
Tenda besar untuk pesta pernikahan sudah berdiri di halaman rumah, demikian pula dekorasi untuk pengantin sudah dihias begitu cantik dan indah dengan kerlap-kerlip lampu serta bunga-bunga. Kata orang, hari pernikahan adalah hari yang paling ditunggu untuk sekali seumur hidup, hari dimana seorang laki-laki dan perempuan akan bersanding menjadi raja dan ratu satu hari. Hari pernikahan merupakan hari yang paling membahagiakan bagi setiap insan, karena sanak saudara berkumpul dengan suka cita. Tapi mengapa aku tak bisa merasakan itu semua? Aku justru menangis, berharap bahwa semua ini hanyalah mimpi yang akan hilang dikala aku terbangun.
Pagi sekali, sekitar pukul 06:00 wib, aku sudah bersiap-siap untuk dirias oleh sang make up artis. Hatiku hancur, sedih, ingin rasanya berlari dan pergi dari sini, tapi apalah dayaku yang hanya bisa berpasrah dengan takdir.
Sekitar hampir satu jam lebih, wajahku sudah selesai dirias dengan make up lengkap. Riasan jilbab yang menjuntai panjang dan mahkota yang menutup kepalaku, serta baju pengantin muslimah berwarna cream sudah ku pakai.
Ku patut diri didepan cermin, hari itu aku memang terlihat begitu cantik ditambah riasan hena yang menghias kedua tangan ku. Namun, tebal nya make up pengantin tak cukup mampu untuk menutupi wajahku yang sendu, dalam hati aku menangis, meratapi nasib ku yang harus menikah dengan pria yang sama sekali tidak aku cintai.
Aku masih duduk menunggu didalam kamar, sampai waktu ijab qabul tiba.
" Itu, pengantin laki-laki nya sudah datang." Ujar bibi ku.
Deg!
Hatiku seperti dihantam oleh benda besar. Sebentar lagi, status ku berubah menjadi seorang istri.
Ya Tuhan ... apakah aku siap? apakah aku kuat menerima semua ini.
" Sani, jangan deg-deg kan ya." Ucap bude padaku, ku balas dengan senyum hambar.
" Aduh, cantik sekali seperti bidadari." Puji bunda.
Sekitar pukul 9:00 wib pagi, acara di mulai. Sang pembawa acara mulai membacakan susunan acara, di lanjut dengan sambutan-sambutan dari pihak keluarga mempelai laki-laki, kemudian sambutan-sambutan pun terucap dari pihak keluarga perempuan.
__ADS_1
Kini, tibalah saat nya akad pernikahan. Ku kuat kan hati untuk melangkah saat pengiring pengantin perempuan menuntun ku menuju tempat akad pernikahan, yang di gelar di depan panggung hiburan.
" Bissmillah ... " Ucapku lirih sebelum melangkah keluar dari kamar.
Bunda menatap dengan raut sedih karena bahagia, " Anak bunda, selamat nak, semoga selalu bahagia." Ucap bunda sambil memegang pundakku. Aku berusaha tersenyum semanis mungkin.
Perlahan, kaki ku mulai melangkah menuju tenda. Disana, Arman dan kedua orang tua nya serta sanak saudara yang turut menghantar, sudah menanti kedatangan ku, yang hari itu sangat cantik kata mereka.
Aku duduk bersimpuh disamping Arman. Ayah sebagai wali nikah ku pun ada disana, beliau tersenyum, namun terlihat jelas kesedihan itu diwajah nya, karena sebentar lagi akan melepas anak perempuan satu-satu nya.
" Sani Maulida?" Tanya pak penghulu, aku mengangguk.
Kemudian pak penghulu pun mulai membacakan tata cara pelaksanaan ijab dan qabul.
" Asshadualla illahaillallah waasshaduanna muhammadarasulloh, saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan saya bersaksi bawa Muhammad utusan Allah." Ucap Arman dan aku secara bergantian.
Kini, saat nya akad dimulai. Wajah Arman terlihat tegang, namun yakin. Dalam hati aku terus berdoa, meminta keikhlasan atas hatiku untuk pernikahan ini, karena sebentar lagi Arman akan sah menjadi suamiku.
Ayah lah yang menikahkan ku secara langsung. Ayah dan Arman mulai berjabat tangan, kemudian akad pun dimulai.
" Saudara Arman Malik Efendi bin Riyan Efendi, Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan anak saya yang bernama Sania Maulida dengan maskawinnya berupa emas 10 gram dan seperangkat alat sholat, tunai." Ucap ayah dengan tegas, dan langsung dijawab oleh Armand dengan satu kali tarikan nafas.
" Saya terima nikahnya dan kawinnya Sania Maulida binti Ibrahim dengan maskawinnya yang tersebut, tunai." Jawab Arman tegas.
__ADS_1
" Bagaimana para saksi? sah?"
" Alhamdulillah sah ... " Jawab para saksi.
" Alhamdulillah .... " ucap kami semua bersamaan.
Aku mencium tangan Arman ta'zim, sebagai suamiku yang telah sah.
Tak terasa, air mata ku berlinang membasahi pipi. Karena mulai detik ini, aku sah menjadi istri nya Arman.
Setelah akad selesai, acara di lanjut dengan sungkem pengantin pada kedua orang tua, lalu makan-makan bersama keluarga besar dari kedua belah pihak.
Aku dan Arman pun duduk bersanding di pelaminan, sebagai pasangan suami istri yang sah.
*Jujur, aku masih tak menyangka, jika jalinan cintaku dan Rendi sudah benar-benar berakhir. Kami sama-sama telah menikah dengan orang lain, dengan jodoh pilihan Tuhan. Antara aku dan Rendi, kini semua hanya tinggal kenangan, kenangan yang mungkin akan sulit untuk dilupakan. Empat tahun kami bersama, merajut tali asmara, dalam canda dan tawa, sedih ataupun bahagia, menangis atau tertawa, semua sudah kami lalui bersama. Inilah jalan akhir nya, Rendi tercipta memang bukan untukku. Tapi, aku sama sekali tak pernah menyesal atas pertemuan ku dan Rendi, aku bersyukur, setidak nya Tuhan pernah mengirimkan sosok laki-laki baik seperti Rendi, walaupun pada akhirnya perpisahan lah yang terjadi.
Teruntuk Rendi, terimakasih sudah pernah hadir dalam hidupku, menghiasi hari-hariku, terimakasih telah mencintaiku. Kenangan ku bersama mu, mungkin tak akan pernah ku lupakan selama nya. Biarlah semua ini akan menjadi cerita untuk kita berdua, bahwa berbeda itu benar-benar indah*.
Berambung...
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Selamat ya untuk Sani dan Arman :)
__ADS_1