Cinta Tapi Beda

Cinta Tapi Beda
Episode Enam


__ADS_3

Selang berapa lama, Rendi nampak menutup sambungan telfon nya dan meletakkan kembali diatas meja.


" Kenapa?" tanyaku


" Ini temen ku nelfon, nanya kunci kosant mau pinjam laptop " terangnya.


Aku mengangguk.


" Oh ya, tadi mau ngomong apa?"


Sejenak ia terdiam, sepertinya Rendi bimbang.


" Gak papa, gak jadi, Besok-besok ajalah " katanya. Mungkin Rendi kesal karena pembicaraan nya denganku harus terpotong sebab mendapat telfon dari teman nya.


Mendengar penuturan Rendi sejujurnya aku agak kecewa, betapa tidak aku benar-benar penasaran pada apa yang akan di katakan Rendi. Tapi aku juga tak mungkin memaksanya untuk melanjutkan pembicaraan yang tadi.


" Ya udah, pulang yuk, Udah malam " ajaknya lalu beranjak dari tempat duduk, di ikuti pula denganku.


Setelah membayar, kami berdua pun pergi meninggalkan caffe tersebut. Dalam perjalanan kami berdua hanya diam tak seperti saat berangkat. Hembusan angin malam mulai membuatku dingin, aku mendekap tubuhku sendiri dengan kedua tangan sedangkan Rendi semakin fokus dengan jalanan yang masih ramai, ia mempercepat laju kendaraan nya.


Entah apa yang ada di dalam benak Rendi kala itu, yang pasti dia hanya diam tanpa bergeming sedikitpun. Dan aku memberanikan diri untuk bertanya.


" Kamu kenapa?" tanyaku


" Apa?" balas Rendi tak mendengar.


" Kamu kenapa?" tanyaku lagi dengan suara agak keras tepat di telinganya.


" Oh, Gak papa."


" Yakin?"


" Iya, Aku gak papa kok "


Motor yang dikendarai nya terus melaju menyusuri jalanan aspal yang halus menghitam, melewati pohon-pohon yang rindang.


***


" Ita? " panggilku seraya mengetuk pintu kamar.


"Eh iya, bentar "


Kemudian pintu kamar kost terbuka. Ita berdiri dengan selimut yang melilit tubuh nya.


" Udah pulang nona manis? Cie yang abis jalan " Ledek Ita padaku. Aku nyengir kuda mendengar ucapan Ita.


" Gak malam mingguan kamu?" tanyaku pada Ita. Dia hanya menggeleng.


" Tumben, Doni gak ngajak keluar?"


" Udah putus " jawabnya sedih.


Aku kaget mendengar pengakuan Ita. Setauku Ita dan Doni sudah berpacaran cukup lama, sekitar tiga tahun. Jadi saat aku mendengar pengakuan Ita, aku kurang percaya.

__ADS_1


" Heleh bohong kamu tu, Palingan cuma berantem ntar juga balik lagi, kayak yang udah-udah " ujarku sambil menggantungkan tas kecil yang tadi kupakai, di gantungan paku.


" Doni selingkuh " suara Ita parau. Lalu ku dekati Ita yang sedang menutup wajah nya dengan bantal, aku tau dia sedang menahan tangis.


" Sabar ya " Aku mengusap punggung nya, hanya itu yang bisa kulakukan untuk teman baikku ini. Aku tidak tau harus bicara apa, namun yang jelas aku turut merasakan kesedihan apa yang sedang Ita rasakan saat ini.


" Udah jangan sedih lagi ya " ucapku mencoba menenangkan Ita.


" Iya San, gak nyangka aja dia sejahat itu sama aku, bayangin waktu 3 tahun bukanlah waktu yg sebentar "


" Iya aku paham kok "


" Gimana kamu sama Rendi?" Tanya Ita seraya menyeka air matanya.


" Gak gimana-gimana "


" Katanya mau cerita bahagia, Apa?"


Sejenak aku tertegun memandangi wajah Ita. Aku merasa sangat beruntung mempunyai teman yang begitu baik seperti dirinya.


" Gak kok, ya cuma seneng aja bisa jalan sama dia " balasku kemudian membaringkan tubuh diatas kasur.


" Rendi itu kayak nya orang baik ya "


" Iya baik " ucapku lirih.


" Ada masalah?" tanya Ita setelah memperhatikan wajahku. Mungkin dia menangkap gelagat yang kurang baik dari wajahku.


" Gak ada "


" Sialan!! Udah ah, aku mau cuci muka dulu, Banyak debu shayy "


Aku pun kemudian bangun dan berjalan menuju arah kamar mandi.


***


Malam semakin larut, aku melirik Ita disampingku yang sudah tertidur dengan pulas, mungkin dia sudah bermimpi keliling dunia. Sedangkan aku? Hingga pukul 12 malam pun aku belum bisa tidur. Sejak pulang tadi, Rendi belum juga mengabariku. Aku ini siapa? Kenapa jadi menunggu kabar darinya, aneh sekali gumamku.


