Cinta Tapi Beda

Cinta Tapi Beda
Episode Lima Belas


__ADS_3

Sejak kemarin, Rendi tidak menghubungiku. Ada apa ya? Tumben. Lalu, aku memutuskan untuk menghubunginya lebih dulu. Kukirim whatsapp padanya, sembari menanyakan kabar.


" Rendi? apa kabar?"


Namun hingga lima menit pesanku belum juga di balasnya. Mungkin dia sibuk, pikirku. Aku tidak mau lagi berpikir yang macam-macam tentang Rendi, aku mempercayai dia sepenuhnya.


* zzztttt


Hp ku bergetar. Saat ku lihat, ternyata Rendi, dia membalas pesanku.


" Iya sayang, aku baik. Maaf, belum kasih kabar." balasnya.


" Iya gak papa, kamu sibuk ya?" tanyaku lagi.


" Adikku masuk rumah sakit."


" Dari kapan?" tanyaku penasaran.


" Kemarin, Sakit tifus, ini aku lagi di rumah sakit." ujar Rendi menjelaskan. Aku memahami situasi yang sedang di alami Rendi.


" Ya Allah, semoga lekas sembuh ya." balasku.


" Iya sayang, makasih ya."


Aku terhenyak. Bukan hanya memikirkan adik Rendi yang sedang sakit, tapi juga memikirkan hubungan kami, yang belum ada kepastian. Meskipun aku pribadi, belum ingin menikah, karena masih ingin menikmati hasil kerjaku sendiri. Tapi, aku juga memikirkan hal ini, tidak mungkin aku akan seperti ini terus dengan Rendi. Menjalani hubungan tanpa ada kepastian, sedangkan hubungan ini sudah kami jalani selama tiga tahun lebih, itu artinya usiaku dan Rendi sudah memasuki dua lima. Hanya berbeda dua bulan saja.


Tak terasa air mataku mengalir membasahi pipi. Saat kudengar sebuah lagu yang di kirim Rendi beberapa waktu lalu, berjudul " Cinta Beda Agama, yang di nyanyikan oleh Vicky Aditya Salamor". Makna dari lirik lagu ini begitu dalam aku rasakan:


* Sekarang dan selamanya


Beta yakin cuma ale


Yang terbaik


Paling terbaik


Cinta su di tengah jalan


Seng mungkin beta akhiri


Hubungan ini


Nona jantong hati


Tapi beta tetap cinta


Walau beda agama


Terserah dong semua


Mo bilang apa di balakang


Beta seng paduli

__ADS_1


Beta tetap cinta


Nona par beta se anugerah


Dari Yang Kuasa


Percaya beda keyakinan


Tapi se takdir for beta


Doa par nona tulus suci


Mau sehidup semati


Katong pung cinta


Satukan perbedaan


Sekarang dan selamanya


Beta yakin cuma ale


Yang terbaik


Paling terbaik


Cinta su di tengah jalan


Seng mungkin beta akhiri


Hubungan ini


Nona jantong hati


Tapi beta tetap cinta


Walau beda agama


Terserah dong semua


Mo bilang apa di balakang


Beta seng paduli


Beta tetap cinta*


Aku terus menangis ketika mendengarkan lagu ini. Aku tau tidak ada yang salah dengan cinta, karena itu sebuah anugerah. Namun kesalahan yang aku lakukan ialah tetap melanjutkan hubungan ini, meskipun aku tau itu, akan sulit untuk dijalani.


* Tringg ... tringgg


Hpku berdering, aku menyeka air mata ini yang tak mau berhenti mengalir.


" Hallo." jawabku dengan suara sendu.

__ADS_1


" Saniiii!! " pekik nya dari telfon. Ya dia adalah Ita, sahabat lamaku. Hari ini aku memang akan kembali ke kota, tempat aku bekerja, selain itu aku juga ingin bertemu dengan Ita, sudah lama sekali kami tak jumpa, tepat nya setelah aku lulus dan pindah dari kosan lama.


