Cinta Tapi Beda

Cinta Tapi Beda
Episode Dua Belas


__ADS_3

Setelah melewati proses yang panjang dan berliku. Penuh perjuangan, menguras tenaga, pikiran hingga materi. Akhir nya hal yang paling aku nantikan tiba juga, setelah melewati masa perkuliahan selama 4 tahun 3 bulan, akhir nya aku wisuda juga dan resmi menyandang gelar sebagai Sarjana Ekonomi. Meskipun aku bukan termasuk mahasiswa yang lulus dengan predikat terbaik, tapi aku sangat puas dengan nilai ipk yang aku raih. Selang beberapa bulan kemudian, Rendi pun turut wisuda juga. Kini status mahasiswa pada diri kami telah lepas, namun inilah perjalanan hidup yang sesungguh nya. Kami harus bersaing, untuk mendapatkan pekerjaan dengan ribuan bahkan ratusan lulusan sarjana di luar sana.


*tringg ... tring ...


Hpku berdering, dengan gerakan tangan yang lamban, aku berusaha mengambil hpku dari atas meja.


" Hallo, selamat pagi sayang." sapaan hangat nan lembut kudengar dari ujung telfon.


" Iya, pagi." balasku dengan nada lesu. Maklumlah aku baru saja bangun.


" Hey, ayo bangun dong."


" Iya, ini bangun."


" Oh ya San ... Hari ini aku ada interview, doain aku ya." ujar Rendi memberitau.


" Semangat ya ..." ucapku pada Rendi.


Kemudian Rendi mengakhiri panggilan nya. Aku yang pagi itu masih bergumul dengan selimut, sontak terkejut mendengar suara bunda memanggilku.


" Saniiiiiiii ...." pekik nya. Aku terperanjat lalu bangun.


" Iya Bunda."


" Katanya hari ini mau ada interview kerja, kok jam segini belum bangun."


* Degg ....


Aku sangat lupa, kalau hari ini aku ada jadwal interview, untunglah bunda membangunkanku dengan suara emasnya. Yah ... meskipun begitu aku berterimakasih padanya, karena telah membangunkan aku.


" Astagfirulloh." ucapku sambil menepuk dahi. Kemudian aku bergegas mengambil handuk lalu mandi. Saat aku melewati bunda yang sedang sibuk dengan bumbu dapur, ia menatapku dengan tatapan tajam. Mungkin bunda geram dengan tingkahku yang selalu malas kalau harus membantunya memasak. Apalagi di jam segini, aku baru bangun, ya Tuhan anak gadis macam apa aku ini. Entahlah, setelah bertahun-tahun hidup di kosant, membuat kebiasaanku berubah. Kebiasaan di kosant, yang sering bangun siang, kini aku bawa kerumah. Ah ... dasar aku!


" Baru bangun juragan?" sapa bunda menyindir. Aku hanya terkekeh mendengar perkataan bunda.


" Maaf bun, gak bantu masak, aku buru-buru." lalu aku menyelinap kedalam kamar mandi.


Entah kena setan apa, pagi itu aku mandi sangat cepat sekali, secepat kilat.


" Tumben cepet." ujar Bunda seraya meletakkan semangkuk sop di atas meja makan.


" Hehe .... Buru-buru."


" Bukan nya ini masih pagi." kata bunda menyindirku lagi.


" Nyindir terosssss ..." balasku lalu lari terbirit-birit.


Setelah aku siap, sebelum berangkat aku menyempatkan diri untuk sarapan.

__ADS_1


" Mau interview dimana?" tanya Ayah yang masih santai di depan tv.


Ah ... aku tidak mengerti, kenapa keluargaku ini terlalu santai. Ya aku tau, Ayah adalah seorang pedagang, jadi bisa sesuka hatinya, kapan Ayah mau berangkat bekerja.


" Di penggadaian Yah." balasku sambil menciduk nasi.


" Semoga di terima."


" Amin Yah, makasih." kataku kemudian sarapan.


****


Siang ini begitu terik. Matahari seperti di atas ubun-ubun. Kulihat jam ditangan, ternyata sudah menunjukkan pukul setengah 12 siang. Aku pun berniat untuk mencari masjid terdekat.


Hari ini, aku pergi ke daerah dimana tempat kuliahku dulu, sekalian mengingat masa-masa ketika aku masih menjadi mahasiswa. Rindu juga ternyata.


