Cinta Tapi Beda

Cinta Tapi Beda
Episode Duapuluh Enam


__ADS_3

Saat aku terbangun dari tidur panjang, hal pertama kali yang kulihat saat berhasil membuka mata adalah dinding berwarna putih. Jarum infus menancap di tanganku, begitu pun dengan selang oksigen yang masuk dilubang hidungku.


Aku merasa bingung, sebenarnya aku sedang berada dimana. Dan saat hendak mengangkat kepalaku, rasanya sangat berat dan pusing. Ku amati keadaa sekitar, tampak sepi, tak ada siapapun disini.


Beberapa saat terdengar suara pintu terbuka.


* Ceklek *


Perlahan aku menoleh. Aliran darahku rasanya berhenti seketika, bola mataku pun terus saja melotot, saat melihat siapa yang baru saja masuk kedalam ruangan tempatku di rawat.


Bibir ku menganga, ada sesuatu yang ingin kuucapkan, namun tertahan, lidahku begitu kelu.


" Re ... Rendi ...." ucapku lirih.


Dia tersenyum padaku. Di tangan nya, ada seikat bunga yang dibawa, mungkin itu untukku.


" Sani." ucap nya setelah berhasil mendekati ranjang tidurku.


Aku berusaha membalas dengan senyuman, namun otot pipiku rasanya lemas sekali.


" Gimana keadaan mu?" tanya Rendi sambil meletakkan bunga diatas meja.


" Alhamdulillah baik." balasku pelan.


" Aku berharap, kamu cepat sembuh."


Sudah cukup lama aku dan Rendi tak bertemu. Sejujurnya aku sangat senang, akhir nya dapat melihat wajah Rendi lagi, meskipun dalam keadaan sakit seperti ini. Tapi disatu sisi, aku juga takut pada bunda dan ayah.


Bagaimana jika mereka tau Rendi datang kesini, ahh .... - pikirku cemas.


" Kamu kok tau, aku di Rumah Sakit."


" Iya, sepupu mu kemarin kirim pesan." jawab Rendi.

__ADS_1


Sejenak aku dan Rendi saling menatap. Entah mengapa setiap kali aku melihat wajah Rendi, semakin bertambah rasa cintaku padanya. Namun, bila teringat perkataan bunda, aku merasa semua sudah tak mungkin lagi.


" Makasih ya, udah datang kesini." ujarku.


" Semoga cepat sembuh ya, jangan buat aku khawatir." tutur nya sambil mengusap rambutku.


Aku merasa sangat bahagia, Rendi datang kemari untuk menjengukku. Seolah tak ada yang terjadi, bahkan ucapan bunda ter-abaikan dari ingatanku.


" Orang tua mu kemana?"


" Gak tau, aku bangun udah gak ada orang sama sekali."


" San, sebenar nya kamu kenapa sih? sampai masuk Rumah Sakit." tanya Rendi.


" Aku juga gak tau Ren, aku bangun udah disini."


Rendi mengangguk-angguk mendengar jawabanku.


* Ceklek *


" Sani, udah bangun nak." ucap bunda sambil melirik Rendi.


Rendi pun segera berdiri dan bersalaman dengan ayah bunda.


" Apa kabar pak, buk?" sapa Rendi ramah.


" Baik." jawab ayah dan bunda bersamaan.


Bunda pun meletakkan kantong plastik putih diatas meja.


" Kamu, Rendi ya?" tanya bunda.


" Iya buk."

__ADS_1


" Bisa saya bicara sebentar." ucap bunda, membuatku dan ayah saling pandang.


" Oh ... iya buk, bisa."


Lalu bunda dan Rendi pun melangkah keluar, meninggalkan aku dan ayah. Aku mulai khawatir, apa yang akan bunda katakan pada Rendi, kuharap itu bukan hal yang menyakitkan, meskipun aku menduga bahwa bunda akan membicarakan hubungan kami.


" Yah, kira-kira bunda ngomong apa ya."


" Udah, gak usah di pikirkan, kamu istirahat dan tenangkan pikiran mu." ujar ayah lalu duduk.


Kulihat, adikku sedang bermain mobil kesayangan nya di lantai, aku pun tersenyum melihat tingkah adikku yang lucu.


Beberapa saat, pintu kamar kembali terbuka, rupanya Rendi dan bunda.


" San, aku pamit pulang ya." ucap Rendi setelah mendekat.


" Oh iya, makasih banyak ya." balasku, meskipun sebenarnya aku masih ingin bersama Rendi.


" Iya, cepat sembuh ya." ujarnya sambil mengusap tanganku.


Aku tersenyum padanya, dan Rendi pun membalas nya dengan begitu manis. Namun, kulihat dari sorot matanya, seperti ada sesuatu yanh sedang ia rasakan, wajah nya nampak sendu.


" Ren, kamu gak papa?"


" Gak papa San, aku pulang ya." jawab Rendi.


" Pak, buk, Rendi pulang ya." ucap Rendi berpamitan.


" Iya, makasih udah jenguk Sani." balas ayah.


Sejenak, Rendi menghela nafas begitu dalam, ia seperti gundah, aku yakin ada sesuatu yang sedang ia sembunyikan.


Dengan berat hati, akhir nya Rendi pun melangkah keluar ruangan, meninggalkan aku yang masih terlalu rindu padanya. Entah, kapan lagi aku akan bertemu dengan nya, sedangkan bunda sudah tak mengizinkan aku untuk bekerja disana lagi.

__ADS_1


Mungkinkah, ini pertemuan terakhir ku dengan Rendi? Ah ... aku hampir menangis.


Bersambung....


__ADS_2