Cinta Tapi Beda

Cinta Tapi Beda
Episode Duapuluh Tujuh


__ADS_3

" Udah di masukin tas semua barang-barang nya San?" tanya bunda.


" Udah bun."


Setelah tiga hari dirawat di Rumah Sakit, akhir nya Dokter sudah memperbolehkan aku pulang. Senang sekali rasanya, akhir nya aku pulang juga, bosan kalau harus berlama-lama di Rumah Sakit, tempat yang paling tidak ku sukai.


" Ya udah, yuk." Ajak bunda.


Masih ku amati layar ponselku, sampai hari ini sejak Rendi datang menjenguk, dia sama sekali belum menghubungiku lagi. Aku masih termenung, sambil menatap layar ponsel.


" San?" bunda menepuk pundakku, membuatku terperanjat.


" Eh ... iya bun."


" Ayo pulang, ayah udah nunggu di mobil." terang nya.


Aku mengangguk, lalu mengekor di belakang bunda. Sejujur nya hatiku sedih, karena Rendi belum juga memberi kabar.


Perjalanan cintaku dengan Rendi, terbilang cukup rumit. Sudah empat tahun kami berpacaran, namun belum pernah bertemu keluarga masing-masing. Justru kini, kami sedang berada disuatu masa, dimana hubungan kami ditentang oleh kedua orang tua kami, lantaran berbeda agama.


Memang, tak seharus nya aku menjalin hubungan dengan orang, yang sudah jelas berbeda keyakinan denganku. Tapi entah mengapa, semua itu kalah dengan rasa cintaku pada Rendi yang begitu besar.


Astagfirulloh - ucapku setelah sadar, bahwa aku memang sudah salah langkah, tak seharus nya aku berharap pada manusia, dan melebihkan cintaku padanya.


" Ada yang ketinggalan gak?" tanya ayah sambil maletakkan tas kedalam mobil.


" Gak yah." jawab ku menggeleng.


Lalu bunda dan ayah pun masuk kedalam mobil, begitu pun dengan aku. Mobil tua milik ayah mulai melaju meninggalkan parkiran Rumah Sakit.


Selama di perjalanan pulang, aku duduk sendiri di jok bagian tengah, pun terus melamun sambil menyandarkan kepala di kaca mobil. Pikiranku melayang jauh entah kemana, yang pasti saat ini aku sedang sangat kacau, bahkan Dokter bilang bahwa aku harus banyak istirahat dan tak perlu berpikir berat.


" San, kenapa?" bunda menoleh kearahku.


" Gak papa bun." balasku lesu.


" Jangan melamun terus." timpal ayah yang sedang menyetir.

__ADS_1


" Iya yah." jawabku.


" Bun, yah .... " panggilku kemudian.


Bunda menyahut, " Ya, kenapa?"


" Besok aku mau ke kosant."


" Mau ngapain?" tanya bunda.


" Mengambil barang-barang dan mengantar surat resign." jawabku.


Ya, akhir nya aku memilih untuk keluar dari pekerjaan ku, atas perintah bunda. Sepertinya bunda benar-benar tidak mau aku kembali kesana, kuatir jika aku masih disana, akan leluasa bertemu Rendi. Meskipun terasa berat, aku harus menurut.


Kini, semua aku pasrahkan kepada Allah, kalau memang Rendi jodohku, pasti Allah akan menyatukan kami dengan caranya.


" Ya udah, besok diantar Ical." pungkas bunda, aku mengangguk.


Mobil yang dikendarai ayah terus melaju, menyusuri jalanan aspal yang tampak ramai dengan lalu lalang kendaraan.


* PIP *


Sebuah notikasi pesan masuk di ponselku.


Sayangku - Rupanya itu dari Rendi, tentu saja aku sangat senang mendapat pesan singkat dari nya.


[ Selamat malam, gimana keadaan mu? ]


Tanpa menunggu lama, aku langsung membalas nya.


[ Baik, aku udah di rumah nih. ]


[ Oh ... syukurlah, San aku mau bicara sesuatu, boleh?]


[ Iya, bicara apa? ]


[ Menurut mu, gimana dengan hubungan kita?]

__ADS_1


[ Belum tau Ren, aku bingung, kalau menurut mu gimana? ]


[ Aku akan bertahan San ]


[ Maksud kamu Ren?]


[ Aku akan bertahan dengan hubungan ini, walau orang tua ku menentang. ]


[ Tapi Ren ] balasku kurang yakin.


[ Kenapa? San ... aku cinta sama kamu, aku sayang sama kamu, aku gak mau yang lain lagi, selain kamu.] Jawab Rendi mantab.


Setelah membaca pesan Rendi, aku sedikit bimbang. Haruskah aku seperti dia, yang juga membangkang dengan larangan orang tua? Ahh ... aku sangat bingung.


[ Tapi Ren, orang tua ku juga gak setuju.]


[ Aku akan berjuang San, aku akan memperjuangkan semua nya, sampai Tuhan yang menentukan.]


[ Aku bingung Ren, benar-benar bingung.]


[ Jangan bingung, kalau kamu gimana? ku harap kamu juga sama seperti aku.]


[ Kita jalani aja Ren ... ya udah, aku mau istirahat dulu.]


[ Iya selamat tidur, cepat sehat ya, I love you ]


[ Love you more ]


Percakapan melalui pesan singkat itu berakhir.


Jujur saja, aku sangat senang ternyata Rendi masih ingin memperjuangkan cinta kami. Tapi disatu sisi, aku merasa berdosa pada bunda dan ayah, karena membangkang perintah mereka untuk menyudahi hubunganku dengan Rendi.


Ahh ... apakaah cinta memang serumit ini?


Perlahan kedua mataku mulai terlelap dalam mimpi yang indah.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2