
Entah sudah berapa lama aku tertidur. Namun aku terbangun karena suara tante yang membangunkan ku. Dengan mata yang sedikit terbuka, aku mencoba melawan rasa kantukku ini.
" San, Sani, Bangun sholat ashar " ujar tante. Aku tidak begitu jelas mendengar suaranya, karena rasa kantukku ini benar-benar luar biasa, mungkin karena ada bumbu setan sehingga menyebabkan aku sangat sulit sekali untuk membuka mata. Sekuat yang kubisa aku mencoba bangun, kulirik jam di dinding pukul 15:40, itu artinya sudah hampir tiga jam aku tertidur.
" Ya tante " aku turun dari atas tempat tidur.
Dengan langkah gontai, kuputar anak kunci sebanyak dua kali. Kemudian aku berjalan ke arah dapur untuk menuju kamar mandi, terlihat tante sedang memberi makan kucing kesayangannya.
" Cuma sama Gepi, Om Hengki kemana?" tanyaku sambil mengikat rambutku yang berantakan seperti rambut singa.
" Lagi keluar cari arang " jawab tante
" Kemana? Jadi to nanti malem bakar jagung nya? "
" Gak tau,mungkin kerumah mas Iwan, Jadi kalau gak hujan "
Aku pun kemudian melangkah menuju kamar mandi yang hanya berjarak sepuluh langkah dari hadapanku. Setelah selesai wudhu dan melaksanakan sholat ashar, aku pun duduk dikursi belakang rumah sambil memainkan hp di tanganku. Sore ini aku tidak membantu tante memasak, karena kebetulan aku dan tante sudah memasak daging ayam tadi pagi sebelum kami berangkat ke kebun, jadi sore ini tinggal memanaskan saja.
Kembali ku buka facebook milikku, aku mendapati sebuah pesan masuk. Rendi Lukas mengirim pesan. Entah perasaan apa yang saat itu aku rasakan, antara senang,heran dan lain sebagainya.
" Hey" isi pesan di facebook itu. Dikirim sekitar 2 jam yang lalu.
Aku pun membalas dengan cuek, " Ya " balas ku singkat.
Sesaat aku melihat facebook Rendi aktif,hal itu terdapat balon hijau di sisi akun nya. sesaat pesanku pun telah dibacanya.
" Kamu Sani ya, keponakannya tante Dwi?" balasnya lagi.
" Ya, kenapa?"
" Aku Rendi, yang waktu itu ikut acara arisan di rumah tantemu, Ingat gak?" balas Rendi berusaha mengakrabkan diri.
Tapi aku masih saja menanggapi nya dengan sikap cuek, karena aku tak mau dinilai terlalu agresif atau apalah. Biasalah cewek, harus jual mahal hehe.
" Oh ya, ingat "
Kemudian facebook Rendi terlihat tidak aktif lagi, atau mungkin dia kecewa karena aku membalasnya terlalu cuek. Ah masa bodo pikirku, aku juga tidak kenal dia dan tak akan bertemu dia lagi, jadi aku tidak ingin mengambil pusing.
__ADS_1
Sekitar pukul 17:30 hujan deras turun. Om Hengki berdiri dibingkai pintu belakang sambil memandangi air bah yang jatuh dari atas genteng.
" Huhf! Gak jadi bakar jagung kalau kayak gini " ujar nya mendengus kesal.
" Mungkin nanti reda " balas tante
" Reda juga gak akan asik kalau buat bakar jagung, Becek! Huhff!!" Umpat Om Hengki dengan nada kesal.
" Ya udahlah mau gimana lagi, Hujan kan juga rahmat dan rezeki" jawab tante dengan bijak.
" Ya tapikan besok Sani udah pulang ke kosant nya "
Aku agak terharu mendengar jawaban om Hengki, dia begitu perduli padaku. Dia ingin memberi kesan yang baik pada liburanku dirumah nya kali ini. Tapi mau bagaimana lagi, kita juga tidak bisa menolak datangnya hujan bukan.
" Ya udahlah om, gak papa, Lain kali aja, Aku kan bisa kesini " kataku sambil menggendong Gepi.
Sore itu kami lalui hari dengan perasaan yang agak sedih, karena acara bakar jagung yang sudah direncakan pun harus gagal. Tapi tak mengapa, aku sangat senang bisa menghabiskan waktu liburan ku disini.
Keesokan hari nya. Aku mengemasi beberapa lembar pakaianku dan ku masukkan kedalam tas. Hari ini aku akan kembali ke kosant karna besok perkuliahanku sudah di mulai seperti biasa. Ada perasaan sedih, karena entah kapan lagi aku bisa kesini meskipun jarak antara tempatku berkuliah dan rumah tante tidak begitu jauh, namun aku jarang sekali punya waktu untuk bisa datang meskipun hanya sekedar main. Kesibukkanku dengan jadwal kuliah seakan menyita habis waktuku, apalagi saat ini aku sudah menginjak semester enam.
Mereka terlihat sedih saat aku sudah bersiap untuk berangkat. Terlihat om Hengki sedang mengeluarkan motor maticku dari dalam rumah nya.
