
" Hallo ... Ren." ucapku di telfon.
" Iya kenapa?"
" Hari ini bisa ketemu gak?"
" Maaf ya, aku gak bisa, lagi sibuk banget."
Aku sedikit kecewa mendengar jawaban Rendi. Sudah satu minggu aku tidak bertemu dengannya, terakhir bertemu dia, waktu aku datang memberi kejutan ulang tahun untuk nya. Dan sejak itu kami belum bertemu lagi,namun akhir-akhir ini aku merasa Rendi berubah, dia seperti menghindariku. Aku bingung dengan sikapnya yang tidak biasa ini, pikiran negatifku mulai muncul. Dalam benak, aku menuduh Rendi yang tak sepatut nya aku lakukan. Tapi bagaimana lagi, feelingku tidak bisa di bohongi. Ada sesuatu yang Rendi sembunyikan dariku, bahkan sekarang, dia sudah jarang mengirim atau membalas pesan whatsappku.
Lalu aku mengadu kepada Ita.
" Ta, Rendi kok kya nya sekarang berubah ya." ucapku sendu.
" Berubah gimana? Bukannya selama ini baik-baik aja kan?"
" Akhir-akhir ini dia kayak menghindari aku, gak tau kenapa"
" Kamu udah nanya ke dia?"
Aku menggeleng.
" Coba terus terang aja sama Rendi, Ungkapin apa yang ada di dalam hati kamu, jangan di pendam." ujar Ita menasehati.
" Aku takut dia malah marah."
" Gak akan ... Atau mungkin Rendi lagi ada masalah, positif thingking ajalah San."
" Gak tau juga, dia gak pernah cerita apa-apa. Bahkan dari kemarin, dia gak chat aku, tadi di telfon juga kayak cuek gitu." aduku dengan sedih.
__ADS_1
Ita menghela nafas panjang, sepertinya dia mencoba memahami situasi yang kualami saat ini.
" Lebih baik kamu terus terang aja sama Rendi, dari pada bingung sendiri." ujar Ita menepuk pundakku, kemudian dia melangkah ke kamar mandi.
Sejenak aku terdiam. Mulai kupertimbangkan saran dari Ita. Tapi aku masih ragu, aku terlalu takut untuk terus terang pada Rendi. Aku tau, dia tidak akan marah padaku, karna selama aku berpacaran dengan nya, Rendi tidak pernah marah yang berlebihan.
***
Setelah mempertimbangkan saran yang diberikan oleh Ita. Akhirnya aku memutuskan untuk menghubungi Rendi terlebih dulu. Awal nya aku ragu, tapi semua ini harus segera di selesaikan. Aku harus bicara dengan Rendi, agar semua kerisauanku ini bisa terselesaikan, pikirku.
Kemudian aku mengirim whatsapp untuk Rendi.
" Ren?." tulisku.
Namun sepertinya Rendi tidak online, Whatsapp nya online sekitar 15 menit yg lalu. Tapi aku masih terus menunggu dengan harap-harap cemas. Aku terus memperhatikan pesan whatsapp yang kukirim untuk Rendi, masih belum centang biru juga.
" Iya, kenapa?" balasnya.
Jujur, aku sangat geram dengan jawaban yang diberikan Rendi. Ingin rasanya aku teriak, Rendiiii .... kamu kenapa?
" Kok kenapa sih?" emosi ku mulai naik, tapi masih bisa terkontrol.
" Iya, maaf." balasnya singkat. Hanya itu, aku sangat sedih sekali. Rendi yang aku kenal dulu sekarang sudah berubah, dia yang dulu tak pernah absen menghubungiku, kini mulai menjauh. Kenapa waktu begitu cepat mengubah seseorang, batinku sedih.
" Kamu kenapa sih Ren?" balasku lagi dengan emotikon sedih.
" Aku gak papa kok."
" Bohong! Kamu berubah Ren!" ungkapku penuh emosi.
__ADS_1
" San?" balasnya lagi, kali ini disertai emotikon menangis.
Sekarang aku semakin yakin, jika Rendi sedang ada masalah, ada yang sedang disembunyikan dariku. Tapi selama ini, dia tidak pernah cerita apapun padaku.
" Kamu kenapa sih Ren? Ayo cerita dong."
" Aku takut San."
" Takut kenapa?"
" Takut, kalau aku cerita sama kamu, aku takut semuanya bakalan berubah." ungkapnya sedih.
Aku semakin dibuat bingung oleh sikap Rendi. Ada apa sebenar nya? Apa yang sedang terjadi? Kenapa Rendi takut untuk cerita padaku, sampai dia mengatakan takut kalau aku berubah. Ada apa sebenarnya ini? Aku terus menerka-nerka tanpa kejelasan yang pasti.
" Aku? Kenapa sih Ren? jangan buat aku bingung dong." aku terus mencecarnya agar dia mau berterus terang.
" Berat San, aku takutttt .... banget, Aku gak siap San."
" Ren? Kenapa sih? Ada apa sebenarnya, kamu udah gak sayang sama aku?" balasku sedih. Aku mulai menangis.
" Bukan itu San. Aku sayang sama kamu, sayang banget malahan."
" Ya terus apa Ren? Apa?!"
Setelah pesan yang kukirim tadi, Rendi tak lagi membalas nya, bahkan hingga malam pun Rendi tak juga menbalasnya.
Malam itu aku benar-benar sedih, aku sangat bingung dengan sikap Rendi yang tiba-tiba saja berubah. Sepanjang malam aku hanya bersedih, dan Ita terus saja menghiburku.
Bersambung....
__ADS_1