Aku meletakkan ponselku di atas meja. Sebisa mungkin kupejamkan mata ini yang belum mengantuk juga, untunglah besok hari minggu jadi aku bisa bangun agak siang. Anak kost-kosant memang kebanyakan seperti ini, memanfaatkan hari libur untuk bermalas-malasan karena tak ada yang memarahi kalau bangun kesiangan seperti yang sering kulakukan. Sampai terkadang aku tidak menjalankan ibadah sholat subuh. Astagfirulloh aku, jangan di tiru ya teman-teman.


Saat mata sudah mau terpejam, ponselku bergetar sebanyak dua kali. Sial! Umpatku dalam hati, ganggu orang tidur saja.


Lalu aku meraih ponsel ku dan melihat siapa yang mengirim whatsapp.


Seketika hatiku gembira riang tak terkira dan kedua mata ini semakin segar saja,setelah kudapati ternyata Rendi lah yang mengirim whatsapp.


" Sani, udah tidur ya? Makasih ya untuk malam ini " isi whatsapp pertama.


" Selamat tidur Sani, semoga Tuhan menjagamu "isi whatsapp kedua.


Malam itu aku dibuat seperti orang gila yang senyum-senyum sendiri.


" Iya sama-sama Rendi, Selamat malam juga,selamat tidur " balasku disertai emotikon tersenyum. Terlihat alay, tapi ya sudahlah agar tidak terkesan datar saja.

__ADS_1


* zzttt..


Hp ku kembali bergetar.


" Eh belum tidur rupanya " balas Rendi.


" Iya belum, gak bisa tidur "


" Kenapa?"


" Gak tau juga nih "


" Makanya jangan mikirin aku terus dong, hahahaaa " balas Rendi yg hampir membuatku tertawa lepas.


" Pede banget jadi orang "


" Oh iya San sebener nya tadi tu aku mau ngomong penting, tapi keburu bete karena temen ku nelfon "


" Emang mau ngomong apasih?"


" Sebenernya aku mau ngomong ini tu tadi, tapi malah gitu, hhmm"


" Emang mau ngomong apa?" tanyaku kembali penasaran.


" Kalau aku ngomong sekarang, ntar di kira gak gentle " tutur nya.


Wah aku semakin deg deg kan dibuat nya.


" Emang mau ngomong apa sih? Bikin penasaran aja "


" Besok-besok ajalah kalau ketemu "


" Sekarang aja sih, rasa penasaranku udah nyampe ubun-ubun nih "


" Yakin mau sekarang, Tapi jangan ketawa ya apalagi meledek " balas Rendi.


" Iya enggak, Apaan sih memang nya?"


Setelah itu Rendi belum juga membalas whatsapp ku. Hampir 5 menit aku menunggu Rendi belum juga membalas. Ah mungkin dia sudah tidur pikirku.


* zzttt.


Hpku kembali bergetar. Isi pesan whatsapp itu cukup panjang,namun kali ini balasan dari Rendi benar-benar membuat perasaanku seperti di aduk-aduk, panas dingin rasanya.


" San maaf ya kalau aku ngomong nya lewat wa, sebener nya aku mau ngomong ini tadi, tapi aku udah keburu bete. Terus aku mau ngomong besok aja kalau kita ketemu, tapi kamu nya udah terlanjur penasaran. Ya udah deh sekalian aja, jangan ketawa ya.


San sejak aku ngeliat kamu di rumah tante Dwi, sejak itu aku mulai penasaran sama kamu. Waktu di acara itu sebener nya aku pengen banget nyapa kamu, tapi kayak nya kamu orang nya cuek jadi aku ragu. Terus setelah pulang dari situ, aku mulai cari tau kamu di facebook. Setauku nama mu Sani,jadi aku tulislah katalog Sani. Yang namanya Sani muncul banyak banget, aku sampai pusing nyarinya. Eh akhirnya ketemu juga akun facebook mu. Oke aku persingkat aja ya, dari pada kamu nanti ngantuk baca wa ku. Setelah kenal kamu lebih jauh lagi,aku semakin tertarik sama kamu San. Mungkin lebih tepat nya aku suka sama kamu, dulu masih sekedar suka tapi setelah kita jalan beberapa kali dan puncak nya malam ini aku udah memantabkan hati. Aku suka sama kamu San, aku sayang sama kamu. Kalau kamu gimana ke aku?"


Merinding disko membaca whatsapp dari Rendi. Aku sangat bingung mau membalas apa.


Bersambung....


Nantikan cerita selanjutnya di Episode Tujuh.

__ADS_1


Terimakasih untuk teman-teman yang sudah membaca. Jangan lupa tinggalkan Komentar,Like dan Favorit untuk notifikasi selanjutnya, eeittsss jangan lupa vote nya juga ya 😊


__ADS_2