Saat sedang mengendarai motor, aku merasakan hpku terus bergetar. Kemudian kutepikan motor maticku di pinggir jalan, untuk melihat siapa yang menelfon. Suara panggilan telfon itu, rupanya dari Rendi. Aku pun memutuskan untuk menelfon dia, siapa tau ada urusan penting.


" Hallo Ren, ada apa?"


" Lagi dimana?"


" Di jalan, arah kampusku dulu."


" Oh sama, aku juga lagi di sekitara situ." katanya memberitau.


" Kamu dimana yang?" tanyaku pada Rendi.


" Di foto copyan dekat masjid, kesini ya San." pintanya, aku mengiyakan.


Lalu kulajukan motor maticku menuju tempat dimana Rendi berada.


Setibanya disana, aku melihat Rendi sedang duduk di kursi plastik, seperti nya dia memfotocopy sesuatu. Akhirnya aku bisa melihat Rendi, setelah sekian lama tidak bertemu.


Kemudian aku menghampirinya, aku dan Rendi berbalas senyum.


" Udah dari tadi ya disini?" tanyaku.


" Belum sih." jawab Rendi, sambil menarik kursi plastik tersebut lalu menyuruhku duduk.


" Habis dari mana?" tanya Rendi.


" Habis interview."


" Lah sama dong, terus gimana?"


" Hari ini masih interview. Nanti dapat email,keterima atau enggak nya." jawabku. " Kalau kamu gimana Ren?"

__ADS_1


" Puji Tuhan, aku diterima San." pungkas nya dengan mata berbinar. Syukurlah aku ikut senang mendengarnya.


Setelah agak lama kami berbincang-bincang. Aku mendengar suara adzan, pertanda sudah masuk waktu sholat dhuzur.


" Udah adzan tuh." kata Rendi. Aku tersenyum, lalu mengangguk.


Yah, beginilah kami. Meskipun berbeda tapi tetap saling menghargai, saling mengingatkan untuk menjalankan ibadah kepercayaan masing-masing. Aku pun tidak tau mau sampai kapan akan seperti ini, tapi aku sangat bahagia bisa bersama Rendi sampai detik ini.


" Kamu udah selesai?" tanyaku.


" Udah ini." jawabnya kemudian membayar foto copyan tersebut.


" Setelah ini kita mau kemana?"


" Makan yuk." ajak Rendi.


" Oke ... Tapi aku sholat dulu ya. Kamu tunggu disini aja, nanti aku kesini lagi."


" Gk ah, aku mau ikut."


Aku pun mengiyakan.


Lalu aku dan Rendi bergegas menuju motor masing-masing. Motor kami mulai melaju meninggalkan tempat foto copyan itu. Setibanya di depan Masjid, aku memarkirkan motor ditempat yg sudah disedikan.


" Kamu tunggu disini ya." ujarku pada Rendi.


" Aku mau cuci muka." katanya.


" Oke deh."


Kami berdua pun melangkah kearah tempat wudhu, tentu saja aku menuju ke tempat wudhu yang di khususkan untuk wanita, dan Rendi ke tempat wudhu pria.


Setelah itu aku menjalankan sholat dzuhur. Walau sesibuk apapun aku, dimana pun aku berada, Alhamdulillah aku tidak pernah meninggalkan sholat lima waktu.


Beberapa saat aku sudah selesai, aku keluar dari dalam masjid dan kudapati Rendi sedang duduk diteras masjid seraya menungguku.


" Kok nunggu disini?" tanyaku sambil membetulkan jilbab warna pink salem yang kupakai.


" Iya, males mau jalan ke parkiran. Gak papa kan aku disini?"


Sejenak aku menatapnya, ada sedikit perasaan kalut yang menyelimuti hatiku. Sesaat aku mulai di rundung rasa takut, apakah aku dan Rendi akan selamanya seperti ini? apakah aku dan Rendi akan terus bisa bersama selamanya? Perasaan itu yang kadang sering menghantui diriku. Karena aku tau, hubungan kami bukanlah suatu hal yang mudah untuk dilalui. Terlebih lagi, jika kedua orang tua kami belum mengetahuinya, ah entahlah aku tidak ingin memikirkan hal itu.


" Iya gak papa kok, Ya udah yuk."


Rendi hanya mengangguk.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2