
Aku kembali tersadar dari diamku. Rasanya hampir tak percaya dengan semua ini.
Namun aku berusaha untuk mengendalikan diri, meskipun aku sebenarnya sangat senang dapat bertemu dia.
Ya! dia adalah Rendi, mantan pacarku. Orang yang masih sering aku pikirkan.
" Ada apa kamu kemari?" tanya ku.
" hhmm .... " dia nampak gugup sekali.
" Jadi, selama ini, kamu yang ngirim aku bingkisan?"
Rendi terlihat bingung mendengar ucapanku.
Ia justru balik bertanya, " Bingkisan?" ujar nya tak mengerti.
" Iya, semua bingkisan-bingkisan itu. Hadiah dari yang terkecil sampai yang terbesar, semua masih utuh ada di kamarku. Itu semua dari kamu kan?"
Ia mengernyitkan dahi, seperti nya Rendi semakin bingung. Atau mungkin dia sama sekali tak ada sangkut paut nya dengan semua hadiah-hadiah misterius itu?
Lalu kalau bukan Rendi, siapa?
" Aku gak ngerti San, maksud kamu apa? Hadiah apa?" tanya Rendi bingung.
" Loh, bukan nya kamu yang selama ini ngirim hadiah-hadiah itu Ren?" ungkapku tak kalah bingung.
Rendi menggeleng.
" Bukan San, atau mungkin orang lain yang kamu maksud." ujar Rendi kecewa.
Suasana menjadi hening seketika, kami berdua masih terdiam bak sebuah patung.
Sesaat kemudian ...
__ADS_1
" San?" panggil nya pelan.
Aku menatap wajah Rendi, kedua matanya nampak berbinar. Wajah ini yang selalu kurindukan setiap malam nya, tak ada yang berubah meskipun sudah lumayan lama tak jumpa. Rendi semakin tampan saja di mataku, dia terlihat lebih dewasa dan matang di usia nya yang sudah 25 tahun.
"Kenapa Ren? Ada apa kamu kemari?" tanyaku sendu.
Sebuah senandung rindu yang menggelora, di iringi dengan irama yang begitu syahdu. Kenanganku bersama Rendi selama ini tak akan mudah untuk di hapus begitu saja, aku jadi teringat bagaimana pertama kali kami bertemu hingga bisa dekat dan berpacaran. Sampai akhirnya semua harus berakhir seperti sekarang ini.
" Aku ... aku." ucap Rendi terbata-bata, ada keraguan dari nada bicaranya.
" Apa?"
" Aku rindu San." ucapnya membuat hatiku bersorak kegirangan.
Aku berusaha menutup rapat bibirku yang hampir saja mengembang karena tersenyum bahagia.
" Kamu sadar sama ucapan mu Ren?"
" Maaf San, aku masih belum bisa lupain kamu, maaf atas rasaku yang salah ini." ucapnya membuat suasana mengharu biru.
Aku tak kuasa dengan keadaan ini, hatiku begitu senang namun di sisi lain juga bimbang. Ah ... entah lah, aku tak tau.
" Apa kamu juga sama?" tanya dia.
Aku tak menjawab, tak banyak yang dapat kuutarakan padanya. Tapi seandainya Rendi tau, bahwa hatiku masih sama. Semua masih sama, aku masih mencintainya sama seperti dulu bahkan lebih. Tak ada yang bisa menggantikan dia dihatiku, aku hanya ingin Rendi saja. Andai semua perbedaan ini tak pernah ada di antara kami, pastilah aku dan Rendi akan semakin serius menjalani hubungan ini, seperti mimpi kami berdua dulu.
" San? Apa udah ada orang lain yang menggantikan aku?" Tanya Rendi cemas.
Wajah itu menunjukkan bahwa dia tak ingin mendengar jawaban yang mungkin saja akan semakin menyakiti hatinya.
Di sisi lain, aku pun semakin tak kuasa menahan kesedihan ini. Aku hanya menggeleng lalu kemudian menghambur kedalam pelukan nya. Ia nampak terkejut.
" Aku rindu Ren, sangat rindu." ucapku menangis sesenggukan. Rendi pun membalas pelukanku.
__ADS_1
Dunia seakan berhenti berputar seketika. Saat rindu ini sudah menemukan labuhan hatinya, darah mendesir kedalam jiwa. Anganku pun melayang bersama dengan rasa bahagia yang tak terkira.
" Apa kita masih bisa seperti dulu San?" tanya Rendi yang masih memelukku dengan erat.
Aku mendongakkan kepalaku ke atas, kini kedua mata kami saling beradu. Aku dapat menemukan ketulusan itu, dan Rendi tersenyum begitu manis padaku. Ah .... mabuk kepayang aku di buatnya.
" Apa semua masih bisa Ren?"
" Kamu takut dengan Mamaku?" tanya Rendi seraya tersenyum.
" Kamu udah tau?"
Dia mengangguk pelan.
" Karena itu lah aku sering kemari San." ujarnya memberitau. Aku begitu kaget mendengar penuturan nya.
" Kamu? Sering kesini?"
" Iya, aku rindu kamu San dan berharap bisa melihat kamu. Tapi soal hadiah yang kamu bilang tadi, aku benar-benar gak tau menau."
Ah Rendi .... Aku semakin erat memeluknya.
" Jadi, kita masih bisa kayak dulu kan San?"
" Tapi Mama mu?"
" Biar itu jadi urusan ku." terangnya dengan senyum ketulusan di wajah nya yang begitu teduh.
Aku hanya mengangguk tanda setuju.
Entahlah apa yang aku pikirkan saat itu, secepat itu aku mengiyakan ucapannya tanpa memperdulikan lagi ucapan Mama Rendi tempo lalu. Biarlah semua mengalir apadanya.
Bersambung....
__ADS_1