
Satu minggu lagi, acara pernikahan antara aku dan Arman akan digelar. Namun hal itu membuatku semakin bingung dengan perasaan ku sendiri. Aku benar-benar tak ingin menikah dengan Arman, tapi tak mungkin pula aku membatalkan acara ini, sedangkan undangan telah disebar, segala keperluan untuk menikah pun sudah di siapkan. Aku juga tak mungkin membuat ayah dan bunda kecewa serta malu. Tapi sungguh, jika aku boleh jujur, ingin rasanya aku berlari menjauh dan pergi dari sini. Bukan pernikahan seperti ini yang aku inginkan, dan lebih gila nya lagi aku masih berharap Rendi datang, meskipun itu sangat tidak mungkin.
Para tetangga pun sudah mulai berdatangan untuk masak dan membuat kue dirumah. Ya, seperti inilah kehidupan bermasyarakat di desa. Jika ada warga yang sedang punya hajat besar seperti pernikahan, maka mereka akan berduyung-duyung datang untuk membantu secara sukarela.
Siang itu aku hanya duduk diam didalam kamar, kata orang aku sedang di pingit, meskipun acara pernikahanku masih akan berlangsung satu minggu lagi, tapi aku sudah tak boleh bepergian kemana-mana.
Yang bisa ku lakukan di dalam kamar hanyalah bermain ponsel, berselancar di sosial media, atau sesekali keluar kamar untuk menonton tv ataupun bermain dengan keponakan dan sanak saudara lain nya yang sudah datang untuk menghadiri hari yang paling penting dalam hidup ku. Tapi aku tak merasa begitu, karena aku menikah bukan dengan orang yang aku cintai, justru aku merasa jangan sampai pernikahan ini terjadi.
Gila memang! Ya, itulah yang selalu aku pikirkan, berharap akan ada keajaiban yang membuatku tak jadi menikah dengan Arman.
Sejujur nya aku rindu pada Rendi, karena sejak pesan yang dikirim beberapa waktu lalu, aku dan dia sudah tak berkomunikasi lagi.
Akhir nya aku pun memutuskan untuk mengirim pesan pada nya, dan berharap dia membalas, setidak nya hal itu bisa mengurangi rasa rinduku padanya.
__ADS_1
[ Ren, sedang apa? apa kabar? ]
Tulisku. Meskipun agak ragu, akhirnya ku tekan tombol kirim dan pesan pun telah terkirim untuk nya.
Sekitar lima belas menit kemudian, ada sebuah notifikasi pesan masuk, dari Rendi.
[ Puji Tuhan baik, maaf ini siapa ya? soal nya Rendi sedang pergi, kalau ada perlu nanti saya sampaikan ]
Begitu membaca pesan balasan tersebut, hatiku jadi bertanya-tanya. Kira-kira, siapa yang membalas pesan ini? bukan kah sudah jelas di ponsel Rendi pasti tertulis namaku.
[ Saya ada perlu sedikit, maaf kalau boleh tau ini siapa?]
Dua menit kemudian, sebuah pesan balasan masuk di ponselku.
__ADS_1
[ Ini istri nya Rendi, kalau memang ada perlu nanti saya sampaikan ]
Ponselku pun terjatuh ke lantai sesaat setelah membaca pesan balasan itu. Aku tak percaya, bahwa yang membalas pesanku adalah istri nya Rendi.
Hah! istri Rendi? apa Rendi sudah menikah? Ah ... Ya Allah .... - Aku pun menangis terisak.
Tak pernah ku bayangkan sebelum nya, jika akhir dari cerita cintaku dan Rendi akan seperti ini. Bahkan sekarang, Rendi sudah menikah tanpa sepengetahuanku. Rendi ku sudah menikah, sekarang dia sudah menjadi suami orang. Tangisku pun pecah, bulir air mata terus menetes memabasahi pipi.
Ya allah ... kenapa semua jadi seperti ini, empat tahun kami pacaran, akhirnya harus berpisah dengan cara yang menyakitkan seperti ini.
Aku terus menangis didalam kamar, begitu perih dan sakit hatiku harus mengalami hal yang tak pernah aku inginkan. Orang yang aku cintai, kini telah menjadi suami orang, dan sebentar lagi aku pun akan menjadi istri orang.
Dua orang yang saling mencinta, justru tak bisa hidup bersama, karena berbeda keyakinan.
__ADS_1
Sekarang, aku sudah berpasrah diri pada sang ilahi. Jika memang pernikahan ku dan Arman adalah yang terbaik, semoga aku bisa ikhlas menerima nya. Semoga aku bisa menjalani pernikahanku, menerima Arman sebagai suamiku, belajar untuk mencintai nya dan belajar menjadi istri yang baik untuk nya. Meskipun itu akan terasa sulit, aku harus tetap berusaha. Mungkin ini sudah menjadi jalan hidup ku, Arman adalah jodoh ku, aku harus menerima nya dengan baik.
Bersambung....