Cinta Tapi Beda

Cinta Tapi Beda
Episode Empat Belas


__ADS_3

Pagi itu, aku ikut bunda ke pasar untuk belanja kebutuhan dapur. Sudah lama sekali, aku tidak kepasar bersama bunda, padahal, dulu sewaktu aku masih sekolah,sering sekali ikut bunda ke pasar. Tapi, semenjak kuliah dan tinggal jauh dari orang tua, aku tak pernah lagi ikut. Meskipun saat libur dan aku pulang kerumah, aku juga tidak pernah ikut lagi. Entahlah, jiwa-jiwa malasku ini susah sekali untuk di hilangkan.


Pasar ini, nampak sudah ada kemajuan di bandingkan beberapa tahun silam. Dulu, para pedagang berjualan menggunakan tenda-tenda yang mereka buat sendiri dan jikalau hujan, tanah pasar akan becek. Tapi sekarang? Pasar ini sudah berubah menjadi pasar modern, dengan bangunan permanen yang begitu kokoh. Ah ... ternyata waktu begitu cepat berlalu.


* Sayur ... sayur ... sayur ... Di beli .. Di beli yok di beli ...


Suara para pedagang, menjajakan dagangan nya.


* ikan segar .. ikan segar ..


* Daster nya bu ibu .. Daster nya ... 100 dapat 3 yok jangan sampai kehabisan ...


Uhh ... ramai sekali gumamku. Hal inilah yang selalu aku rindukan jika pulang ke rumah.


Lalu bunda berjalan kearah penjual ikan segar. Nampak nya, bunda sedang memilih-milih ikan apa yang akan di belinya untuk lauk hari ini.


" Lele sekilo berapa buk?" tanya bunda kepada pedagang tersebut.


" 25 buk." jawabnya


" Lah mahal banget buk."


" Dari sana nya udah mahal buk, Saya gak nernak sendiri soal nya." kata pedadang itu. " Murah lo buk, 25 sudah saya bersihkan." ujarnya setengah membujuk.


" Ya udah deh, saya mau sekilo ya."


Pedagang itu mengangguk.


Sambil menunggu ikan di bersihkan,bkedua mataku jelalatan kesana kemari, kemudian aku melihat seorang pedagang yang sedang menjual kue tradisional khas jajanan pasar.


" Bunda, aku mau itu." ujarku pada bunda seperti anak kecil. Yah ... aku memang seperti ini. Sudah besar dan punya seorang adik, tapi sifatku tak berubah, masih manja. Maklum saja, aku anak gadis seorang, karena adikku laki-laki.


" Ya udah sana, punya duit gak kamu?" tanya bunda.


Aku menggeleng seraya menyengir kuda.


" Duit nya udah abis buat setoran motor." kataku.

__ADS_1


Hehe alhamdulillah, semenjak aku kerja, uang gajiku di pergunakan untuk kredit motor. Lumayan lah, dengan angsuran tujuh ratus ribu perbulan, tidak begitu membebani aku. Motor matic yang dulu kupergunakan untuk kuliah, kini di pakai bunda.


" Ya ... udah ini beli." kata bunda seraya mengambil uang sepuluh ribu dari dalam dompet hitam kesayangan nya. Ngomong-ngomong dompet itu hadiah ulang tahun dari Ayah, romantis sekali ya hehe.


" Terimakasih, bunda cantik." balasku memuji.


Kemudian aku melangkah ke arah penjual kue tradiosanal itu, dan membeli beberapa jenis kue kesukaanku.


Setelah dirasa belanjaan nya yang di beli sudah cukup, bunda mengajakku pulang.


***


Besok adalah hari pertama puasa. Semua umat muslim menyambut dengan gembira, karena datangnya bulan yang penuh berkah itu. Tak terkecuali bunda, yang nampak sibuk memasak untuk di bagikan ke tetangga, kalau kata bunda ini namanya rantangan. Tradisi, yang sudah di jalani secara turun temurun. Aku sih tidak tau, maksud nya apa sampai bisa menjadi tradisi turun temurun, namun nilai positif yang dapat di ambil ialah berbagi terhadap sesama.


Sore itu bunda memasak opor ayam, lele goreng, dan juga sayur tumisan kacang di campur tempe, wah ... tradisional sekali ya.


Setelah selesai, bunda menyuruhku untuk mengantarkan nya kepada para tetangga dekat rumah dan orang yg sudah lanjut usia, seperti nenek-nenek ataupun kakek-kakek, yang sudah tidak berpenghasilan. Aku sangat bangga sekali dengan bunda.


" Sani, ini anterin ke rumah nek Romlah ya, dan yang ini ke rumah wak Salam." ujar bunda seraya memberiku dua rantang yang sudah terisi penuh dengan nasi beserta lauk pauk nya.


" Kamu masih ingat kan rumah nya?"


" Masih lah, aku kan belum pikun." jawabku.


" Ya udah sana, nanti keburu magrib."


Aku pun bergegas menuju motor yang sudah terparkir di depan rumah.


" Hati-hati, jangan sampai tumpah." ujar bunda memperingatkan.


Kemudian motor matic berwarna biru ini mulai kulajukan, menuju rumah-rumah, orang yang di maksudkan bunda tadi. Setibanya di rumah nek Romlah, aku di sambut hangat oleh beliau dan juga anak nya yangvkala itu sedang duduk di teras rumah bersama anak nya yang masih bayi.


Mereka tersenyum ke arahku.


" Ada apa?" tanya ibu-ibu yg berumur sekitar emat puluh 3 tahunan, ia adalah anak nek Romlah, yang kumaksudkan tadi.


" Ini buk, ada hantaran dari bunda."

__ADS_1


Ibu itupun berdiri dan menyambut rantang yang kuberikan. Nek Romlah tersenyum, memamerkan gigi nya yang tinggal dua.


" Ohh makasih ya." kata ibu itu.


" Eh ... ini bunda Asti kan? Yang depan rumah nya, ada pohon sawo nya itu." tanya ibu tersebut.


" Hehe ... iya, buk Asti istrinya pak Edi." balasku.


" Owalah ... kamu anak nya to?"


" Hehe, iya."


" Sudah besar ya, udah lama gk keliatan, Katanya kuliah ya?"


" Iya buk, tapi udah lulus sekarang."


" Wahh udah sarjana, kerja atau gimana sekarang?"


Duhh ingin tau sekali, batinku.


" Iya bu, kerja."


" Belum nikah to."


Aku tersenyum " Belum buk, baru lulus mau kerja dulu."


" Ow gitu ... Sebentar ya, saya bereskan dulu ini rantang nya."


Lalu ibu itu masuk kedalam rumah dan aku masih menunggu di teras.


" Masuk sini nduk." kata nek Romlah.


" Hehe, iya nek."


Selang beberapa saat,anak nek Romlah sudah keluar dan memberikan rantang tersebut. Kemudian aku pamit, karena mau menghantarkan rantang satu lagi ke rumah wak Salam.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2