" Hati-hati ya San " ujar tante memelukku sambil menahan tangis. Aku tau dia sangat sedih, karna setelah aku pergi, rumah ini akan kembali sepi seperti semula.
" Aku berangkat ya tante, oom "
"Iya, Sering-sering kesini ya" ucap Om Hengki.
" Insya Allah" jawabku tersenyum.
Kemudian aku menaiki jok motorku dan bersiap untuk berangkat. Tante melambaikan tangan nya. Kemudian aku mulai memacu motor maticku dan meninggalkan halaman rumah tante. Ahh liburan yang sebentar namun sangat berkesan bagiku.
***
Hari-hari terus berlalu. Sejak pesan singkat yang dikirim Rendi padaku waktu itu, kami pun sudah semakin akrab,bahkan kami berduapun sudah bertukar nomor whatsapp. Meskipun pada awal nya aku mengabaikan Rendi, namun pada akhirnya aku luluh juga dengan nya. Dan sekarang kami sudah berteman baik, bahkan sedikit banyak nya aku sudah mulai tau tentang Rendi. Ia adalah seorang mahasiswa jurusan Manajemen disalah satu kampus cukup bergengsi di Lampung,ternyata aku dan Rendi satu angkatan hanya berbeda kampus saja. Tapi jarak antara kampus ku dan kampus tempat Rendi kuliah juga tak begitu jauh. Hingga terkadang bila ada waktu, Rendi tak sungkan untuk datang mengunjungiku, sama seperti hal nya sore ini.
Hari itu sekitar pukul 4 sore aku baru saja pulang dari kuliah. Dengan mengendarai motor matic berwarna biru, aku berhenti disebuah pertamini yang tak jauh dari kampus dan berniat membeli bensin. Saat hendak mengambil dompet dari dalam tas,aku merasakan hp ku bergetar, lalu ku ambil nya. Sebuah panggilan telfon melalui whatsapp masuk di hp ku, dari Rendi. Ada apa? Pikirku. Segera ku angkat telfon tersebut.
" Hallo." kataku.
" Hallo San." sapa Rendi
__ADS_1
" Kenapa Ren?"
" Kamu dimana? Udah pulang kuliah belum?"
" Baru keluar kampus. Kenapa Ren?"
" Kamu dimana nya? Aku di dekat kampus mu ini?" kata Rendi.
Aku kaget mendengar jawabannya, aku celingukan kesana kemari untuk memastikan bahwa Rendi ada disekitar sini, tapi sial aku tidak melihatnya sama sekali.
" Kamu dimana nya sih?" kataku sambil terus memastikan keadaan sekitar.
" Di deket penjual somay"
Aku mulai menerka. Penjual somay? Ah berarti tidak begitu jauh dari tempatku berada. Ngapain dia kesini,pikir ku lagi.
" Oh aku lagi di pertamini beli bensin. 200 meter dari kampus" jawabku.
" Ya udah tunggu, aku kesana" ucap Rendi tidak begitu jelas karna banyak nya suara kendaraan yang melintas.
Beberapa saat kemudian,ku lihat seorang pemuda mengenakan helm berwarna putih, jam tangan, baju kemeja serta celana jeans hitam dan tak lupa tas hitam dipunggung nya, datang menghampiriku dengan mengendarai motor vixion. Aku sudah menduga bahwa pasti itu Rendi,kalian bisa membayangkan betapa keren nya Rendi saat itu. Setelah berhenti,ia membuka kaca helm nya lalu tersenyum padaku.
Aku yang sore itu sudah begitu lusuh,dengan wajah kusut memikirkan banyak tugas di tambah baru saja pulang dari kuliah, merasa tak PEDE saat bertemu dengan nya. Untung saja Rendi tidak langsung kabur saat melihat ku yang sudah sangat kusut dan berantakan sore itu. Dia tersenyum manis padaku dan aku mencoba membalas senyuman nya meskipun aku tau senyum ku tidak ada manis-manis nya sama sekali,whehe.
" Kenapa Ren?" tanyaku tanpa basa-basi.
" Gk papa, mau ketemu kamu aja." pungkas nya mulai mengeluarkan jurus jitu, tapi sayang tidak akan mempan buatku.
" Oh gitu. Tapi aku baru pulang kuliah. Udah begini lagi.." kataku merasa kurang PEDE. Rendi malah tertawa kecil.
" Ya gak papa lah. Kya mau ketemu presiden aja" banyol nya.
" Kamu dari mana Ren?"
" Baru pulang juga, terus jalan-jalan. Eh ke ingat sama kamu,jadi aku putuskan untuk kesini." tuturnya. aku pun mengangguk.
Lalu Rendi mengajakku pergi kesebuah tempat, ada yang ingin dibicarakan katanya. Kami berduapun pergi dengan mengendarai motor masing-masing.
Bersambung....
Nantikan cerita selanjutnya di Episode Empat.
__ADS_1
Terimakasih untuk teman-teman yang sudah membaca. Jangan lupa tinggalkan Komentar,Like dan Favorit untuk notifikasi selanjutnya, eeittsss jangan lupa vote nya juga ya 😊