Cinta Tapi Beda

Cinta Tapi Beda
Episode Tigapuluh Satu


__ADS_3

Tak terasa, waktu begitu cepat berlalu. Pernikahan ku dan Arman sudah masuk tahun ke tiga, tapi hingga sejauh ini aku masih belum bisa mencintai Arman sepenuh nya, meskipun dia sangat baik padaku, sangat perduli, bahkan bisa dibilang Arman termasuk suami idaman. Dia tak pernah memaksa ku untuk melakukan apapun, jika aku sedang malas untuk beberes rumah, dia hanya diam lalu mempekerjaan orang untuk membereskan rumah kami, tak jarang pula dia yang memasak untuk ku kalau aku beralasan sedang tak enak badan.


Ya, setahun setelah menikah, Arman membeli sebuah rumah. Meskipun tak terlalu besar, tapi ini sudah lebih dari cukup, dari pada kami harus tinggal di kontrakan.


Arman adalah pria yang baik, suami penyayang dan lembut, tak ada yang kurang darinya. Bahkan, gajih bulanan nya pun semua ia serahkan padaku, dia hanya meminta sedikit untuk ongkos dan uang makan. Tapi entah mengapa, aku masih belum bisa menerima dia menjadi suamiku, belum bisa mencintai dia seperti aku mencintai Rendi dulu, walaupun aku selalu berusaha untuk mencintai dia, tapi aku tetap tidak bisa.


Maafkan aku Arman, maaf kalau seorang Sani belum bisa menjadi istri yang baik untuk mu.


Hari itu, Arman libur bekerja, lalu dia mengajak ku untuk sekedar jalan-jalan, sebab dia bilang aku terlalu sibuk mengurus pekerjaan rumah, karena itulah dia ingin membuatku bahagia dengan pergi jalan-jalan ke kota.


Kami berdua pergi kesebuah Mall, disana Arman mengajakku berbelanja. Aku tau, dia memang tak mempunyai uang yang banyak, tapi dia ingin membuatku bahagia.


Setelah selesai belanja dan membeli beberapa lembar pakaian, Arman mengajak ku untuk makan siang.


" Kamu mau makan apa?" Tanya Arman lembut.


" Hhm ... apa ya ... terserah deh."


" Kok terserah, kan kamu yang mau makan?" Ucap nya.


" Kalau kamu, mau makan apa?" Ujar ku balik bertanya.


" Gak tau juga." Balas nya sambil terkekeh.


" Ih, gimana sih .... " Aku menggerutu.


" Kamu disini sebentar ya, aku mau ke toilet." Ucap Arman, lalu ia pergi meninggalkan ku yang masih duduk sambil membawa barang belanjaan.


Aku duduk diam termenung sambil menunggu Arman selesai dari toilet.


Hari itu, detik itu, aku sungguh tak menyangka jika aku dapat bertemu dan melihat sosok yang selama ini masih sulit untuk aku lupakan.


Setelah tiga tahun lama nya, kami tak bertemu sejak pernikahan itu, aku dapat melihat kembali wajah seseorang yang dulu sangat aku cintai.


Dia adalah Rendi!

__ADS_1


Aku tak menduga dapat bertemu dia disini. Dia datang menghampiri ku yang kala itu sedang bermain ponsel sambil menunggu Arman.


" San ... Sani?" Panggil nya, membuatku tercengang.


Sungguh! Ini seperti mimpi, Rendi yang dulu kucinta, kini sudah ada, tepat berdiri didepan ku, dia tersenyum lebar seraya mengulurkan tangan nya.


" Apa kabar?" Tanya Rendi.


Aku masih tercengang. Sungguh, ini kah Rendi?


Setelah tiga tahun tak bertemu. Sudah banyak perubahan pada Rendi. Selain usia nya yang kian bertambah, dia pun terlihat sangat dewasa dan lebih matang, dari sosok seorang Rendi yang ku kenal dulu.


Tapi senyum itu, tatapan mata itu, benar-benar tak ada yang berubah.


" Ba ... baik." Jawab ku tergagap.


" Kamu sendiri, Ren?"


" Seperti yang kamu lihat, aku baik." Balas nya tersenyum.


" Kamu, sedang menunggu siapa disini?" Tanya Rendi.


" Udah lama ya, kita gak ketemu." Pungkas nya.


Aku jadi teringat masalalu, masa-masa saat aku masih bersama Rendi.


Ah ... Ya Tuhan, apa yang aku pikirkan. Aku sudah bersuami, tak boleh lagi aku memikirkan masalalu yang hanya akan menimbulkan luka yang tak ada obat nya.


" Iya nih, udah lama banget. Kamu sendiri, kesini sama siapa?"


" Istri." Jawab Rendi.


" Selamat ya Ren." Kata ku agak sendu.


" San, maaf ya."

__ADS_1


" Maaf? untuk apa Ren? "


" Dulu, saat aku menikah, tak bilang padamu." Terangnya.


Aku hanya bisa mengangguk, sambil menahan getir nya perasaan, saat mengingat kisah dimasalalu antara aku dan Rendi.


" Iya, gak papa, udah terjadi juga."


" Dulu, aku gak sempat memberimu kabar, karena aku bingung San, percuma juga aku memberitahu padamu, sedangkan kamu sendiri juga mau menikah." Ungkap nya lagi.


" Aku menikah dengan istri ku, juga karena permintaan mama dan ayah." Tutur Rendi tanpa ditanya. Seperti nya Rendi mencoba untuk menjelaskan semua yang pernah terjadi, mengapa ia menghilang begitu saja, bahkan saat menikah pun dia tak memberitahu aku.


" Iya Ren, sudah jalan nya begini, mau gimana lagi." Gumamku.


" Iya, aku masih gak menyangka bisa ketemu kamu disini San."


" Aku juga Ren, oh ya, siapa nama istri mu?"


" Natalia, dia anak teman nya mama."


" Oh ... "


Beberapa saat Arman datang menghampiri kami. Lalu dia mengajakku untuk pergi, sedangkan Rendi masih diam mematung sambil memandangku yang sudah melangkah pergi bersama Arman.


Kesenduan tiba-tiba terasa. Entah kapan lagi, aku bisa bertemu Rendi. Mungkin ini pertama dan terakhir bagiku untuk bertemu dia, sejaka perpisahan tiga tahun yang lalu.


Rendi ... asal kau tau, dirimu adalah cerita terindah yang pernah hadir dalam hidupku, terimakasih pernah memberi warna.


Meskipun pada akhirnya kita tidak bisa bersatu, tetaplah ingat aku sebagai seseorang yang pernah hadir di masalalu.


Semoga kau dan aku selalu bahagia dengan pernikahan yang kita jalani bersama pasangan masing-masing.


Aku yakin, inilah yang terbaik untuk kita semua. Karena setiap pertemuan, pasti ada perpisahan, dan insya allah aku sudah siap untuk melepas mu sepenuh nya, dan akan terus berusaha untuk mecintai Arman sebagai suamiku, sebagaimana aku mencintaimu dulu.


Terimakasih untuk semua yang telah kau beri, kenangan kita begitu berarti.

__ADS_1


I Love You Rendi ....


- THE END -


__ADS_2