
Sejak kemarin, Rendi tidak menghubungiku. Ada apa ya? Tumben. Lalu, aku memutuskan untuk menghubunginya lebih dulu. Kukirim whatsapp padanya, sembari menanyakan kabar.
" Rendi? apa kabar?"
Namun hingga lima menit pesanku belum juga di balasnya. Mungkin dia sibuk, pikirku. Aku tidak mau lagi berpikir yang macam-macam tentang Rendi, aku mempercayai dia sepenuhnya.
* zzztttt
Hp ku bergetar. Saat ku lihat, ternyata Rendi, dia membalas pesanku.
" Iya sayang, aku baik. Maaf, belum kasih kabar." balasnya.
" Iya gak papa, kamu sibuk ya?" tanyaku lagi.
" Adikku masuk rumah sakit."
" Dari kapan?" tanyaku penasaran.
" Kemarin, Sakit tifus, ini aku lagi di rumah sakit." ujar Rendi menjelaskan. Aku memahami situasi yang sedang di alami Rendi.
" Ya Allah, semoga lekas sembuh ya." balasku.
" Iya sayang, makasih ya."
Aku terhenyak. Bukan hanya memikirkan adik Rendi yang sedang sakit, tapi juga memikirkan hubungan kami, yang belum ada kepastian. Meskipun aku pribadi, belum ingin menikah, karena masih ingin menikmati hasil kerjaku sendiri. Tapi, aku juga memikirkan hal ini, tidak mungkin aku akan seperti ini terus dengan Rendi. Menjalani hubungan tanpa ada kepastian, sedangkan hubungan ini sudah kami jalani selama tiga tahun lebih, itu artinya usiaku dan Rendi sudah memasuki dua lima. Hanya berbeda dua bulan saja.
Tak terasa air mataku mengalir membasahi pipi. Saat kudengar sebuah lagu yang di kirim Rendi beberapa waktu lalu, berjudul " Cinta Beda Agama, yang di nyanyikan oleh Vicky Aditya Salamor". Makna dari lirik lagu ini begitu dalam aku rasakan:
* Sekarang dan selamanya
Beta yakin cuma ale
Yang terbaik
Paling terbaik
Cinta su di tengah jalan
Seng mungkin beta akhiri
Hubungan ini
Nona jantong hati
Tapi beta tetap cinta
Walau beda agama
Terserah dong semua
Mo bilang apa di balakang
Beta seng paduli
__ADS_1
Beta tetap cinta
Nona par beta se anugerah
Dari Yang Kuasa
Percaya beda keyakinan
Tapi se takdir for beta
Doa par nona tulus suci
Mau sehidup semati
Katong pung cinta
Satukan perbedaan
Sekarang dan selamanya
Beta yakin cuma ale
Yang terbaik
Paling terbaik
Cinta su di tengah jalan
Seng mungkin beta akhiri
Hubungan ini
Nona jantong hati
Tapi beta tetap cinta
Walau beda agama
Terserah dong semua
Mo bilang apa di balakang
Beta seng paduli
Beta tetap cinta*
Aku terus menangis ketika mendengarkan lagu ini. Aku tau tidak ada yang salah dengan cinta, karena itu sebuah anugerah. Namun kesalahan yang aku lakukan ialah tetap melanjutkan hubungan ini, meskipun aku tau itu, akan sulit untuk dijalani.
* Tringg ... tringgg
Hpku berdering, aku menyeka air mata ini yang tak mau berhenti mengalir.
" Hallo." jawabku dengan suara sendu.
__ADS_1
" Saniiii!! " pekik nya dari telfon. Ya dia adalah Ita, sahabat lamaku. Hari ini aku memang akan kembali ke kota, tempat aku bekerja, selain itu aku juga ingin bertemu dengan Ita, sudah lama sekali kami tak jumpa, tepat nya setelah aku lulus dan pindah dari kosan lama.
" Iya, gimana?" tanyaku.
" Kapan kamu kesini? "
" Hari ini, nanti abis dzuhur."
" Buru ya, mumpung aku disini." katanya.
" Hehe oke nona manis, tunggu aku." jawabku. Lalu panggilan telfon itu berakhir.
Aku dan Ita memang masih berkomunikasi dengan baik, meskipun sekarang kami tak lagi tingga satu atap. Ah ... aku jadi rindu dengan nya, gadis periang yang begitu bawel namun baik hati.
" Sani, barang yg mau dibawa udah bunda simpen di motor ya.." kata bunda. Yah begitulah bundaku, setiap aku pulang kerumah dan akan kembali ke kota, selalu ada saja hal-hal yang di bawakan bunda untukku. Seperti bumbu dapur dan juga perlengkapan lainnya,biar lebih hemat katanya.
" Oke siap bunda, makasih."
Aku pun bergegas mengambil handuk dan segera mandi, karena sebentar lagi aku akan berangkat ke kota dan kembali bekerja seperti biasa.
***
Sekitar pukul tiga sore aku sudah tiba di kota, tempat dimana aku mengenyam pendidikan, dan sekarang aku kembali lagi ke kota ini, bukan untuk kuliah melainkan untuk bekerja. Sudah hampir dua tahun ini aku tinggal disini untuk bekerja. Kadang terlintas dalam benakku, kenangan-kenangan itu saat aku masih bersama-sama teman kuliahku, kini mereka semua sudah jauh mengejar cita-cita.
Setiba nya di kosan, aku langsung merebahkan tubuhku di atas kasur yang sudah 2 hari tidak aku tempati.
* zzzttttt
Aku merasakan hpku bergetar, kulihat ada sebuah notifikasi whatsapp dari nomor yang tak dikenal, dia mengirimku sebuah pesan.
[ Hallo .... Selamat sore, nak Sani, ini mama nya Rendi.]
Mataku terbelalak membaca pesan dari seseorang yang mengaku sebagai mama Rendi.
[ Iya selamat sore bu, bagaimana bu?] balasku dengan sopan.
[ Apa betul, nak Sani berpacaran dengan Rendi?]
[ Iya betul bu.]
[ Begini ya nak Sani, saya mau langsung ke topik tujuan saja, biar tidak buang-buang waktu. Saya mohon, mulai sekarang, nak Sani jauhi Rendi, saya minta tolong.]
Membaca balasan pesan tersebut, dadaku terasa begitu sesak, air mataku tertahan. Tapi, aku tetap berusaha untuk tenang.
[ Memang kenapa ya bu?]
[ Saya hanya tidak mau, ada seseorang yang mempengaruhi anak saya. Biarlah semua sudah cukup, carilah pasangan yang seiman denganmu saja. Jadi saya minta, sudahi semua nya dengan Rendi. Seandainya orang tua mu pun tau, pasti mereka akan melakukan hal yang sama] balasnya lagi.
Ya Tuhan ... Aku menghempas nafasku sekuatnya, dadaku semakin terasa sesak seperti terhimpit, bulir air mata mulai jatuh membasahi pipi.
[ Baik bu, terimakasih.]
Hanya itu yang mampu kutulis. Selanjutnya, nomor tersebut nampak memblokirku.
__ADS_1
Aku merasa, seperti berada di ruang yang kosong dan hampa. Segala ketakutanku, akhirnya terbukti hari ini. Berulang kali aku menarik nafas dalam-dalam, lalu menghempasnya, bersamaan dengan rasa sakit hatiku yang menjalar sampai ke seluruh tubuh. Hanya tatapan nanar dan kosong, tak kuasa lagi aku membendung air mata, kini bulir itu mengalir semakin deras.
Bersambung....