" Iya, gimana?" tanyaku.


" Kapan kamu kesini? "


" Hari ini, nanti abis dzuhur."


" Buru ya, mumpung aku disini." katanya.


" Hehe oke nona manis, tunggu aku." jawabku. Lalu panggilan telfon itu berakhir.


Aku dan Ita memang masih berkomunikasi dengan baik, meskipun sekarang kami tak lagi tingga satu atap. Ah ... aku jadi rindu dengan nya, gadis periang yang begitu bawel namun baik hati.


" Sani, barang yg mau dibawa udah bunda simpen di motor ya.." kata bunda. Yah begitulah bundaku, setiap aku pulang kerumah dan akan kembali ke kota, selalu ada saja hal-hal yang di bawakan bunda untukku. Seperti bumbu dapur dan juga perlengkapan lainnya,biar lebih hemat katanya.


" Oke siap bunda, makasih."


Aku pun bergegas mengambil handuk dan segera mandi, karena sebentar lagi aku akan berangkat ke kota dan kembali bekerja seperti biasa.


***


Sekitar pukul tiga sore aku sudah tiba di kota, tempat dimana aku mengenyam pendidikan, dan sekarang aku kembali lagi ke kota ini, bukan untuk kuliah melainkan untuk bekerja. Sudah hampir dua tahun ini aku tinggal disini untuk bekerja. Kadang terlintas dalam benakku, kenangan-kenangan itu saat aku masih bersama-sama teman kuliahku, kini mereka semua sudah jauh mengejar cita-cita.


Setiba nya di kosan, aku langsung merebahkan tubuhku di atas kasur yang sudah 2 hari tidak aku tempati.


* zzzttttt


Aku merasakan hpku bergetar, kulihat ada sebuah notifikasi whatsapp dari nomor yang tak dikenal, dia mengirimku sebuah pesan.


[ Hallo .... Selamat sore, nak Sani, ini mama nya Rendi.]


Mataku terbelalak membaca pesan dari seseorang yang mengaku sebagai mama Rendi.


[ Iya selamat sore bu, bagaimana bu?] balasku dengan sopan.


[ Apa betul, nak Sani berpacaran dengan Rendi?]


[ Iya betul bu.]


[ Begini ya nak Sani, saya mau langsung ke topik tujuan saja, biar tidak buang-buang waktu. Saya mohon, mulai sekarang, nak Sani jauhi Rendi, saya minta tolong.]


Membaca balasan pesan tersebut, dadaku terasa begitu sesak, air mataku tertahan. Tapi, aku tetap berusaha untuk tenang.


[ Memang kenapa ya bu?]


[ Saya hanya tidak mau, ada seseorang yang mempengaruhi anak saya. Biarlah semua sudah cukup, carilah pasangan yang seiman denganmu saja. Jadi saya minta, sudahi semua nya dengan Rendi. Seandainya orang tua mu pun tau, pasti mereka akan melakukan hal yang sama] balasnya lagi.


Ya Tuhan ... Aku menghempas nafasku sekuatnya, dadaku semakin terasa sesak seperti terhimpit, bulir air mata mulai jatuh membasahi pipi.


[ Baik bu, terimakasih.]


Hanya itu yang mampu kutulis. Selanjutnya, nomor tersebut nampak memblokirku.

__ADS_1


Aku merasa, seperti berada di ruang yang kosong dan hampa. Segala ketakutanku, akhirnya terbukti hari ini. Berulang kali aku menarik nafas dalam-dalam, lalu menghempasnya, bersamaan dengan rasa sakit hatiku yang menjalar sampai ke seluruh tubuh. Hanya tatapan nanar dan kosong, tak kuasa lagi aku membendung air mata, kini bulir itu mengalir semakin deras.


Bersambung....


__ADS_2