
Di malam hari, Rendi kembali menghubungiku seperti biasa. Seakan tidak terjadi apapun, atau mungkin Rendi tidak mengetahuinya, jika tadi sore, mamanya menghubungiku dan meminta aku untuk menjauhi nya. Tapi aku enggan untuk mengatakan itu pada Rendi, biarlah semua kusimpan seorang diri. Aku juga tidak mau hubungan Rendi dan mamanya menjadi tidak baik gara-gara masalah itu.
Rendi mengirim sebuah pesan melalui whatsapp kepadaku.
[ Selamat malam sayang.]
Namun aku tidak membalasnya. Maksud hati ingin membalas pesan Rendi, tapi saat aku ingat ucapan mamanya tadi sore, aku mengurungkan niat itu. Mungkin inilah saat nya aku aku pergi dari hidup Rendi. Meskipun sangat berat aku jalani, tapi mama Rendi benar. Aku dan Rendi terpisah oleh jarak, sebuah jarak yang tak mungkin bersatu. Aku juga tidak ingin, mengubah Rendi menjadi anak yang durhaka terhadap orang tuanya, hanya karna rasa cintanya padaku.
Aku terus menatap layar ponsel sambil menangis sesenggukan. Sesaat Rendi kembali mengirim pesan.
[ Saniiii??? Kamu sibuk?]
Aku masih tidak membalasnya.
[ San kamu kemana?]
[ kamu kenapa??]
[ Hey ... sayang, kamu baik-baik aja?]
Namun tidak ada satu pun pesan dari nya yang aku balas. Aku sudah benar-benar berniat untuk pergi dari hidupnya, sudah saat nya aku hengkang. Aku hanya tidak mau, jika semua akan semakin rumit.
Maafin aku Rendi, gumamku dengan air mata yang terus mengalir deras di pipi. Aku sangat sedih sekali malam itu, bahkan niatku untuk bertemu dengan Ita pun aku urungkan.
***
__ADS_1
Siang itu, Rendi datang ke kosan untuk menemuiku.
*Tok ... tok ..
" San, Sani?" panggil salah seorang teman kosanku.
Aku pun membuka pintu.
" Iya Vi, ada apa?"
" Ada teman mu di bawah." ujar Evi memberitahu.
" Teman?"
Evi mengangguk.
" Ada apa Ren?" tanyaku kemudian duduk.
" Kamu kemana aja sih San, beberapa hari ini hilang tanpa kabar." ujar Rendi.
Aku menghela nafas panjang. Berat sekali rasanya untuk mengatakan hal yang sebenarnya pada Rendi, lidahku begitu kelu.
" San ayo jawab."
" Ren, aku minta maaf ya ... Sebaiknya, mulai sekarang kamu jangan temui aku lagi, jangan hubungi aku lagi." ujarku sambil menahan air mata. Rasanya tak kuasa mengatakan hal demikian pada Rendi. Tapi mau bagaimana lagi, aku harus melakukannya.
__ADS_1
Rendi nampak terkejut mendengar ucapanku.
" Kenapa San? aku salah apa?"
" Gk ada Ren, kamu gk salah."
" Terus, kenapa kamu ngomong kayak gitu?"
Aku tak sanggup membalas tatapan Rendi, aku hanya tertunduk seraya menahan rasa sakit yang menusuk relung hatiku.
" Maaf Ren, aku udah gak bisa sama kamu" " Tapi kenapa San? Salahku apa? Kenapa tiba-tiba begini?!"
Aku menggeleng.
" Ini bukan tiba-tiba Ren, aku udah pikirin semua nya, aku jenuh Ren." ucapku berbohong. Bagai sembilu yang menyayat hati, aku tau ucapanku ini sangat menyakitinya, karena aku pun demikian.
Rendi menggeleng tak percaya, mimik wajah nya berubah sendu. Rendi menahan sebuah kesedihan yang teramat sangat.
" Maaf Ren, sebaik nya kamu pulang sekarang dan jangan temui aku lagi." ucapku kemudian beranjak dari tempat duduk.
" Cuma segini perjuangan mu San?" tanya Rendi tak percaya.
" Aku udah jenuh Ren, aku bosan sama kamu." kataku kemudian berlalu meninggalkan Rendi.
Sebuah kebohongan yang harus kuutarakan padanya. Sakit teramat sakit, air mata inilah yang menjadi saksi, betapa hancurnya hati ini harus berpisah dari orang yang kucintai.
__ADS_1
Bersambung....