saat itu sedang merias diri pun merasa terkejut dengan suara teriakan nya.


" Ada apa Vi?" tanyaku setelah keluar.


Dengan nafas terengah-engah Evi menyodorkan sebuah kado berukuran besar.


" Dari mana kamu?" tanyaku tanpa menyambut kado yang diberikan Evi.


" Huhf!! Aku baru aja mau berangkat kerja, Eh .... orang itu datang ngasih ini.." tuturnya sembari mengatur nafas.


" Orang itu? Ini juga dari orang itu?" tanyaku sangat heran, apa sebenarnya yang dia inginkan dariku.


" Iya San, nih ambil."


" Vi, besok lagi kalau dia datang terus ngasih hadiah lagi, gak usah diterima. Soal nya udah banyak, lemariku gak cukup." ucapku berpesan padanya.


" Iya San, tapi orang itu langsung pergi gitu aja."


" Gk usah diterima Vi, tolong ya bilangin ke dia, kalau mau kado nya diterima, tolong kasih tau namanya."


Evi mengangguk paham.


" Ya udah, ini terakhir kali aku terima. Lagian semua hadiah itu masih utuh, gak ada satupun yang aku pakai." ungkapku dengan nada kesal. Bukan kesal pada Evi, melainkan pada orang misterius itu.


Terlintas dalam benakku, mengapa aku tak memasang camera saja untuk memastikan siapa sebenarnya orang itu. Lalu aku teringat pada Ita. Ya Ita! Bukankah dia mempunyai sebuah camera, hadiah ulang tahun dari orang tuanya. Mungkin kalau kupinjam barang semalam pun tak masalah, selama ini pun Ita tak pernah pelit padaku.

__ADS_1


Tanpa menunggu waktu lama, aku segera menghubungi Ita. Dia bagai sang penolong untukku, bagaimana tidak baru saja aku menelfon, panggilan itu pun sudah diterimanya.


" Hallo San, kenapa?"


" Bangun woy!" ledekku pada Ita. Aku paham betul gadis itu, di jam segini ia pasti belum bangun dari tidurnya. Maklum saja ia bekerja di bisnis orang tua nya sendiri, jadi dia bisa lebih santai.


" Sialan! ganggu orang tidur aja."


" Masih hobi begadang?" tanyaku setengah meledek.


" Heh sialan banget ni orang, reseh." ujarnya menggerutu. Aku pun tertawa dibuat nya.


" Ada apa, tumben pagi-pagi udah jadi alarm." imbunya lagi.


" Hehee .... Eh Ta, camera mu masih ada gak?"


"Masih lah, kenapa gitu?"


" Buat apaan? Tumben amat."


" Udah deh, ntar aku ceritain semua."


" Ya udah boleh, mau di anter apa gimana?"


" Kita ketemu aja yuk sekalian meet up, Kan waktu itu gak jadi." ujarku.


" Ya kamu sih, kebanyakan galau."


" Haha sialan, jadi gimana Ta, bisa kan?"


" Gampang itu mah, tenang kayak sama siapa aja."


" Oke deh, thanks ya. Bangun, rejeki di patok ayam batu tau rasa.."

__ADS_1


" Aarrggghhh .... Udah ah, princess mau bobo lagi, Bye." ucap Ita kemudian mengakhiri panggilannya.


Aku tersenyum riang, karena sebentar lagi aku akan segera mengetahui siapa sebenarnya orang misterius itu.


***


Siang itu di kantor tempatku bekerja. Arman pria berusia dua puluh delapan tahun, merupakan teman kerja ku mendatangi meja kerjaku, entah apa yang akan ia lakukan. Menurut teman-teman yang lain nya, Arman menyukaiku. Tapi aku tak tau, karena sampai saat ini pun Arman tak menunjukkan sikap itu. Hanya sesekali dia menunjukkan perhatian kecil padaku, namun kupikir itu adalah hal yang biasa.


" Sani?" panggil Arman padaku.


" Iya ada apa?" jawabku yang masih fokus dengan komputer di hadapanku.


" Nanti makan siang nya bareng yuk." ajaknya. Aku pun melirik dia.


" Tapi aku bawa bekal."


" Yah ..." keluh nya kecewa.


" Maaf ya, lain kali aja gimana, aku juga lagi sibuk ini." ujarku.


" Kalau besok gimana?" tawarnya lagi.


Sejenak aku diam seraya mempertimbangkan ajakannya.


" Gimana?" tanya nya lagi.


" Hhm .... oke lah." balasku tersenyum.


Sebenarnya aku enggan sekali, meskipun hanya sekedar makan siang bersamanya. Entahlah, dalam hati dan pikiranku tak ingin dengan siapa-siapa kalau bukan Rendi orang nya. Aneh memang, tapi itulah kenyataan nya, hatiku masing ingin dia saja.


Namun untuk kali ini aku menerima ajakan Arman. Karena aku tak enak hati, jika selalu menolak tawaran nya, terlebih dia itu adalah teman kerjaku.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2